Latest Movie :

wayang

Tari
Ini adalah kisah tentang Sya, adik semata wayangku. Kisah yang membuatku sadar akan kalimat, “Manusia boleh berencana namun Tuhan-lah yang Maha Menentukan…”
Sya adalah seorang perempuan yang matang di usianya yang kedua puluh lima. Dia cantik, sukses dan pintar. Bisa disebut “cantik”, karena ia nampak seperti gambarkan kecantikan modern yang biasa kita lihat di media massa, tingginya 171 cm, berkulit kuning langsat, berhidung mancung walau seratus persen berdarah Jawa. Hanya saja, tak seorangpun tahu seberapa panjang rambut Sya yang konon kabarnya berwarna hitam legam, karena jilbab yang selalu menutupi rambut ketika ia keluar rumah. Dapat dibilang “sukses” karena Sya tercatat sebagai manager di perusahaan tempat ia bekerja sekarang. Dan… layak dikatakan “pintar” karena Sya lulus SUMMA CUM LAUDE dari S2-nya dalam bidang Psikologi Komunikasi di usia 23 tahun. Emm… jika tidak layak disebut “pintar” maka gadis ini patutnya disebut “jenius”…
Abdul adalah tipikal sebaliknya… Di usianya yang kedua puluh delapan, ia… emm… bisa disebut “mengenaskan”. Mengapa demikian? Secara fisik, jejaka kita ini tidak bisa disebut “jelek” namun tak layak pula disebut “tampan”. Tingginya 175 cm, berkulit hitam (euh, coklat tua), berambut keriting yang ia potong ala tentara, dan berhidung persegi. Abdul adalah kakak kelas Sya. Walau tidak satu jurusan. Ia sudah cukup lama kuliah di universitas tersebut, dan tahun ini memasuki tahun kesembilan baginya. Karena statusnya yang mahasiswa, tentu ia masih menggantungkan hidup pada kedua orang tua.
Betapa Cinta itu Buta
Lima purnama sebelum Bulan Suci Ramadhan…
Abdul bukanlah orang asing bagi Sya. Mereka pernah satu organisasi saat Sya masih kuliah S1. Mereka berdua aktif dalam sebuah organisasi politik mahasiswa. Dimana Abdul sebagai ketua bidang politik dan Sya adalah ketua bidang pembinaan. Namun pada saat itu, setahuku, tidak ada getar cinta antara mereka. Jika ada, Sya pasti sudah menceritakannya…
Tepat tiga tahun setelah Sya meraih gelar Sarjana. Tuhan mempertemukan pasangan ini dalam sebuah reuni. Di Bandung, kota tempat Sya kuliah S1 dan kota tempat Abdul menghabiskan sembilan tahun terakhirnya. Abdul pernah berkata kepadaku, saat itu adalah cinta pada pandangan pertama. Setelah berbilang tahun tiada berjumpa, Sya sangat cantik di matanya.
Cinta memang buta. Bagi Sya, Abdul adalah pria pertama yang benar-benar telah mempesona dan memperangkap jiwanya. Bagi Sya, Abdul adalah laki-laki yang anomali. Ia adalah pria satu-satunya dimana Sya tidak harus menjadi pendengar. Ia, yang tidak langsung “curhat”, begitu tahu profesi Sya yang seorang Psikolog. Ia, yang rela menempuh enam jam perjalanan hanya untuk menemani Sya makan malam. Ia, tempat Sya bisa bermanja dan melepas lelah akibat himpitan pekerjaan. Di mata orang lain, Abdul memang memperlakukan Sya bagai ratu. Walau tidak pernah mengantar jemput Sya, Abdul selalu memberikan seuntai kata cinta sebagai sarapan pagi hari. Abdul selalu memperhatikan kesehatan Sya yang memang lemah sejak kecil, dengan selalu mengingatkan untuk makan, dan cukup istirahat. Hal-hal kecil memang, namun di mata Sya, Abdul memberikan apa yang tidak pernah diberikan orang lain. Perhatian yang tulus. Abdul mewarnai hari-hari Sya dengan cinta, dan kecemburuan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Namun bagi Aku, kakak Sya. Ada yang tidak tepat di dalam hubungan ini. Entah apa. Saat itu, aku tidak tahu apa yang mengusikku. Maka, ketika Sya meneleponku untuk mengabarkan bahwa keluarga Abdul akan datang melamar, kutepiskan keraguanku jauh-jauh.
Akhirnya lamaran itu tiba… tepat tujuh hari menjelang Ramadhan, bulan yang mulia. Dia nampak bahagia ketika mempersiapkan prosesi lamaran di rumah orang tua kami, 1000 km dari kota tempat Sya tinggal saat ini.
Ketika Langit Seakan Runtuh
Hari itu tepat Hari Kedua Puluh Lima pada bulan Ramadhan…
Aku menghentikan mobil tepat di depan rumah orang tua kami. Sebelum kakiku menginjak tanah, ponselku berbunyi. Dari seberang, terdengar suara Sya. Amat berat. “Dia membatalkan pernikahan kami…” Setelah itu yang tersisa hanya diam. Sepertinya tidak ada lagi air mata. Yang ada hanya cekatan-cekatan yang meluruhkan sendi hati. “Aku terbang ke sana, ya?,” sambung suara di seberang.
