I don’t know me anymore…
(Sidney Sheldon)
Saya mengutip kata seorang tokoh fiktif
ciptaan Sidney Sheldon ini untuk mengawali sebuah tulisan tentang
bagaimana seorang pemimpin yang tadinya hangat, yang tadinya penuh
semangat, yang tadinya inspiratif, ‘tiba-tiba’ nampak tersesat. Mereka
berubah menjadi pribadi yang sulit didekati, bertindak dengan cara yang
tidak sehat atau bahkan koruptif, serta melupakan nilai-nilai yang dulu
pernah mereka pegang teguh. Mereka menjadi orang yang sama sekali
berbeda. Mereka tidak lagi pribadi yang mampu dikenali oleh koleganya,
tidak juga oleh rekan kerjanya, pun tidak oleh keluarganya, dan bahkan
tidak oleh dirinya sendiri.
Pada artikel ini, pointer awal akan menguraikan beda yang sangat
mencolok antara pemimpin hebat berkecerdasan emosional yang mampu
memancarkan energi positif pada lingkungannya (resonance) dan pemimpin
yang tidak (dissonance) . Kemudian, dilanjutkan dengan penjelasan
tentang bagaimana disonansi adalah sesuatu yang ‘default’ dan betapa
mudahnya, bahkan bagi para pemimpin yang tadinya resonan, terpeleset
dalam disonansi serta menyeret orang di sekitar mereka dalam pusaran
arus yang sama. Menelisik aspek fisiologis dari neuro-endokrin yang
berefek pada suasana hati, perasaan, persepsi, dan prilaku seorang
pemimpin. Lalu, penjelasan tentang bagaimana pemimpin yang telah
tersesat mampu menyadari ketersesatannya, kemudian tercerahkan dan
menjadi pemimpin yang jauh lebih hebat melalui mindfullness, hope dan
compassion.
Resonance or Dissonance : Examples From Leaders…
Pada poin ini kita akan berkenalan dengan sosok dua orang pemimpin
yang menggambarkan dengan jelas bagaimana pemimpin yang memancarkan
energi positif (resonance) dan pemimpin yang sebaliknya (dissonance).
Keduanya dikutip dari buku Primal Leadership.
Pertama, mari berkenalan dengan Joe Torre. Ia adalah manajer klub
bisbol, New York Yankee . Joe, begitu rekan-rekannya biasa menyebut,
terkenal sebagai hati dan jiwa dari klub ini. Joe dikenal sebagai sosok
yang tenang, lembut, pengasih serta kebapakan. Hal ini, merupakan sebuah
anomali, mengingat lingkungan kerja Joe yang terdiri dari orang-orang
yang terkenal berwatak keras. Dia juga seorang pemimpin yang penuh
kasih. Ia akan membela pemain sedang menurun prestasinya, jika ia tahu
bahwa pemain ini sedang mengalami badai dalam rumah tangga atau
sebab-sebab lain bisa dipertanggungjawabkan. Joe juga pribadi yang
hangat dan terbuka, sebuah ciri khas yang terpancar darinya. Joe
mengamalkan espirt de corps dalam tindakan-tindakan nyata. Gaya
kepemimpinan ini memberikan dampak luar biasa pada iklim organisasi dan
berkontribusi positif pada prestasi timnya. Joe memberikan pujian secara
terbuka pada mereka yang layak mendapatkannya, dan memberikan
peringatan secara pribadi pada mereka yang bermasalah. Joe juga
memberikan kesempatan pada anak buahnya untuk tumbuh dan berkembang
dengan gaya fasilitatif. Joe melibatkan seluruh tim untuk membuat
pernyataan visi, mendefinisikan misi, menetapkan standar pencapaian
sehingga setiap anggota tim tahu secara pasti kontribusinya untuk
kemajuan organisasi. Ini adalah sebuah kombinasi yang sempurna hingga
Bronx Bombers mampu mencapai puncak kejayaan dan melegenda dalam sejarah
bisbol dunia.
