anak muda yang sangat cerdas yang karena
kecerdasannya ia diangkat menjadi penasihat istana. Setiap hari ia
mendulang pengetahuan dengan bergelut dengan buku. Rasa-rasanya hanya
bukulah satu-satunya sahabat bagi pemuda itu. Setiap perkara yang
menimpa kerajaan, penasihatlah yang akan mengurainya. Begitu terus
keadaannya. Selalu ada ide-ide cemerlang yang diungkapkannya. Hingga
suatu saat pada anak-anak muda yang ingin belajar padanya ia mengatakan,
“Kalian tidak salah pilih guru. Akulah guru yang tepat bagi kalian.
sudah terbukti bahwa akulah yang paling pinter di kerajaan ini.”
Beberapa
saat kemudian sang penasihat memperlihatkan kemampuannya berhitung.
Lelaki pendayung itu berdecak kagum. “Pak Tua, bisakah kamu berhitung
seperti aku?” Lelaki itu hanya menggelengkan kepala.
Mendengar tuturan sang penasihat itu, anak-anak muda itu hanya menganggukkan kepala. dalam hati mereka mengagumi sang penasihat.
Pada suatu senja yang dingin oleh rintik hujan, sang penasihat
bermaksud mengarungi sungai yang melingkari istana. Akhirnya, ia
berangkat bersama seorang lelaki tua pendayung perahu. Selama perjalanan
bermula keduanya saling diam. Pembicaraan baru terjadi ketika sang
penasihat mulai melukis. Rupa-rupanya ia bermaksud unjuk kemampuan di
hadapan pak tua. “Pak, dapatkah kamu melukis seperti yang aku lakukan?”
“Tuan, mohon maaf. Pekerjaan saya hanya mendayung perahu, saya tidak terbiasa menggoreskan kuas,” jawab lelaki itu.
“Sungguh malang benar nasibmu Pak Tua. Melukis menjadikan hatimu
menjadi lebih terasah. Jika kamu tidak menguasainya sama artinya kamu
kehilangan 2/5 hidupmu,” kata sang penasihat dengan angkuh. Lelaki
pendayung itu hanya terdiam. Wajahnya menunjukkan kesedihan.
“Sungguh malang benar nasibmu Pak Tua. Berhitung menjadikan akalmu
menjadi lebih tajam. Jika kamu tidak menguasainya sama artinya kamu
kehilangan 3/5 hidupmu,” kata sang penasihat sambil menyunggingkan
senyum menghina.
Kembali sang penasihat menunjukkan kemampuannya. Kali ini ia
menyebutkan setiap nama tanaman berserta kasiatnya yang tertanam di
tepian sungai. “Tolong dekatkan dengan daratan dan akan aku sebutkan
nama-nama tanaman beserta kasiatnya yang lebih banyak lagi!”
Lagi-lagi lelaki pendayung itu berdecak kagum. “apakah kau memiliki
kemampuan tentang tanaman seperti yang aku miliki?” Untuk kesekian kali
lelaki itu hanya terdiam sambil menggelengkan kepala. “Tidak Tuan, saya
sangat awam tentang itu.”
“Sungguh malang benar nasibmu Pak Tua. Jika kamu tidak menguasainya
sama artinya kamu kehilangan 4/5 hidupmu,” kata sang penasihat. Suara
tawanya terdengar menghina. Tiba-tiba ada sebuat batang kayu yang
melintang di depan perahu. Lelaki pendayung itu terperanjat, tapi
terlambat. Perahu itu menabraknya, oleng, dan sebuah lubang menganga di
perahu. Air mulai masuk ke dalam perahu. Lelaki Tua itu segera melombat
dan berenang ke tepian. Tiba-tiba wajah sang penasihat berubah pias.
“Tuan, dapatkah Anda berenang?” tanya Lelaki Tua itu.
“Tidak. Aku tidak bisa berenang,” kata sang penasihat, “Tapi aku
sangat tahu apa yang menyebabkan perahu ini menjadi oleng dan bocor. Ini
semua karena ulahmu yang tidak mampu menguasai perahu.”
“Sungguh malang benar nasibmu Tuan. Saya tidak memiliki kemampuan
Tuan sehingga saya kehilangan 4/5 hidup saya. Tapi kali ini saya
memiliki sisa 1/5 yang mampu menyelamatkan diri saya. Dan, hanya karena
Tuan tidak menguasai yang 1/5 milik saya, saya tidak tahu pasti akan
nasib hidup Tuan selanjutnya.”
Posting Komentar