kementrian,
kedatangan beliau disambut dengan antusias oleh para peserta, terutama para
mahasiswa. Acara ini dibuka oleh Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro Drs. Tinuk Istiarti, M.Kes, dilanjutkan oleh rektor
UNDIP, dan perwakilan dari Gubernur Jawa Tengah. Dalam pemaparannya,
dijelaskan tentang visi dan misi dari program kesehatan kementrian.
Pemabangunan kesehatan mengarah pada preventif dan promotif redam Ketidakwajaran
Penghasilan, biaya hidup, harta, dan hutang.
Empat hal tersebut adalah komponen yang bisa sampeyan gunakan untuk menentukan
wajar tidaknya kondisi keuangan seseorang. Misalnya biaya hidup saya lebih
kecil daripada penghasilan berarti sisanya akan jadi harta, entah itu saya
simpan dalam bentuk yang gampang cair semacam tabungan atau saya wujudkan dalam
bentuk aset tetap, misalnya properti atau kendaraan. Sebaliknya kalo
penghasilan lebih kecil dari biaya hidup wajarnya akan timbul hutang.
Sepakat?
Monggo diliat contoh di bawah, misalnya ini
adalah posisi harta dan hutang Pak Darmo pada akhir tahun 2009 :
|
Total Harta
|
Rp 100.000.000
|
|
Total Hutang
|
Rp 50.000.000
|
Setelah setahun menjadi Pegawai Negeri Sipil di
sebuah instansi yang konon basah nyemek-nyemek, inilah posisi penghasilan,
harta, dan hutangnya :
|
Penghasilan Setahun
|
Rp 48.000.000
|
|
Total Harta
|
Rp 500.000.000
|
|
Total Hutang
|
Rp -
|
Apa yang bisa sampeyan baca dari laporan
penghasilan, harta, dan hutang di atas?
Ndak wajar? 
Dilihat sekilas memang ndak wajar, tapi di mana
letak ndak wajarnya?
Anggaplah biaya hidup Pak Darmo yang memiliki
seorang istri dan anak yang masih bayi tiap bulan Rp 3.000.000, maka akan
keluar itungan seperti ini :
|
Penambahan Harta
|
Rp 400.000.000
|
|
Pengurangan Hutang
|
Rp 50.000.000
|
|
Tabungan selama setahun
|
(Rp 12.000.000)
|
|
Penghasilan di Luar Gaji
|
Rp 438.000.000
|
Sekarang tinggal dikembalikan lagi ke Pak Darmo,
bisa ndak beliau menjelaskan asal-usul duit Rp 438.000.000 tersebut? Ada
hubungannya sama jabatan di instansi yang konon basah nyemek-nyemek itu ndak?
“Kamu lagi ngapain tho Le? Sok iyes pake mbikin
itung-itungan segala. Mau saingan sama KPK opo piye?” Tanya Kang Noyo sambil
mendelik, melihat angka-angka di kertas coretan saya.
Walaupun bagi saya masih ndak begitu jelas,
fantastis itu yang bagaimana, apa sebanyak Gayus, atau mungkin sebanyak duitnya
para petinggi baju coklat dan baju loreng. Dan yang lebih bikin penasaran lagi,
itu PNS dari instansi mana?
Menurut saya ini adalah masalah klasik yang
mungkin belum bisa diredam sepenuhnya sampai sekarang. Bagaimana mungkin
seorang PNS golongan III bisa punya mobil yang “wah” dengan harga sekian ratus
juta misalnya, atau bagaimana bisa seorang perwira menengah bisa punya rumah di
kawasan elit yang harganya milyaran.
Bisa ndak yang seperti ini dieliminasi?
Menurut saya seharusnya bisa, walaupun perlu
waktu mengingat jumlah pengawas dan yang diawasi ndak sebanding.
Kita mulai dari yang sederhana, bikinlah semacam
MOU antara KPK, Direktorat Jenderal Pajak, dan PPATK.
Kenapa dengan tiga lembaga itu?
Di KPK ada Laporan Harta dan Kekayaan
Penyelenggara Negara, di Direktorat Jenderal Pajak ada SPT Tahunan yang berisi
laporan penghasilan, harta, dan hutang, di PPATK ada data lalu-lintas transaksi
keuangan.