Kemudian, bandingkan dengan Al Dunlap. Ia terkenal sebagai mantan CEO
Scott Paper. Awalnya, Dunlap dianggap memiliki talenta ajaib karena
telah merubah kondisi Scott Paper secara dramatis. Menyelamatkan
perusahaan ini dari jurang kebangkrutan. Gaya kepemimpinannya melibatkan
efisiensi besar-besaran. Namun gaya kepemimpinannya tidak diimbangi
dengan gaya yang lebih interpersonal, yaitu penghargaan atas kinerja
individu, dan kenyamanan dalam berorganisasi, Dunlap malah cenderung
mengabaikannya. Kemudian, analis melihat bahwa taktik penghematan yang
dilakukan Dunlap sebagai suatu tindakan yang berlebihan sehingga
membahayakan kelanggenggan perusahaan. Gaya kepemimpinan Dunlap yang
disonan, serta seluruh masalah yang telah diakibatkannya, mengantarkan
Dunlap pada posisi berikutnya di Sunbeam. Hasilnya, dia dipecat dua
tahun kemudian. Tidak hanya itu, Dunlap dan eksekutif lain di Sunbeam
terlibat skandal besar dan sedang diusut oleh SEC.
Dari kedua pemimpin ini mari kita analisis perbedaan yang mendasari gaya kepemimpinannya…
Joe Torre,
leadership choosen styles;
visioner :menggerakan dan memotivasi kelompok dengan cara berbagi
impian; coaching: mengembangkan potensi individu dalam kelompok melalui
interaksi personal, affiliative:fokus pada orang dan membangun hubungan
interpersonal daripada penyelesaian tugas dan pencapaian target;
demokratis : mencari komitmen melalui pelibatan dan masukan dalam
penyelesaian masalah
end result, Membuat
anggota tim merasa terhibur walau dalam masa-masa sulit. Membuat iklim
organisasi menjadi positif sehingga individu dapat mengembangkan
talentanya serta bersaing secara sehat. Dalam jangka panjang mampu
mempertahankan dan bahkan meningkatkan performa organisasi (sustainable
growth).
how they operate,
Pemimpin mendorong prestasi kelompok dengan sikap optimis. Mereka
bertindak secara otentik sesuai nilai-nilai yang mereka yakini. Mereka
terbiasa memancarkan perasaan positif pada lingkungannya.
Al Dunlap,
leadership choosen styles;commanding: top-down, pendekatan yang otoriter; pacesetting:
berfokus pada pencapaian hasil sebanyak-banyaknya dengan biaya yang
seminimal mungkin; tottem pole management: menginjak bawahan dan
menjilat atasan; creates toxic environment: membuat anggota curiga satu
sama lain dengan cara mengadu domba.
end result, Meskipun
para pemimpin ini mungkin tampak efektif dalam jangka pendek, namun
dalam jangka panjang mereka menciptakan malapetaka pada kultur
organisasi, mencekik potensi individu, dan akhirnya menjatuhkan performa
organisasi.
how they operate,
Pemimpin mendorong prestasi anggota dengan sikap pesimis, rasa takut dan
rasa bersalah. Mereka mengembangkan iklim yang ambigu dan kurang
transparan. Dan terkadang sengaja menciptakan gap antaranggota dengan
menunjuk ‘anak emas’.
How A Leader Creates Dissonance…?
Poin ini memaparkan tentang bagaimana disonansi adalah sesuatu yang
‘default’ dan betapa mudahnya, bahkan bagi para pemimpin yang tadinya
resonan, terpeleset dalam disonansi serta menyeret orang di sekitar
mereka dalam pusaran arus yang sama. Menelisik aspek fisiologis dari
neuro-endokrin yang berefek pada suasana hati, perasaan, persepsi, dan
prilaku seorang pemimpin.
