Latest Movie :
Recent Movies

mbah athmo

lagu yang menurut saya dimainkan dengan skill tinggi di album tersebut.

Dewa 19 – Jangan Pernah Mencoba

Terhanyut si gadis belum 17
Bermesra bersama seorang
Katanya kekasihnya
Tersingkap tak ada batas
Norma agama dan sebagainya
Miskin petuah – petuah orang tua

Oh.. oh.. dengarlah kami
Oh.. oh.. jangan dengarkan bisikan – bisikan
Oh.. oh.. mohon hiraukan
Oh.. oh.. jangan sampai hilang segalanya

Hapuskan semua gairah yang ada
Buang gejolak hasrat mencoba
Belum pasti dia untukmu
Jangan sampai ada airmata
Dari lelaki yang pasti
Mendampingimu untuk selamanya

Bukan masalah hidup disini
Atau disana
Jangan ada nilai yang bergeser
Lepas dari jalurnya
Coba tunggulah sejenak
Sampai benar – benar kau mengerti
Hai!!! Tenangkan hingga kau dapat yang kau cari

Oh.. oh.. dengarlah kami
Oh.. oh.. jangan dengarkan bisikan – bisikan
Oh.. oh.. mohon hiraukan
Oh.. oh.. jangan sampai hilang segalanya

Disini bukan disana
Disana bukan disini
Disini bukan disana
Disana bukan disini

Hapuskan semua gairah yang ada
Buang gejolak hasrat mencoba
Belum pasti dia untukmu
Jangan sampai ada airmata
Dari lelaki yang pasti
Mendampingimu untuk selamanya

Bermasalah

Jul11 mas stein

Beberapa waktu yang lalu saya sempet kelimpungan, gara-gara hape jadul saya yang sudah berapa tahun ini kebanting-banting ndak pernah protes tiba-tiba ngambek. Yang pertama dia ndak mau mbuka phonebook, jadi tiap kali saya nyari nama orang yang ada di daftar si hape jadul ini langsung hang, ndak berapa lama kemudian dia akan restart sendiri. Yang kedua baterainya ngedrop, dari kondisi baterai full begitu dipake nelpon ndak sampe 5 menit dia akan mati, langsung low batt.

Pernah suatu saat ada seorang petinggi nelpon saya sambil marah-marah, belum sampe kalimatnya habis hape saya modar! Walah, saya jadi ndak enak, kesannya saya sudah bosen denger beliaunya ngomel trus saya tutup. Waktu di Jakarta beberapa waktu yang lalu juga gitu, sebelum kopdar sama Cah Ndableg dan Mbak Devi hape saya charge sampe penuh, begitu siang saya sampe di Plasa Semanggi indikator baterai sudah merah, sakaratul maut. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/20.gif

Tapi Kang Noyo cuma mesam-mesem denger keluhan saya, sambil nyeruput kopi seribuan di warung Mbok Darmi dia malah bilang kalo saya ini lucu.

“Lucu piye tho Kang?” Protes saya.

“Yo lucu, wong dulu kamu 20 tahun lebih hidup ndak make hape yo ndak papa, sekarang baru berapa hari hape bermasalah ributnya setengah mati.” Kata Kang Noyo sambil terkekeh.

“Yo lain Kang, sekarang ini hape sudah jadi kebutuhan pokok. Ndak bisa disamakan seperti dulu.” Bantah saya.

“Mosok sih? Kebutuhan pokok itu kan pangan, sandang, papan. Apa sudah dirubah sekarang? Jadi empat gitu, termasuk hape?”

Halah! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/33.gif

“Kamu inget cerita soal botol yang di pilem itu tho Le? Sama kayak kamu sekarang ini.” Kang Noyo ngakak.

Cerita botol ini ada di pilem The God Must Be Crazy, saat sebuah botol yang jatuh di perkampungan suku terasing Afrika dijadikan alat serba guna oleh penduduk lokal. Mereka yang sebelumnya ndak pernah liat botol, dan baik-baik saja hidup tanpa botol, tiba-tiba merasa bahwa botol adalah kebutuhan pokok, dan membuat kehidupan mereka yang sebelumnya tenteram tanpa gejolak menjadi penuh intrik.

