Latest Movie :

PERMEPUAN

Dewasa ini perempuan Indonesia telah mengalami kemajuan yang menakjubkan. Sejak Kartini menghembuskan nafas perubahan bagi perempuan Indonesia, pergerakannya telah mencapai kemajuan yang mencengangkan. Ribuan Perempuan Indonesia mengukir prestrasi dengan menjadi wanita karier, dokter, sopir, astronot, politisi, dan paling dasyat (atau sayangnya) Presiden Republik Indonesia Raya yang tercinta ini. (dan sedang berkampanye untuk dipilih kembali).
Perempuan Indonesia telah memasuki “dunia laki-laki” yang lebih mengutamakan ketegasan, logika dan rasio. Sama rata, sama rasa dan sama karsa (tapi bukan jargon komunis, lho!) dengan pria. Dari urusan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan hidup bahkan dalam urusan seks sekalipun.
Namun ternyata dalam urusan pasangan hidup, masih banyak perempuan Indonesia yang kolot (seperti saya misalnya!) Ada seorang kawan saya yang berkata lebih baik mati daripada melamar duluan ikhwan yang ia pikir dan rasa cukup sholeh untuk membina rumah tangga. Ada juga seorang lagi yang berkata lebih baik menjaga gengsi daripada harus nembak duluan pada orang yang disukainya. (Walau tiap malam stres menunggu sms atau telpon darinya ^_^)
Tulisan ini saya tujukan untuk Anda, perempuan yang sedang menunggu. Terombang-ambing. Usia yang sudah beranjak menua, ketika “pangeran berkuda putih” tak kunjung datang untuk memberikan sebuket bunga mawar dan sebentuk cincin…
Jodoh adalah rahasia-Nya. Ingatlah dan yakinlah! Saya sering berhadapan dengan akhwat atau ikhwan yang tampaknya sangat ngebet untuk menikah, tetapi ternyata tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melaksanakannya. Apa sih sumber daya yang dibutuhkan oleh seorang yang akan menikah?
  • Kesiapan fisik
  • Kesiapan ruhiyah
  • Kesiapan finansial
Itu kata Ustadz Anis Matta, dan menurut Saya lebih banyak diperuntukkan bagi pria. Kalau kata saya untuk akhwat, cukup satu, yaitu NIAT! Apabila kita ingin untuk menikah kita harus meninjau ulang niat kita. Jujur atau tidak alasan utama perempuan usia 20-an untuk menikah adalah kebutuhan biologis, tuntutan adanya cucu dari orang tua dan tekanan sosial dimana hampir semua teman sepermainan sudah menggendong anak!
Ukhtifillah, dalam tuntunan jama’ah kita, landasan yang paling akhsan dalam memutuskan menikah adalah DAKWAH. Dengan kerangka itu kita mulai niat kita, kita persiapkan ubo rampen-nya untuk hajatan besar dalam hidup kita itu.
Lalu dengan landasan niat itu kita kondisikan orang tua, tentang rumah tangga ideal sesuai tuntunan uswah kita, Rasullah SAW. Mengapa mengkondisikan orang tua saya jadikan langkah yang pertama? Hal ini dikarenakan, banyak ikhwah yang melupakannya. Sudah ta’aruf dengan ikhwan yang sholeh dan merasa cocok, namun ketika si ikhwan datang mengkhitbah, orang tua menentang dengan alasan ma’isah-nya belum jelas, bibit, bobot dan bebetnya tidak sebanding dan sebagainya.
Langkah kedua, kondisikanlah diri kita secara fisik. Siapkah siapkah kita menjadi istri dan ibu? Menjadi tonggak Islam, melahirkan jundullah? Hiduplah dengan pola hidup sesuai ajaran Rasul, makan jika lapar dan berhentilah sebelum kenyang, puasalah, dan berolah ragalah. Hal ini yang sering kita lupakan. Karena alasan kesibukan amanah, olah raga menjadi agenda yang kesekian dari prioritas kita. Dan sebaik-baiknya olah raga adalah yang diajarkan Rasul yaitu, berenang, memanah dan berkuda. Olah raga mahal memang, di mana kita bisa menemukan kuda (kecuali di pasar UNPAD mungkin), apalagi lapangan memanah atau kolam renang khusus akhwat. Tapi jalan dan lari pagi mungkin sudah cukup.
Persipan yang terakhir, adalah persiapan tentang ruhiyah. Keikhlasan kita menunggu pasangan hidup. Siapapun dan bagaimanapun ia nantinya. Bila ternyata tidak sesuai dengan gambaran kita tentang ikhwan ideal. Keikhlasan kita untuk memerima kekurangan dan kelebihannya.
(Dia manusia biasa Ukhti…)
Tahap menunggu adalah hal yang tersulit bukan? Sering kali kita merasa kesal jika dalam sebuah perjanjian teman yang janji bertemu tidak kunjung datang. Menunggu pasangan hidup memanglah tidak mudah. Harap-harap cemas. “Diakah? Atau dia? Apakah dia?”
Dalam tahap ini kita harus yakin satu hal, jodoh adalah rahasia-Nya! Jadi tunggu saja, kita pasti mendapatkan yang terbaik buat kita. Memang standar baik kita berbeda yang standar baik-Nya. Jadi…. Percayalah JODOH ADALAH RAHASIANYA!
Wallahu’alam bi showab.
Diperuntukkan bagi diri saya dan akhwatfillah yang sedang “menunggu”, SABARLAH!
Sebuah perenungan saat 4JJI menyuruh Saya istirahat dengan nikmat sakit.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger