You are beatifful… No matter what they said…
(Christina Aguilera)
(Christina Aguilera)
Jika Anda seperti saya, ‘uelek’…
Sabtu pagi, saya, secara tidak sengaja, menyaksikan acara perjodohan
berjudul Take Her Out yang ditayangkan sebuah stasiun televisi. Itu kali
pertama saya menyaksikannya, meski sudah berulang kali saya mendengar
teman-teman menceritakan reality show itu. Setelah menyaksikan sekian
menit lamanya, acara itu membuat saya tergelak, terhibur dan juga
membuat saya trenyuh.
Mengapa saya trenyuh? Saya menyaksikan seorang wanita muda muncul dan
setelah beberapa menit mendapat kesempatan untuk memperkenalkan diri,
MC memberikan kesempatan kepada para pria untuk memilih atau tidak. Para
pria berdiri dengan meja berlampu di depannya. Kalau mereka tidak
berniat memilih, meja berlampu itu berubah menjadi merah. Dalam hitungan
detik, pria sejumlah lebih kurang tiga puluh orang itu semaunya
mematikan meja berlampu yang ada di hadapan mereka. Artinya, tak satupun
dari mereka berniat memilih wanita muda itu. Sudah bisa ditebak, wanita
itu harus angkat kaki dan pulang dengan tangan hampa.
Saya tak bisa membayangkan kalau saya jadi wanita muda itu. Saya
pasti malu sekali. Saya yakin muka saya merah padam seperti warna meja
berlampu itu. Saya akan merasa ditolak mentah-mentah. Tidak laku. Saya
akan sedih pada diri saya sendiri, melihat kenyataan kalau tidak ada
yang merasa perlu memberikan kesempatan bagi saya untuk di-probe lebih
lanjut. Dan, yang paling membuat perasaan teriris adalah sejagat
Nusantara ini melihat saya tidak laku. Tidak bernilai.
Bukankah sejujurnya tidak ada manusia di dunia ini yang mau mendengar
hal yang menyinggung perasaan hatinya? Yang menyakitkan meskipun
faktanya memang demikian? Tetapi, di layar televisi hari itu, saya
menyaksikan masih ada orang yang berani berhadapan dengan
ketersinggungan itu. Saya mendapat pelajaran untuk melihat nilai-nilai
yang ora elok yang dulu diajarkan itu sekarang boleh dibuka
habis-habisan di depan umum. Luar biasa. Terus terang, saya angkat topi
kepada wanita itu. Ia adalah seorang pemberani. Berani mengambil resiko.
Resiko untuk dipermalukan di depan umum.
Namun…
Jika Anda seperti saya, ‘uelek’. Jangan Anda merasa terbuang. Jangan bersembunyi dengan pemikiran, kalau jelek secara fisik, saya masih punya kecantikan dari dalam. Jangan. Jelek ya jelek. Cantik ya cantik. Diterima saja, jangan memanipulasi perasaan dan jangan mencari tempat persembunyian. Bagian luar dan bagian dalam jangan dicampur aduk. Sudah demikian adanya, di dunia ini harus ada yang berperan sebagai orang jelek dan orang cantik. Jangan pernah menyalahkan Pencipta Anda. Ia tidak mungkin keliru.
Jika Anda seperti saya, ‘uelek’. Jangan Anda merasa terbuang. Jangan bersembunyi dengan pemikiran, kalau jelek secara fisik, saya masih punya kecantikan dari dalam. Jangan. Jelek ya jelek. Cantik ya cantik. Diterima saja, jangan memanipulasi perasaan dan jangan mencari tempat persembunyian. Bagian luar dan bagian dalam jangan dicampur aduk. Sudah demikian adanya, di dunia ini harus ada yang berperan sebagai orang jelek dan orang cantik. Jangan pernah menyalahkan Pencipta Anda. Ia tidak mungkin keliru.
Tapi ingat…
Yang membuat standar jelek dan tidak jelek, bukan Sang Pencipta, tetapi penghakim… eh… salah, manusia. Manusia yang diciptakanNya, yang bertabiat seperti penghakim.