Sama seperti saya sekarang. Asyem! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/62.gif

“Kadang aku yo bingung kok Le, sebenarnya hape itu solusi atau masalah?” Kang Noyo mendadak termenung, sambil mengisap rokok pelan-pelan.

Welhah, kesannya dalem bener, padahal cuma ngomong soal hape.http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/21.gif

Menurut Kang Noyo, dunia ini berkembang karena orang berusaha untuk selalu menciptakan solusi. Masalahnya dari tiap solusi yang diciptakan akan selalu timbul masalah baru, yang juga akan dicarikan solusi baru. Berulangnya siklus solusi dan masalah itulah yang membuat dunia terus berkembang.

“Orang bisnis pun pada dasarnya menjual solusi, misalnya yang jualan hapemu itu, juga sebenernya ndak sekedar jualan produk. Mereka juga jualan solusi.” Kang Noyo mulai meracau.

“Orang yang cuma jualan produk ndak akan bisa bertahan lama Le, makanya setiap produk akan berusaha dibungkus dalam wujud solusi. Bahkan kalo sebenarnya produk itu ditargetkan untuk menjadi solusi atas masalah yang baru akan timbul setelah produk itu diciptakan.”

Waduh, mulai mumet saya. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/76.gif

Kang Noyo menyebutkan bahwa solusi dan masalah itu terbagi menjadi empat jenis :

  1. Solusi atas masalah yang sudah ada dan sudah dirasakan

Misalnya di suatu daerah pertanian timbul hama wereng, petani sudah kewalahan menanganinya, kemudian datanglah seseorang jualan pestisida. Solusi ini datang sebagai jawaban atas masalah yang benar-benar terjadi, dan memang sudah dirasakan oleh masyarakat.

  1. Solusi atas masalah yang sudah ada tapi belum dirasakan

Dulu kampung saya ndak punya akses jalan selain jalan setapak yang berkelok-kelok di sepanjang pematang sawah. Penduduk kampung saya terbiasa mengangkut gabah dengan cara dipikul atau make sepeda pancal, ndak ada masalah yang dirasakan. Sebenarnya ndak punya jalan itu masalah, mau nggiling padi susah, mau jual beras susah, tapi karena sudah terbiasa jadi seperti bukan masalah. Jalan yang kemudian dibangun secara swadaya adalah solusi yang membuat penduduk kampung saya sadar bahwa selama ini mereka sebenarnya hidup dalam masalah.

  1. Solusi atas masalah yang akan dimunculkan kemudian

Buatlah sebuah produk lalu bentuk persepsi orang agar mereka merasa membutuhkan produk itu, kalo mau liat contohnya sampeyan tinggal pelototi iklan yang hampir tiap menit tayang di teve.

  1. Solusi atas masalah yang sengaja ditimbulkan agar solusi kelihatan seperti solusi

Lha ini yang gawat, kadang seseorang sengaja membuat situasi yang mengakibatkan dirinya dibutuhkan sebagai pembawa solusi.

“Sik tho Kang? Hubungannya sama hape saya yang rusak ini apa?” Mumet saya denger Kang Noyo ngelantur soal solusa-solusi.

Kang Noyo mendelik karena omongannya saya potong, “Piye tho? Kamu harus tahu masalahmu termasuk kategori yang mana. Jadi kamu tahu persis bahwa solusi yang kamu cari memang benar-benar yang kamu butuhkan, bukan cuma yang kamu pikir kamu butuhkan.”

Makin mumet, saya pamitan, sudah cukup obrolan ini. Saya lho cuma pengen ngeluh soal hape, memangnya siapa yang nanya solusi? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/107.gif

Jiyan!

Presidensial

Mei8 mas stein

Guru saya jaman SMP dulu pernah bilang kalo sistem pemerintahan Republik Indonesia adalah presidensial, yang artinya menteri-menteri bertanggung jawab pada presiden, bukan kepada parlemen. Saat itu guru saya juga bilang bahwa presiden adalah pemegang kekuasaan pemerintahan, panglima tertinggi angkatan bersenjata, presiden bisa menyatakan perang, presiden punya hak ini itu.