Cerita tentang pemimpin hebat yang berubah menjadi jahat, bukan lagi
cerita yang aneh, terutama dalam iklim perubahan dewasa ini. Belum
pernah perubahan terjadi begitu cepat, radikal, atau pun mendunia
seperti yang terjadi saat ini. Dunia kita adalah sebuah dunia baru,
dunia yang membutuhkan gaya kepemimpinan yang baru pula. Tidak cukup
hanya menjadi seorang pendekar manajemen atau penyihir keuangan. Tidak
cukup hanya memahami ekonomi, kompetisi, tren, serta faktor-faktor lain
yang mempengaruhi organisasi. Sebaliknya, pemimpin hebat dewasa ini
menciptakan resonansi; mereka cerdas secara emosional dan selaras dalam
hati, diri dan jiwa.
Pemimpin resonan memahami dan mengembangkan kecerdasan emosional (EI)
– yaitu, empat domain yang meliputi kompetensi yang berkaitan dengan
kesadaran diri (self-awareness), pengelolaan diri (self-management),
kesadaran sosial (social awareness), dan manajemen hubungan
(relationship management). Mereka mengelola emosi diri dengan baik dan
mengeluarkan talenta terbaik dari orang lain. Pemimpin resonan tahu
bahwa emosi menular, bahwa emosi mereka merupakan dorongan yang kuat
untuk suasana hati anak buah mereka, dan juga, memotivasi kinerjanya.
Untuk beberapa eksekutif, emosional intelegence tampaknya mengesankan
kelemahan seorang pemimpin, lembek. Namun penelitian membuktikan bahwa
EI seorang leader memberikan pengaruh yang signifikan untuk mendorong
kinerja karyawannya. Eksekutif yang memiliki skor EI 85-90% ternyata
menjadi pemimpin yang lebih efektif dibandingkan dengan kolega mereka
yang memiliki skor jauh dibawahnya. Pemimpin resonan mengakui bahwa
menciptakan kesan angker dan menumbuhkan rasa takut untuk memotivasi
bawahan adalah strategi jangka pendek terbaik. Namun emosi negatif ini,
sering kali menjadi bumerang. Membuat bawahan menjadi bingung, cemas,
dan tidak efektif. Pemimpin resonan mengilhami anak buah melalui
tindakan yang mencontohkan gairah, komitmen, perhatian yang mendalam
dalam hubungan interpersonal serta pencapaian visi organisasi. Mereka
memberi orang keberanian dan harapan. Mereka membantu orang untuk
mengeluarkan potensi terbaik diri.
Masalahnya adalah, resonansi bukan hanya sulit dikembangkan, namun
juga sulit untuk dipertahankan. Mengapa? Karena para pemimpin harus
‘memberikan diri’ mereka terus-menerus. Pemimpin hidup di bawah tekanan
konstan untuk tampil di perubahan zaman dengan tuntutan-tuntutan ambigu.
Bagi para pemimpin, pilihan sejernih kristal jarang mereka dapatkan,
kadang mereka harus mengambil keputusan atas realitas yang ambigu.
Kepemimpinan juga identik dengan kesepian. Kepemimpinan adalah ilmu
meraih kekuasaan dan pengaruh atas orang lain. Namun, ingat, kekuasaan
menciptakan jarak antarmanusia. Pemimpin hidup di bawah sorotan lampu
panggung kekuasaan. Pemimpin dinilai dan diamati dari semua sisi pada
setiap situasi. Sehingga menjadi pemimpin, kadang membuat mereka merasa
sendirian, teralienasi. Perasaan ini juga menimbulkan krisis tersendiri
dalam diri seorang pemimpin. Boyatis dan McKee telah menciptakan sebuah
istilah untuk stres jenis ini: power stress.