Yang membuat standar jelek dan tidak jelek, bukan Sang Pencipta, tetapi penghakim… eh… salah, manusia. Manusia yang diciptakanNya, yang bertabiat seperti penghakim.
Jika Anda seperti saya, ‘muiskin’…
Kemudian, saat melihat tayangan tersebut, seorang kawan nyeletuk dan
bercerita. Di kali lain, ia pernah melihat tayangan serupa yang
menampilkan seorang bapak guru yang dipajang dalam etalase yang sama.
Bapak guru ini hanya bermodalkan sepeda juga bernasib nyaris sama dengan
wanita muda yang sedang kami saksikan.
Saya tidak bisa membayangkan jika saya jadi bapak guru bermodal
sepeda itu. Siapa yang mau pacaran dan berjodoh dengan saya kalau saya
miskin? Kalau saya cuma punya sepeda dan hanya sekedar guru honorer,
bukan seorang general manager yang mungkin gajinya setinggi langit yang
biru. Kalau secara de facto di layar televisi dan se-Nusantara tahu saya
ditolak mentah-mentah pada menit pertama oleh sekian puluh sosok,
kemana saya harus pergi?
Namun…
Jika Anda seperti saya, ‘muiskin’. Jangan merasa terbuang dan berfikir tidak ada yang mau dengan Anda. Saya pastikan tetap ada yang mau. Jangan memanipulasi dengan berkata aku miskin, tetapi kaya dalam perbuatan baik dan kaya dalam kebahagiaan batin. Miskin itu menurut ukuran manusia adalah yang uangnya tidak ada, tidak berhubungan dengan kekayaan jiwa. Itu urusan lain. Jadi, terima kenyataan Anda itu miskin karena memang ada yang harus berperan sebagai orang miskin.
Jika Anda seperti saya, ‘muiskin’. Jangan merasa terbuang dan berfikir tidak ada yang mau dengan Anda. Saya pastikan tetap ada yang mau. Jangan memanipulasi dengan berkata aku miskin, tetapi kaya dalam perbuatan baik dan kaya dalam kebahagiaan batin. Miskin itu menurut ukuran manusia adalah yang uangnya tidak ada, tidak berhubungan dengan kekayaan jiwa. Itu urusan lain. Jadi, terima kenyataan Anda itu miskin karena memang ada yang harus berperan sebagai orang miskin.
Tapi ingat…
Yang membuat standar miskin dan tidak miskin, bukan Yang Maha Memiliki, tetapi manusia. Manusia yang suka mengaku-aku, yang suka menilai segala sesuatunya dari satu sudut pandang saja. Uang.
Yang membuat standar miskin dan tidak miskin, bukan Yang Maha Memiliki, tetapi manusia. Manusia yang suka mengaku-aku, yang suka menilai segala sesuatunya dari satu sudut pandang saja. Uang.
Jika Anda seperti saya, ‘guoblok’…
Setelah melihat tayangan tersebut, saya jadi ingat akan pertemuan
saya beberapa bulan yang lalu di kota kelahiran saya. Pada akhir acara
yang merupakan reuni akbar itu, seorang Bapak maju untuk mengumumkan,
beliau dengan timnya telah membentuk program mulia mendukung anak-anak
yang kurang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
dengan persyaratan indeks prestasi minimal harus setinggi gunung.
Maksud saya setinggi gunung itu bukan satu koma atau dua koma, tetapi
tiga koma sekian. Kalau bisa empat koma. Semoga tidak koma alias
semaput. Beliau juga mengajak para undangan malam itu, kalau punya teman
atau kenalan yang kurang mampu tetapi memiliki IP yang tinggi, bisa
menghubungi beliau. Tujuannya bukan hanya sekedar memberikan kesempatan
mengenyam pendidikan tinggi, tetapi agar suatu hari mereka-mereka yang
IP-nya di atas tiga koma sekian-sekian itu bisa duduk di dalam jajaran
pemerintahan dan memajukan negeri ini.
