Wanita itu terdiam, tapi keinginannya masih menyala. Keinginan untuk
melanjutkan studi ke luar negeri. Di depannya sang suami hanya bisa
terdiam. Dalam gendongannya sang anak tertidur pulas.”Ini kesempatan
baik buatku, Mas. Aku kepingin kuliah di luar.” Sang suami masih diam.
Seluruh alasan untuk ‘mencegah’ istrinya telah dikemukakannya.
“Ini kesempatan prestise, Mas.”
“Untuk siapa?” tanya sang suami.
“Untuk karirku. Jarang ada yang bisa meraih peluang ini.” Ruang itu kembali sunyi. Masing-masing menundukkan kepala. Diam. Sang anak yang berada dalam gendongan sang suami menggeliat. Lalu kembali tertidur.
“Untuk siapa?” tanya sang suami.
“Untuk karirku. Jarang ada yang bisa meraih peluang ini.” Ruang itu kembali sunyi. Masing-masing menundukkan kepala. Diam. Sang anak yang berada dalam gendongan sang suami menggeliat. Lalu kembali tertidur.
“Bagaimana dengan anak? Akankah kau ajak. Terus terang aku sendiri agak susah meninggalkan pekerjaan di sini.”
“Menurutku lebih baik dia berada di sini. Tak mungkin aku membawanya.
Dia masih terlalu kecil untuk dibawa pergi,” kata sang istri sambil
melihat lukisan yang tertempel di dinding sebelah kanan.
“Tapi apakah dia sudah terlalu besar untuk ditinggal pergi oleh
satu-satunya orang yang disebut ibu!” Nada suara sang suami sedikit
meninggi, lalu kembali disusul oleh sunyi. Pembicaraan itu tidak
berujung kesepakatan. Sang istri tetap berangkat kuliah keluar negeri,
meninggalkan sang anak yang masih bayi.
KISAH DI ATAS pernah dituturkan oleh salah seorang sahabat kepada
kami. Kisah yang sangat sederhana. Padahal, sesederhana apapun sebuah
peristiwa, seringkali ia mampu menyajikan hikmah luar biasa bagi kita.
Melalui kisah di atas, saya ingin berbagi tentang bagaimana kita
menyayangi anak-anak. Kita seringkali telah merasa ‘menyayangi’
anak-anak. Sementara kita tidak pernah mengetahui apakah anak-anak telah
benar-benar terpenuhi kasih sayang kita.
Tanpa sadar banyak di antara orang tua yang bersikap sangat egois
kepada anak-anak. Mereka telah ‘merasa’ bahwa apa yang dilakukannya
ditujukan untuk masa depan anak-anak; untuk kepentingan anak. Padahal,
yang terjadi karena orang tua tidak ingin diganggu oleh anak. Marilah
kita melihat tindakan kita sehari-hari. Betapa banyak kemarahan kita
kepada anak, sebenarnya karena kita tidak ingin direpotkan oleh anak,
meskipun kita mengatakan kepada mereka bahwa kemarahan kita untuk
kebaikan anak.
Betapa banyak di antara kita merasa kesal dan marah setiap kali
arahan kita sebagai orang tua diabaikan anak. Keributan kecil menjelang
sekolah, saat-saat ketika anak enggan untuk segera tidur, ketika anak
susah untuk mandi, dan sebagainya, seakan menjadi potret betapa kita
mudah sekali marah pada anak. Sebagian orang tua yang lain berusaha
menekan anak agar memperoleh nilai (angka) yang memuaskan di sekolah,
memaksa anak-anak agar segera menguasai berhitung dan membaca, dan
menggiring anak-anak agar dapat terlibat dalam panggung-panggung mencari
bakat. Padahal, beberapa di antaranya merupakan siksaan batin bagi
anak. Dalam kasus-kasus demikian, orang tua sering lebih mengedepankan
egoisme diri daripada memperhatikan kebutuhan jiwa anak.
Sementara orang tua yang lain sibuk dengan aktivitas (yang konon
katanya untuk anak-anak juga). Sampai-sampai tidak ada lagi waktu bagi
anak dan keluarga. Anak-anak lebih dekat dengan orang lain (pembantu,
misalnya) daripada dengan orang tua mereka. Persis seperti kisah
sederhana di awal tulisan ini. Kita kadang hanya merasa telah menyayangi
anak-anak. Padahal, pada banyak kasus, kita sering mendesak anak-anak
agar memaklumi kita. Sementara pada banyak keadaan yang lain, sebenarnya
kita gagal memahami dan memaklumi anak-anak. Kita terlalu pandai
menekan anak agar memaklumi kesibukan, keinginan-keinginan, dan
standar-standar kita. Namun, kita sering lupa untuk piawai memahami
keinginan dan harapan anak-anak.
Banyak di antara kita berharap anak-anak kelak menjadi salih dan
mampu mendoakan kita. Tapi sayangnya, kebersamaan kita dengan anak-anak
terlalu sedikit untuk mampu membentuk karakter dan mengajari mereka
berdoa yang baik, karena waktu yang dimiliki lebih banyak dihabiskan
pada karir, pekerjaan, dan keinginan-keinginan pribadi kita sendiri.
Saksikan film I not Stupid Too. Kita akan belajar dan mengerti
bahwa ada banyak orang tua yang tidak berani mengorbankan karir dan
peluang bisnisnya hanya sekedar untuk menghadiri pentas anak di sekolah.
Keinginan kita untuk mendidik anak dan membersamainya dikalahkan oleh
keinginan kita untuk sukses dalam karir dan pekerjaan. Padahal,
keinginan anak terkadang sangat sederhana, tetapi begitu mahal untuk
dipenuhi oleh orang tua yang telah merasa cukup menyayangi anak-anak
mereka. Nah, seperti apakah kasih sayang kita kepada anak-anak? Wallahu a’lam bish-showab. []
Posting Komentar