Namun, stres akan selalu menjadi bagian dari realitas kepemimpinan
dan akan selalu ada. Padahal dalam kondisi tertekan (stress) otak
manusia, sebagai homo sapiens, akan mengaktifkan sistem simpatis-nya
untuk memproduksi hormon-hormon epinephrine, norepinephrine dan
corticosteroids. Hormon-hormon ini membuat tekanan darah naik, otot
menengang, sistem imun menurun dan membuat otak berhenti memproduksi
neuron baru. Hasilnya, orang cenderung memiliki tingkat kecemasan yang
tinggi, depresi, dan kehilangan sisi kreatifnya. Dulu, sebagai manusia
purba, mekanisme ini sangat berguna untuk berburu dan bertahan hidup,
karena hormon-hormon ini memicu reaksi bertahan atau menyerang (fight or
flight). Namun, ketegangan yang dialami homo sapiens kala itu hanya
terjadi sesekali. Sedangkan, tekanan yang dialami oleh pemimpin dewasa
ini terjadi hampir setiap saat.
Tubuh manusia tidak diciptakan untuk menghadapi krisis jenis ini,
hari demi hari, tahun demi tahun. Idealnya, setelah kondisi krisis,
manusia membutuhkan waktu untuk memperbaiki kondisi emosinya (renewal).
Namun deadline, target, krisis, masalah dan tanggung jawab yang berat
adalah tantangan sehari-hari pemimpin dewasa ini. Mereka jarang memiliki
cukup waktu untuk memulihkan kondisi emosinya. Ibarat handphone yang
terus dipakai tanpa mengisi ulang baterai, lambat laun pemimpin akan
kehilangan tenaga dan terjebak dalam sacrifices syndrome, terus memberi
dan memberi. Akhirnya, tergelincir ke dalam keresahan, kerusuhan, dan
stres. Karena pemimpin selalu menjadi sorotan dan panutan, kondisi emosi
yang labil ini akan menular. Saat inilah disonansi terjadi. Seperti
contoh pada poin pertama, Al Dunlap. Pemimpin yang disonan akan
membiaskan malapetaka. Mereka menciptakan frustrasi, ketakutan, dan
pesimisme. Mereka mendorong orang lain dengan cara yang salah, untuk
alasan yang salah dan menuju arah yang salah. Mereka sering sekali tidak
menyadari kerusakan yang telah mereka lakukan. Dengan kata lain,
disonansi menjadi default, bahkan bagi pemimpin yang tadinya dapat
menciptakan resonansi.
Untuk pemimpin yang tadinya resonan, perubahan menjadi disonan kadang
terjadi secara perlahan dan sangat sumir. Sehingga disonansi tidak
mudah untuk didiagnosa sampai terjadi petaka. Hal ini terjadi karena
seorang pemimpin yang sukses biasanya merasionalisasikan simtom-simtom
disonance. Walau hati kecil mereka sebenarnya menyadari ada yang ‘salah’
namun cara yang termudah adalah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik
saja.
Ketika seorang pemimpin tergelincir dalam sacrifices syndrome, dia
akan mengurangi efek tekanannya dengan coping stress jenis tertentu.
Beberapa melakukan perbuatan beresiko untuk menstimulasi adrenalin,
sehingga mereka akan merasa kuat dan berkuasa kembali. Beberapa menjadi
sinis, menyalahkan situasi dan orang lain untuk masalah yang tidak mampu
mereka tangani. Beberapa merubah persona sehingga tidak cocok dengan
kepribadian asli mereka. Namun, semakin mereka menolak realitas, maka
mereka akan semakin terjebak pada penjara yang mereka bangun sendiri,
negative spiral. Mereka justru akan semakin frustasi, marah dan
hopelessness.
Disonasi semakin tidak mudah terdeteksi, juga karena organisasi
sendirilah yang mendorong hal ini terjadi. Dengan kata lain, organisasi
menciptakan monster mereka sendiri. Hal ini terjadi karena dua alasan.
Pertama, karena organisasi biasanya lebih menghargai kesuksesan jangka
pendek dan formula yang paling efektif untuk mencapainya adalah
menciptakan kesan angker dan menumbuhkan rasa takut untuk memotivasi
bawahan. Ingat, Dunlap awalnya sangat dihargai karena kepemimpinannya
mampu menyelamatkan Scott Paper dari jurang kebangkrutan. Kedua,
pemimpin jarang memperoleh masukan yang jujur dan terbuka dari
bawahannya. Ingat, kepemimpinan menciptakan jarak, CEO Disease. Ketika
terjadi perubahan dalam diri pemimpin, bawahan jarang menanyakan apa
yang terjadi secara terbuka. Kecuali bila kondisinya sudah sangat
merusak dan menimbulkan dampak yang nyata pada organisasi.
The Wake Up Calls…
Anda pasti pernah merasakan semangat yang menyala-nyala saat pergi ke
kantor. Anda tidak sabar untuk sampai di kantor. Namun, ingat-ingat
lagi, kapan Anda terakhir kali merasakan hal itu? Apakah yang terjadi
sekarang sebaliknya? Anda merasa malas. Bahkan mendengar kata kantor
saja sudah membuat perut Anda mulas. Atau membuat Anda frustrasi. Atau
bahkan mungkin merasa bosan. Padahal Anda telah berada di puncak karir
Anda. Namun tetap saja, Anda merasa tidak puas. Padahal Anda telah
memberi karyawan Anda iming-iming bonus besar. Namun tetap saja, mereka
sulit menampilkan performa yang Anda inginkan. Padahal Anda telah
berusaha sekuat mungkin. Namun tetap saja, target perusahaan tampaknya
sulit Anda raih. Anda bertanya-tanya, “apa yang terjadi?” Padahal Anda
merasa selalu menjadi pemimpin yang baik. Pahahal Anda telah bekerja
lebih keras daripada sebelumnya. Walau hati kecil Anda sebenarnya sering
membisikkan bahwa ada sesuatu yang ‘salah’, namun Anda gagal
mendefinisikan apa yang salah.
Banyak pemimpin yang tadinya resonan terpeleset masuk dalam jurang
disonansi. Tidak jarang mereka tidak menyadari apa yang telah terjadi.
Atau, sengaja membutakan diri dari realitas yang ada. Namun ketika
seorang pemimpin pada akhirnya ‘menyadari’ ada sesuatu yang salah maka
itu adalah titik balik dari proses renewal. Ada beberapa tanda atau
pesan dari alam semesta yang dapat membantu kita untuk ‘menyadari’ bahwa
hidup kita telah menyimpang ke arah yang salah. Boyatzis dan McKee
menamakan hal ini: wake-up call. Mereka mendefinisikan ada sedikitnya
tiga, yaitu;
- Dramatic Life Event
- Repetition Failure Life Cycle
- A Slow, Steady Declinations
Kadang pesan dari alam semesta itu dapat kita baca dengan jelas, namun sering kali amat samar. Mari kita selidiki satu per satu…
Dramatic Live Event. Tentu saja, life event adalah pesan yang jelas,
terutama kejadian yang merupakan tragedi. Perceraian, kematian,
kegagalan, bisa menjadi wake-up calls. Biasanya setelah kejadian besar
semacam ini, kita dipaksa untuk melihat diri kita dengan cara yang
berbeda.
Repetition Failure Life Cycle. Kadang, wake-up call terjadi bagai
siklus. Kita seperti mengalami siklus berulang dalam hidup kita secara
ritmis. Contohnya, orang yang sering gagal dalam investasi usaha, pada
kurun waktu tertentu. Entah kenapa ia acap kali ditipu oleh orang yang
berkarakteristik mirip dengan cara yang hampir serupa. Bagi kebanyakan
orang siklus ini terjadi dalam tujuh tahun sekali, seperti yang
tencantum dalam kitab suci atau yang disebutkan oleh Erik Erikson. Namun
siklus ini biasanya terjadi lebih samar dan sulit untuk terdeteksi.
Coba Anda ingat-ingat lagi, apakah Anda pernah mengalami kegagalan
berulang dalam satu aspek kehidupan?
A Slow, Steady Declinations. Bagi kebanyakan pemimpin, ketegangan
konstan yang menyebabkan sacrifies syndrome sering kali tidak
terdeteksi. Hanya saja, lama kelamaan mereka mudah merasa kelelahan.
Perlahan tapi pasti terjadi penurunan motivasi kerja, kesehatan dan
bahkan gairah hidup. Mereka berubah jadi pemarah, tidak sabaran, sedih,
atau bahkan frustrasi terus menerus. Mereka kehilangan sentuhan
emosional dengan orang-orang terdekat. Mereka berubah menjadi pribadi
yang sulit didekati, bertindak dengan cara yang tidak sehat atau bahkan
koruptif, serta melupakan nilai-nilai yang dulu pernah mereka pegang
teguh. Akhirnya, mereka menjadi orang yang sama sekali berbeda. Mereka
tidak lagi pribadi yang mampu dikenali oleh koleganya, tidak juga oleh
rekan kerjanya, pun tidak oleh keluarganya, dan bahkan tidak oleh
dirinya sendiri.
Mindfullness, Hope & Compassion Steps to Renewal…
Stres selalu menjadi bagian dari realitas kepemimpinan. Untuk
mempertahankan keunggulan performa, para pemimpin harus mengelola
sacrifies syndrome, stres, dan disonansi agar tidak menjadi korbannya.
Menurut Boyatzis dan McKee stres, bahkan power stress, bukan inti
masalahnya. Masalahnya, adalah terlalu sedikit waktu untuk melakukan
pemulihan diri (renewal). Ingat, deadline, target, krisis, masalah dan
tanggung jawab yang berat adalah tantangan sehari-hari pemimpin dewasa
ini. Mereka jarang memiliki cukup waktu untuk memulihkan kondisi
emosinya. Menggunakan renewal untuk kembali ke resonansi lagi dan lagi
adalah kuncinya.
Sebagai peneliti senior dari EI, Richard Boyatzis dan Anne McKee
menyimpulkan bahwa proses renewal hanya dapat dicapai ketika pemimpin
berkomitmen untuk ‘mengada’ secara holistik. Menyadari ada perubahan
dalam diri pemimpin. Menyadari ada perubahan dalam bersikap, berfikir
dan berprilaku. Menyadari wake up calls. Dengan kata lain, pemimpin
harus menjadi sadar bahwa mereka sedang ‘tidak sadar’. Penelitian
menunjukkan bahwa renewal memicu tubuh dan hormon di otak kembali pada
state well-being. Renewal bergantung pada tiga elemen yang pada awalnya
mungkin terdengar terlalu lembek untuk mendukung kerja keras seorang
pemimpin resonan. Namun tiga elemen ini benar-benar terbukti efektif
untuk memulihkan kondisi emosi. Yaitu, minfullness, hope, dan
compassion.
Mindfulness. Artinya, hidup dalam kesadaran penuh. Kesadaran
seseorang akan diri, orang lain, dan konteks di mana dia hidup dan
bekerja. Mengembangkan rasio, mengurus kondisi fisik, mengelola emosi,
dan memperhatikan aspek spiritulitas adalah rangkaian aspek penting yang
harus diperhatikan dalam mindfulness. Menyeimbangkan otak, fisik, emosi
dan jiwa kita. Sayangnya, para pemimpin sering diminta untuk
berkonsentrasi pada tindakan rasional yang terlibat dalam proses
manajerial (planning, organizing, controlling sumber daya). Hal ini
membuat banyak orang merasa teralienasi. Hilangnya relasi dengan rekan
kerja, klien, teman, keluarga, dan terutama diri dengan mereka sendiri.