- LHKPN hanya berisi laporan tentang harta dan hutang, asal perolehan
dari mana ndak ada rinciannya. Tapi ada kelebihannya, mengingat reputasi
KPK yang cukup menyeramkan, para pejabat kita mungkin akan lebih jujur
saat mengisi LHKPN dibanding waktu mengisi jumlah harta pada SPT Tahunan
pajak.
- Mungkin ada orang yang ndak jujur waktu ngisi laporan pajak,
tapi SPT Tahunan pajak memiliki kelebihan, di sini rasio penghasilan,
harta, dan hutang bisa diukur dalam periode waktu tertentu. Salah satu
kelebihan lainnya adalah penulisan harta menganut nilai historis, artinya orang
ndak bisa berdalih hartanya bertambah karena meningkatnya nilai pasar.
- PPATK memegang kunci di sini, sebagai pihak yang bisa memantau
arus transaksi PPATK bisa ikut menyuplai data untuk menjadi pertimbangan
kewajaran dan kebenaran laporan penghasilan, harta, dan hutang yang ada di
KPK serta DJP.
Cukup?
Belum, untuk langkah awal kan ndak mungkin
mengawasi semua PNS, ndak bakal cukup SDM yang dimiliki ketiga lembaga di atas.
Cukuplah yang diawasi para pimpinan di tiap kementerian dan lembaga negara,
mungkin sampai level eselon II.
Nah, setelah data penghasilan, harta, dan hutang
para juragan itu direkonsiliasi pada ketiga lembaga tersebut, umumkan pada publik. Biar rakyat ikut
mengawasi, bener ndak yang sudah dilaporkan sama pejabat-pejabat itu. Buatlah
semacam posko pengaduan untuk menampung laporan ketidakbenaran data.
Biarkan nanti terjadi seleksi alam, hanya pimpinan
yang memang punya integritas lah yang akan dipertahankan. Paling ndak itu
sebagai langkah awal, siapa tahu dengan pimpinan yang bersih juga akan
mewujudkan bawahan-bawahan yang bersih.
“Hahaha… Mimpi!” Cetus Kang Noyo.
“Sekarang aku nanya, yang mau bersih-bersih itu
orangnya bersih ndak?”
Ealah, mbok ya sekali-sekali percaya gitu lho.
Gimana mau mulai bersih-bersih kalo sampeyan ndak pernah mau percaya?
tetapi tidak
menges
Jangan Bosan dan Jangan Membosankan
Konon pernah ada seorang guru SD sedang memeriksa
hasil ujian murid-muridnya. Di antara sekian banyak kertas jawaban ada tiga
yang menarik perhatiannya, ketiga murid ini memiliki jawaban nyeleneh yang sama
atas sebuah soal. Pertanyaan yang berbunyi, “PKK merupakan kepanjangan dari…”
dijawab oleh ketiganya dengan, “Polisi Kecantol Kawat.”
Usut punya usut ternyata ketiga anak ini sibuk
bercanda waktu Bu Guru mau menerangkan tentang PKK, kesal dengan kelakuan
mereka Bu Guru pun memukul meja dengan penggaris kayunya, “Kalian jangan bikin
pelajaran sendiri! Kalo mau rame di luar sana!”
Saat Bu Guru berbalik menghadap papan tulis dan
mulai ceramah, “PKK itu adalah….” salah satu di antara ketiga murid ini
nyenggol kedua temannya sambil cekikikan, “PKK itu singkatan dari Polisi
Kecantol Kawat…”
Saya yakin 68% kalo cerita yang saya denger dari
Kang Noyo itu hanyalah cerita imajiner alias khayalan yang terlalu dipaksakan.
Saya hampir ketawa kalo saja ndak inget bahwa seringkali saya juga menceritakan
hal-hal yang ndak kalah imajinernya. Jadi saya mencoba mempertahankan sikap
serius sambil mengambil rokok yang tinggal sebatang sebelum temen saya ini
merampoknya.
“Kamu tau apa yang terjadi Le?” Tanya Kang Noyo.
Apa yang terjadi? 
“Sudah jelas tho Kang, si murid ini ndak
memperhatikan apa yang diajarkan sama gurunya. Makanya waktu ulangan dia
njawabnya salah.” Jawab saya ndak yakin.
“Jawaban khas buruh pabrik, ndak intelek blas.”
Kang Noyo ngakak.
Asyem! 