“Kemarilah, pesanlah tiket dan aku tunggu di bandara. Kuatlah. Sampailah sini. Biar kutemani kau”. Hanya itu yang bisa kukatakan. Selebihnya aku hanya nanar. Bagaimana bisa, Abdul membatalkan pernikahan dengan Sya. Apa yang salah. Salahkah penilaian kami terhadap Abdul. Atau benarkah “keraguanku” selama ini.
Buliran bening mengalir juga di pipiku. Aku merasa.. tiba-tiba kakiku menjadi pendek. Karena aku tak tahu harus bagaimana menolongnya dari kejauhan. Membantunya tetap berdiri. Memastikan bahwa dia tidak menginginkan kematian karena putus asa. Rasa tak berdaya ini akhirnya memecahkan tangisku. Tersedu. Tangis itu baru berhenti setelah tangan suamiku menggengam erat “Jangan larut, tahan, tahan.”
Aku menunggu di ruang makan, dengan perasaan tak menentu, karena baru saja Sya mengabarkan, hanya ada pesawat pukul 10 malam. Itupun delay karena ada trouble engine. Kegelisahanku terjawab. Tepat pukul 4 sore “Aku gak kuat, dadaku sesak” begitu bunyi pesan tak bersuara itu. Aku memandang mata suamiku mengabarkan ketakberdayaan. Aku takut, jantung Sya yang lemah sejak kecil tidak mampu menahan beban ini. Dia paham. Dan ponselkupun jatuh ke tangannya. Di luar dugaan, dia berlari. Sayup-sayup kudengar orang muntah berkali-kali lalu senyap. Hening…
Beberapa saat, aku mulai curiga, suamiku tak muncul lagi dan kuputuskan melihatnya. Suamiku bersandar di wastafel dengan badan bergetar. Ia hanya diam. Setelah kutembus matanya, aku baru tahu apa yang harus kulakukan. Dengan perasaan tak menentu, aku tapping badannya. Tanpa Set Up. Satu putaran, dia lalu berdiri, berjalan ke arah dapur. Mengambil air segelas penuh dan meminumnya. “Kau tak apa?” Dia tersenyum sambil berkata “Untung kau datang.” Ganti aku yang terduduk dengan keringat bercucuran. Meski hanya tiga menit, aku merasa sangat lelah. Seperti berjalan jauh tanpa air…
Ponselku bergetar perlahan… “Alhamdulillah, Kak… Aku udah bisa berdiri. Makasih. Tadi rasanya langit mau runtuh. Gelap. Aku hanya mampu memeluk ponselku” Aku tertegun membaca kalimat itu. Benarkah? Lalu, sebegitu mampukah apa yang kulakukan untuk membuat Sya bertahan ketika ada di ujung bumi?
Aku masih terdiam, kala suamiku menggambilkan segelas air untuk kuminum… Dia berkata, begitu memegang ponselku, dia merasa jiwa Sya masuk dalam tubuhnya. Berat. Tiba-tiba dia merasa dadanya sangat sesak. Lalu ia muntah hingga badannya bergetar. Ketika berusaha mengangkat tangan, lengannya terasa lunglai. Aku menatapnya penuh. “Kau tak apa?” Dia hanya tersenyum.
Mataku memandang nyalang ke arah pintu kedatangan domestik. Aku melirik arlojiku. Jam 11. Mana Sya? “Aku dah sampai bandara” seuntai kalimat menyerbu ponselku. Bergegas aku memacu langkah. Aku menemukannya dalam sorot mata kuyu. Ia berlari sebelum tumpah di pelukanku. Antara kelu, lega dan luruh bercampur. Setidaknya aku bisa memastikan dia bisa sampai kota ini tanpa halangan berarti meski dengan hati carut marut.
“Kak, untung kau surrogate aku. Aku tidak tahu apa jadinya jika kau tak menolongku dari sini. Karena semuanya terasa gelap. Sangat gelap dan berat. Langit terasa pendek hendak menghimpitku.” Lama aku terdiam, membiarkan tanganku mendekapnya. Jika aku kuat, ingin rasanya kubawa terbang, berpelukan dan berputar-putar. Karena ada yang bergemuruh tak tentu di dadaku saat ia tumpah di pelukanku. Tapi terbang semacam itu, pastilah hanya ada dalam dongeng… Heem…
Dalam lamunan ingin membawanya terbang, tiba-tiba ada yang mengalir sejuk di hatiku. Mungkin karena aku merasa tetap bisa menjaganya meski jarak memisahkan kami dan tidak berpikir apa yang telah kulakukan. Terima kasih Tuhan.
Jakarta, menjelang Hari Kemerdekaan, 2008
Kontemplasi di rumahku sendiri
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger