Bila dilontarkan kata suci maka definisi yang timbul dalam benak
adalah putih, bersih, harum bahkan melati. Hal ini berkaiatan dengan
memori kolektif manusia bahwa suci atau kesucian adalah sebuah ekspresi
tentang kemurnian.
Bila kata suci ini dikaitkan dengan kesetiaan maka yang mungkin
muncul adalah mengenai keprawanan. Dalam etika pergaulan yang terjadi di
sekitar kita, terutama di kota-kota besar, kata keprawanan adalah hal
yang langka. Menurut penelitian yang dilakukan sebuah LSM di Yogyakarta
hampir 89% dari remaja dengan karakteristik tertentu sudah tidak lagi
perawan. Survei dilakukan pada remaja perempuan, namun Saya kira angka
tersebut akan membengkak bila survei dilakukan di kalangan remaja pria.
Karena bukankah pria cenderung tidak memiliki ‘bekas’?
Saya pernah memiliki pengalaman yang mungkin bisa dijadikan renungan
untuk para pencari cinta sejati. Ini curhatan datang dari seorang ikhwan salaf.
Awalnya ia bercerita tentang malasnya untuk kuliah dan penyakit
psikosomatisnya yang menjurus ke anangkastik. Lalu ia mulai bercerita
tentang gangguan maniakal yang ia idap. Maniak secara seksual, artinya
mudah terangsang namun tidak mudah terpuaskan. Ia bercerita tentang masa
lalunya yang kelam. Ia dulu semasa SMA sering melakukan hubungan
seksual dengan pacar-pacarnya. Ia sering bergonta-ganti pacar sebab
pacarnya sering minta putus. Dan alasan putus karena pacarnya gak kuaat… menahan semburan bazokanya. Wow, ikhwan lho! Siapa yang mengira! Tapi akhirnya saya nyadar bahwa ia adalah pria. Yah, PRIA sebenar-benarnya…
Para pria amat mengagungkan keprawanan. Lalu kalau tidak perawan
artinya adalah cemar. Namun pernahkah Anda pikir hal ini tidak adil
rasanya… Bagi seorang semacam saya yang tidak akan pernah pacaran
sebelum menikah, hal tersebut sedikit mengancam. Bagaimana proses ta’aruf
bisa mengungkap hal ini? Rasanya kok tidak mungkin kita bertanya, Mas
masih perjaka atau tidak? Punya penyakit seksual atau tidak? Berapa
ukuran anu-nya? Kok rasanya ndak pantes. Tetapi bagaimana? Kita kan tidak mau membeli kucing dalam karung… Kalau misalnya pasangan kita adalah seperti ikhwan yang saya paparkan di atas. Bagaimana? Mau? Kok saya agak menolak ya? Rasanya kok mengerikan dan tidak adil!
Pria menuntut keprawanan dari seorang perempuan namun ia sendiri
tidak menjaga keperjakaannya untuk dipersembahkan pada istrinya di malam
pertama. Bagaimana seorang wanita bisa membuktikan keperjakaan
pasangannya? Kan untuk pria hal seperti itu sulit dibuktikan, atau
mungkin bisa dilihat dari kecanggihan gaya seksnya… Kalau amatiran
berarti masih perjaka dan kalau sudah ekspert berarti hal tersebut bukan kali pertama…
Tampaknya jawabannya kembali ke Quran. Seorang perempuan yang baik
pasti akan mendapatkan pria yang baik pula. Jadi kalau misalnya Anda
dapat pria model di atas, maka Anda harus mulai bertanya tentang sejauh
mana Anda telah memelihara diri Anda. Adil?
Bandung, 13 November 2005
Kontemplasi di Kotak Sabun
Kontemplasi di Kotak Sabun
Posting Komentar