Guru saya dulu pernah bilang, “Kalo murid mampu
nampungnya cuma segelas, biar dituang air seteko juga percuma, sisanya akan tumpah.”
Hari ini saya mendengar pengibaratan yang baru
lagi dari Kang Noyo, “Kalo misalnya diibaratkan murid ini adalah gelas lengkap
dengan tutupnya, ada satu hal yang harus kita pastikan sebelum kita menuang
air, tutupnya harus terbuka.”
“Hubungannya sama cerita tadi apa Kang?” Tanya
saya.
“Air yang dituang ke dalam gelas tertutup hanya
mampu membasahi bagian luarnya saja, sedikit kena angin ilmunya bakal ilang.
Agar ilmu bisa diserap dengan lebih sempurna kita harus buka tutup gelasnya.”
Aaarggghh! 
Tumben Kang Noyo betah berlama-lama dengan
kalimat sok pinternya. Saya mulai ndak sabar, seiring rokok saya yang sedikit
lagi habis, “Ngomongnya pake bahasa manusia wae tho Kang!”
“Kamu memang ndak bisa diajak ngomong pake bahasa
intelek.” Kang Noyo menggerutu.
Kunci utama dalam memberikan pelajaran ke anak
adalah keceriaan. Itulah yang dimaksud Kang Noyo dengan membuka tutup
gelas. Dalam cerita guru dan muridnya di atas, guru mengajarkan definisi PKK
dengan gaya membosankan, sedangkan ketiga murid memberikan singkatan Polisi
Kecantol Kawat dalam suasana bercanda yang lebih terasa menyenangkan.
“Makanya yang lebih masuk ke otak tiga anak itu
singkatan PKK adalah Polisi Kecantol Kawat, karena dalam suasana ceria otak
lebih mudah merekam apa yang diterimanya.” Jelas Kang Noyo.
Saya jadi ingat obrolan dengan Mbah Suto beberapa
waktu yang lalu, beliau memberikan tips bagaimana agar saya bisa menjadi orang
tua yang hebat. Catet ya, bukan orang tua yang baik, tapi orang tua yang
hebat.
“Kuncinya cuma dua Le, jangan bosan dan jangan
membosankan.” Kata Mbah Suto.
Mungkin sampeyan juga sudah paham kalo
waktu-waktu bersama anak ndak selalu jadi waktu yang menyenangkan. Apalagi
dalam status sampeyan sebagai orang tua terkandung berbagai macam kewajiban
untuk mendidik dan mengarahkan, yang kadang mendapat respon kurang
menyenangkan. Tapi sebagai orang tua sampeyan jangan sampai bosan.
Yang juga ndak kalah penting, jangan sampai
sampeyan jadi orang tua yang membosankan. Anak bukan komputer yang selalu siap
menjalankan perintah tanpa membantah, bukan juga seperti motor yang siap
mengulang ritual yang sama ratusan kali tanpa protes. Sekali-kali coba sampeyan
mencari tau dan mencuri dengar seperti apa citra sampeyan di mata anak.
Antara petuah Mbah Suto dan obrolan dengan Kang
Noyo saya menyimpulkan: sebagai orang tua harus punya kesabaran ekstra dan
mampu berinteraksi secara menarik dengan anak agar tercipta suasana yang selalu
ceria.
Mendadak saya teringat obrolan beberapa ibu di
pabrik yang sedang membanggakan anak-anaknya, kelas 1 SD, berangkat jam 6.30
pagi pulang jam 3 sore, les mengaji setelahnya, tidak lupa bikin PR malemnya,
oh jangan lupakan kursus baletnya. Saya sulit membayangkan anak umur 7 tahun
dengan beban belajar segitu banyaknya, dan masih mampu tersenyum ceria.
Jiyan!
ampingkan aspek
awinan Artis
Saya tau siapa itu Ussy
Sulistiawaty, walaupun ndak tahu persis seperti apa karirnya tapi
lagu Klik yang dulu dia nyanyikan lumayan pas di kuping saya. Yang saya ndak
tau blas itu Andhika Pratama, siapa dia?
Memang, dengan bantuan internet
saya bisa membaca sekilas tentang dia, yang
adalah seorang aktor dan penyanyi Indonesia.
Andhika memulai kariernya dengan bermain pada sinetron, kemudian setelah mulai
menanjak ia bermain dalam film layar lebar D’Girlz Begins (2006). Namanya mulai
melejit saat berperan dalam film The Butterfly. Andhika juga menyanyikan
soundtrack film tersebut bersama dengan Melly Goeslaw.
