ANAK ITU DUDUK mendekat ayahnya. Ia menyunggingkan
senyum dan melemparkan sebuah pertanyaan yang membuat sang ayah
terhenyak. “Ayah,” katanya. “Ayah tambah tua, ya?”
Sang ayah terdiam. Lalu, sambil tersenyum dia menjelaskan bagaimana
ia selalu bertambah tua. Ia bercerita bahwa terkadang pinggangnya mulai
terasa sakit. Lututnya sering terasa lemas dan goyah. Ia juga
menunjukkan beberapa bagian tubuhnya yang mulai berkerut. “Apa maksudmu
dengan bertanya aku telah ‘bertambah tua’, sayang?
Pertanyaan itu hanya dijawab seuntai senyuman. “Tangan Ayah sudah
tua,” katanya mengalihkan pembicaraan, sambil memegang tangan sang Ayah.
Memandangi setiap guratan keriput.
“Lihat, Ayah. Tangan Ayah mulai keriput dan tentu Ayah semakin
bertambah tua. Apakah Ayah akan segera meninggal?” tanya sang anak.
Sebuah pertanyaan yang tidak pernah diduga.
Sang Ayah mengamati tangannya yang belum juga keriput benar, lalu ia
bertutur, “Aku sendiri berharap semoga ajalku masih jauh. Tapi bisa jadi
aku mati cepat. Orang bisa mati kapan saja.” Sang Ayah menghela nafas
sejenak. Ia pandangi wajah anaknya.
“Ayah,” kata sang anak, “Aku hanya ingin tanya. Ayah mulai tua
seperti nenek dan kakek. Aku tahu kelak Ayah akan meninggal.” Sang anak
terdiam. Dia pandangi wajah ayahnya. Ia dekatkan wajahnya pada ayahnya,
seakan berbisik ia berkata.
“Kumohon Ayah mau menunggu sampai aku punya anak, agar Ayah bisa jadi
kakek dan kita bisa makan biskuit dan minum susu bersama seperti ini.”
sang Ayah tertunduk. Ia peluk anaknya dengan pelukan yang belum pernah
ia berikan selama ini.
Posting Komentar