Mindfulness membuat pemimpin tetap berada pada jalur yang tepat.
Pertanyaannya adalah, bagaimana cara menciptakan mindfulness? Bisa
dimulai dengan melakukan refleksi diri. Self contemplation. Meluangkan
waktu untuk menyendiri, berkonsentrasi akan pikiran dan perasaan kita.
Cara yang dianjurkan oleh Eckhart Tolle adalah berkonsentrasi pada
kondisi ‘saat ini’. Menyadari apa yang sedang terjadi pada saat ini.
Misal, Anda sedang berjalan di sebuah taman, lihatlah warna daun,
rasakan udara yang mengendus kulit Anda, rasakan lembut sinar mentari,
dan yang terpenting menyadari bagaimana perasaan Anda pada saat itu.
Senang, sedih, gelisah atau apa. ‘Mengada’ pada realitas. Jika meditasi
diri ini Anda lakukan minimal 20 menit setiap hari, Anda akan
mendapatkan manfaat yang luar biasa. Menurut penelitian, transcendental
meditation dapat memperlancar peredaran darah, menyegarkan fikiran, dan
bahkan memperbaiki mood. Atau, secara serius melakukan praktek
spiritualitas menurut agama yang Anda yakini. Lalu mungkin melakukan
olah raga secara rutin. Olah raga terbukti secara nyata meningkatkan
daya ingat dan konsentrasi. Ketiga, Anda bisa memberikan contoh yang
lain?
Hope. Ketika kita mengalami hope kita percaya bahwa masa
depan itu sangat mungkin bisa kita raih. Kita dapat membayangkan rute
menuju impian kita. Kita pun dapat menginspirasi orang lain untuk
bergerak ke arah yang sama. Renewal ini dipicu oleh emosi positif.
Sebuah pengalaman hope dapat merubah struktur kimia dalam otak kita, dan
pada akhirnya dapat memperbaharui pikiran dan tubuh kita. Harapan
adalah magnet emosi, ia meningkatkan energi dan mendorong semangat kita.
Sebagai tambahan, hope ini membias. Harapan dapat mempengaruhi ikatan
emosional kita dengan orang lain. Maka hope dapat menjadi mendorong yang
sangat bagus untuk memotivasi kelompok.
Compassion. Kita tidak hanya sekedar berempati pada orang
lain, namun juga termotivasi untuk melakukan tindakan kebaikan nyata
pada mereka. Seperti harapan, kasih sayang juga menular. Kita harus
menunjukkan kasih sayang pada orang lain agar terjadi proses renewal,
kita juga harus bersedia untuk menerimanya. Kita harus percaya bahwa
kita tidak sendirian.
Tanpa unsur-unsur ini, pemimpin tidak dapat mempertahankan resonansi
pada diri mereka sendiri atau dengan orang lain. Dengan mindfullnes,
hope dan compasion, emosi positif dan hubungan yang sehat dapat
berkembang. Unsur ini membantu membangun ketahanan emosi kita dan
memastikan perilaku yang efektif meskipun ada berbagai tantangan yang
menghadang.
Untuk mengatasi tantangan yang tak terelakkan dari peran
kepemimpinan, individu perlu untuk melakukan dalam proses renewal secara
sadar, setiap hari, selamanya. Untuk melakukannya, kita harus secara
sadar mengubah pendekatan kita untuk mengelola diri sendiri dengan
mempelajari perilaku baru. Praktek yang memungkinkan kita untuk
mempertahankan resonansi internal dan menyelaraskan prilaku kita dengan
mereka yang kita pimpin. Dengan berfokus pada penciptaan sengaja
resonansi dalam diri kita -pikiran, tubuh, hati, dan jiwa- lalu
membiaskan resonansi untuk orang-orang yang bekerja untuk kita, hidup
bersama kita, dan menikmati kehidupan di sekitar kita.