Tapi mbok yakin, kalo misalnya saya lagi
jalan-jalan trus ketemu dia mungkin saya ndak akan mengenali. Beda kalo saya
lagi jalan dan tiba-tiba ketemu Baby Margaretha misalnya. *eh*
Kenapa saya tiba-tiba ngomong soal mereka berdua?
Kalo sampeyan termasuk penggemar inpotemen
seperti simbok saya di kampung pasti sampeyan sudah paham, karena beberapa
waktu yang lalu mereka memang sempat wira-wiri di beberapa media, mulai foto
pre-wedding yang diambil di Dubai, lamaran, dan ditutup dengan acara kawinan.
Betul sekali sodara-sodara, mereka adalah pasangan artis yang baru saja
menikah.
“Tapi bukankah telat kalo mau mencoba-coba naikin
traffic blog dengan nulis berita soal mereka berdua?”
Ini bukan soal menaikkan jumlah pengunjung. Ini
adalah karena, nganu…
“Opo?” 
Jadi begini…
*dirajam masa, kelamaan nulisnya* 
Mereka kemaren kan mengadakan resepsi di Jakarta,
seperti kebiasaan pada umumnya, resepsi diadakan di tempat mempelai wanita. Lha
trus setelah itu kadang ada acara ngunduh mantu, semacam resepsi yang diadakan
di tempat mempelai pria, dalam peristiwa ini kebetulan si Andhika adalah orang
Malang sehingga acara ngunduh mantu bakal diadakan di Malang.
“Trus?”
Kebetulan saya diundang di acara ngunduh mantu
tersebut. 

Mungkin buat sampeyan ndak ada yang istimewa dari
undangan tersebut, undangan ya undangan, trus kenapa kalo yang ngundang artis?
Apalagi bagi sampeyan yang sudah biasa wira-wiri sama artis. Tapi buat saya,
buruh pabrik dari ndeso, dapet undangan ini kok rasanya agak-agak gimana gitu.
Mungkin malah orang sekampung di Blora sana sudah tau semua, dari simbok yang
saya yakin ndak pengen membuang kesempatan cerita kalo anaknya dapet undangan
dari artis.
Memangnya saya kenal sama mereka berdua?
Ndak kenal sebenarnya, apalagi saya sebenarnya di
Malang ini statusnya cuma warga pendatang, numpang mencari sebutir nasi kalo
kata simbah saya. Cuma kebetulan saja saya dan istri bisa kenal sama bapaknya
Andhika Pratama, sebelum tau kalo anaknya adalah artis. Atau mungkin yang
beliau kenal cuma istri saya? Wong undangannya atas nama istri saya.
Seneng-seneng bingung saya jadinya, bingung mau
kondangan pake baju apa, nanti kondangannya berapa, bingung tenan, wong saya
ini ndesonya ndak ketulungan. Sampeyan bisa tanya Paman Tyo,
Mbak
Devieriana, Ki
Demang Suryaden, Simbok Venus, orang-orang yang pernah melihat
dengan mata kepala sendiri betapa ndak sopistiketednya say
kuratif
dan
Rojo Koyo yang Membuat Kere
Jaman saya masih sekolah dulu ada satu pelajaran
yang selalu sukses membuat saya terpuruk, nilai yang saya dapet ndak pernah
lebih dari enam. Itu pun saya yakin bercampur dengan belas kasihan dari guru
saya. Pelajaran itu adalah Bahasa Jawa.
Memangnya susah?
Kalo sekedar nulis huruf jawa sih saya masih
mampu, tapi kalo sudah menyangkut tata bahasa nyerah saya. Ndak cuma tujuh
tingkatan bahasa yang mbikin mumet, segala macem peribahasa, idiom, dan lain
sebagainya sukses membuat saya tiap kali ujian cuma berdoa semoga Pak Guru
semester ini kembali berbelas kasihan sama saya.
Mendadak inget sama pelajaran ini gara-gara
kemaren sore saya ketemu Kang Noyo di warung Mbok Darmi, sepulang dari liburan
setelah dipaksa cuti sama pabrik tempat saya mburuh.
“Kamu sudah denger Le, katanya mau ada perubahan
dalam buku panduan Bahasa Jawa sekarang.” Kata Kang Noyo.
“Perubahan opo Kang?”
“Sapi, dulu kan masuk kategori rojo koyo, alias benda yang merupakan
simbol kekayaan pemiliknya. Dalam buku panduan Bahasa Jawa versi terbaru sudah
ndak lagi, malah rencananya mau direvisi, sapi sekarang jadi rojo kere, simbol
kebangkrutan bagi yang punya.” Lanjut Kang Noyo.
Welhadalah, mosok iya? 
“Tenan iki, ojo mesam-mesem kowe! Tak keplaki
sisan!” Sungut Kang Noyo.
Haiyah! 
Ternyata kemaren Kang Noyo baru pulang kampung,
dan mendapat kabar kurang mengenakkan.
“Kamu tau sendiri kan, gaji buruh kecil macem
kita ini ndak seberapa. Sudah tak irit-irit sampe lama, akhirnya ngumpul duit
sembilan juta. Tak belikan sapi maksudnya buat investasi, karena kata simbah
dulu kan sapi itu rojo koyo. Harganya pasti naik, belum lagi kalo beranak,
sudah untung naik harganya, masih dapet anaknya juga.” Ujar Kang Noyo mulai
berkeluh-kesah.
Trus piye Kang?
“Berapa bulan yang lalu ada yang nawar sapiku, 6
juta. Lha kok enak, wong dulu aku belinya 9 juta lebih. Eh, kemaren aku nyoba
nanya lagi waktu pulang kampung, dia bilang 6 juta pun belum tentu ada yang
mau. Asem! Lha iki maksudnya piye?!” Kata Kang Noyo dengan nada makin anyel.
Saya jadi inget waktu pulang kampung kemaren.
Kang Sarman, tetangga di kampung beli sapi harga empat juta, trus karena butuh
biaya buat istrinya melahirkan akhirnya sapi dijual, cuma laku 2,7 juta. 
“Malah mahalan kambing mas, aku lho beli kambing
buat aqiqoh seekornya 1,2 juta.” Cerita Kang Sarman sambil bersungut-sungut.
Lebih tragis lagi Pak Basir, yang rumahnya deket
mesjid kampung saya. Beliau beli sapi harga tujuh juta, pas butuh duit dia mau
jual, ditawar orang empat juta. Karena merasa sayang beliau ndak jadi njual,
dan lagi waktu itu sapinya lagi bunting. Sapinya baru dijual setelah beranak.
“Laku berapa Pak?” Tanya saya waktu ketemu.
“Empat juta, induk sama anaknya.” Jawab beliau
pasrah. 
Saya bener-bener heran, kalo ndak salah inget ini
sudah menginjak tahun kedua harga sapi berada dalam titik yang jangankan
membuat peternak untung, menghindar dari kerugian pun nyaris mustahil. Dan celakanya
makin lama makin turun.
Contoh yang paling kelihatan Kang Noyo, dulu dia
merasa sudah untung beli sapi seharga 9 juta, karena dalam kondisi normal harga
sapi yang dia beli berkisar di angka 11 juta. Setelah beberapa bulan ternyata
harganya makin turun, jadi tinggal 6 juta, dan sekarang si blantik sapi bilang
6 juta pun susah njualnya. 
Lebih heran lagi waktu saya baca berita para
pedagang bakso pada demo di gedung DPR, mengeluhkan mahalnya harga daging sapi.
Peternak kecil menjerit karena murahnya harga sapi, sedangkan yang lain marah
karena mahalnya daging sapi. Di mana letak kesalahannya? Siapa perampok
keuntungannya? 
Buat sampeyan yang berminat dengan ternak sapi,
saya sarankan ditunda dulu, paling ndak sampe buku panduan Bahasa Jawa direvisi
ulang dan sapi kembali dimasukkan kategori rojo koyo.
Eh, tapi apa iya ada istilah rojo kere dalam
bahasa jawa? 
“Pokoknya mau tak jual saja sapinya! Aku mau beli
ternak baru ke Mbah Atmo!” Kang Noyo masih belum selese misuh-misuhnya.
“Lho? Setau saya Mbah Atmo itu dukun lho Kang, ndak
jualan ternak.”
“Biarin, pokoknya aku sekarang mau ternak tuyul
saja!” Kang Noyo pergi sambil tetep misuh-misuh.