Saya hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal mendengar itu
semua. Saya membayangkan menjadi pemuda/i yang memiliki IP nasakom.
Nasib satu koma. Siapa yang akan mendukung saya? Siapa yang akan memberi
fasilitas untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi kalau saya sudah
tidak mampu secara finansial dan tidak punya IP di atas tiga? Apakah
saya tidak bisa masuk ke dalam jajaran pemerintahan supaya bisa
memajukan negeri ini? Ke mana saya harus pergi? Pertanyaannya salah, ke
mana saya akan dibuang? Sudah miskin, bodoh pula.
Namun…
Jika Anda seperti saya, ‘guoblok’. Jangan merasa terbuang. Juga jangan memanipulasi, dengan memberi penyataan dalam hati, biar bodoh, tetapi cantik dan kaya. Anda tetap bodoh dan kita sedang tidak dalam membicarakan soal harta yang berlimpah. Kalaupun Anda mau menghubungkan kata cantik dan bodoh, maka berbahagialah kalau Anda bodoh sehingga tidak memiliki kemampuan berfikir menjual kecantikan Anda ke tempat yang tidak benar. Tetapi, hati-hati karena ada orang pandai di sekitar Anda yang bernama orang tua, teman, germo yang bisa melihat Anda bisa dijual.
Jika Anda seperti saya, ‘guoblok’. Jangan merasa terbuang. Juga jangan memanipulasi, dengan memberi penyataan dalam hati, biar bodoh, tetapi cantik dan kaya. Anda tetap bodoh dan kita sedang tidak dalam membicarakan soal harta yang berlimpah. Kalaupun Anda mau menghubungkan kata cantik dan bodoh, maka berbahagialah kalau Anda bodoh sehingga tidak memiliki kemampuan berfikir menjual kecantikan Anda ke tempat yang tidak benar. Tetapi, hati-hati karena ada orang pandai di sekitar Anda yang bernama orang tua, teman, germo yang bisa melihat Anda bisa dijual.
Tapi ingat…
Yang membuat standar bodoh dan tidak bodoh, bukan Yang Maha Tahu, tetapi manusia. Manusia yang sok tahu, yang membuat standar klasifikasi hanya dari satu aspek saja. Otak.
Yang membuat standar bodoh dan tidak bodoh, bukan Yang Maha Tahu, tetapi manusia. Manusia yang sok tahu, yang membuat standar klasifikasi hanya dari satu aspek saja. Otak.
Jika Anda seperti saya, ‘uelek, muiskin & guoblok’…
Setelah mengingat semua peristiwa itu, saya tidak bisa tidur… Ke mana
saya harus dibuang? Siapa yang mau sama saya kalau semua maunya yang
cantik, pintar dan kaya raya? Apakah saya harus operasi plastik dan
mempermak, menambal muka dan tubuh sana sini agar laku? Apakah saya
harus belajar begitu keras atau membeli gelar sajalah agar dianggap
pintar? Ataukah saya harus kerja banting tulang untuk menjadi kaya?
Meski jelek, orang pasti mau sama saya karena ada agenda lain di benak
mereka. Mengejar harta saya, dan saya tidak keberatan daripada tidak
laku…
Pada akhirnya saya tersadar… Saya juga manusia, yang suka
memilah-milah, memilih-milih. Mengklasifikasi… Saya pun jarang untuk
melihat manusia utuh, sebagaimana adanya… Walau jelek mereka pasti ada
kelebihan lain… Walau miskin, mereka adalah pejuang sejati… Walau bodoh,
mereka hebat dalam hal lain… Karena toh, jelek, miskin, bodoh, adalah
bagian dari klasifikasi saya terhadap mereka. Di hadapan Tuhan, mereka
indah sebagaimana adanya…
Tabik…
Dari saya yang jelek, miskin dan bodoh…
Dari saya yang jelek, miskin dan bodoh…
Posting Komentar