“Pokoknya dalam bayangan saya presiden adalah orang dengan kekuasaan yang luar biasa, gagah, disegani dan berwibawa.” Kata saya sama Kang Noyo tadi sore sambil nyruput kopi seribuan di warung Mbok Darmi.

Ndilalah kok ya yang jadi presiden itu Pak Harto yang memang disegani sekaligus ditakuti, pas banget sama bayangan saya tentang sosok presiden.

“Atau bisa jadi kebalik Le, karena waktu itu presidennya Pak Harto jadinya kamu membayangkan sosok presiden sesuai dengan karakter beliau.” Ujar Kang Noyo.

Waktu itu ndak pernah terlintas dalam pikiran saya sosok lembaga tinggi negara yang bernama Dewan Perwakilan Rakyat, wong memang ndak pernah kedengeran suaranya. Atau mungkin karena suara mereka kalah oleh aura kekuasaan Pak Harto.

Semakin kesini saya baru menyadari sosok mereka, ternyata presiden itu ndak sendiri di atas sana. Untuk bisa menjalankan pemerintahan dia harus berjalan beriringan dengan Dewan Perwakilan Rakyat yang berisi perwakilan partai-partai. Partai terdiri dari berbagai macam orang dengan membawa berbagai kepentingan. Berarti presiden harus siap berurusan dengan berbagai kepentingan.

“Sosok presiden di mata saya jadi ndak keliatan gagah, disegani, dan berwibawa lagi Kang. Yang terbayang malah sosok orang yang mumet karena ditarik kesana kemari oleh berbagai kepentingan.” Kata saya.

“Tapi sebagai pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat, selama jadi pemimpin yang memihak rakyat harusnya ndak perlu mumet tho Le?” Tanya Kang Noyo.

“Lha kuwi Kang repotnya, memihak rakyat yang sebelah mana?” Ujar saya.

Lebih repot lagi saat orang-orang yang dipercaya membawa suara rakyat ternyata ndak semuanya mampu mengemban amanah, dengan semena-mena telah menghilangkan makna Dewan Perwakilan Rakyat dan menggantinya dengan semangat Dewan Perwakilan Partai, atau mungkin Dewan Perwakilan Diri.

“Dan bisa jadi mereka ndak merasa salah Kang, karena toh anggota dewan juga rakyat.” Kata saya getir.

Akhirnya jadi repot plus celaka saat presiden ternyata ndak punya cukup kekuatan dan wibawa untuk membuat segan orang-orang tersebut, jadilah dagelan politik. Kata-kata guru saya bahwa menteri bertanggung jawab pada presiden ndak selalu benar, di sini seorang menteri kadang harus rela di-bully anggota dewan saat mereka kalah kemampuan intelektual.

Ndak peduli sampeyan salah atau benar, kalo sampeyan berani membakar buntut seorang petinggi partai, sampeyan harus rela dijadikan pesakitan dalam acara infotainment yang disiarkan secara langsung di tipi.

Bahkan setelah berusaha menyeragamkan berbagai kepentingan agar bisa jadi dukungan dalam bentuk sebuah koalisi pun ternyata ndak mampu mbikin presiden cukup gagah, berwibawa dan disegani. Jangan berharap keberanian dari presiden selaku pemimpin untuk maju ke depan dan bilang, “Dia anak buah saya, tanggung jawab saya, kalo memang Sampeyan mau cari perkara, sini hadapi saya!”

Satu lagi babak baru dalam dagelan di atas sana telah dimulai. Belum juga dingin berita salah seorang menteri terbaik mengundurkan diri karena jerih payahnya kurang dihargai, seorang petinggi partai yang selama ini berseberangan dengan sang mantan menteri diangkat menjadi ketua harian sekretariat bersama partai koalisi.

Saya termenung di antara hangat kopi dan hembusan asap rokok, pernahkah terbersit di hati petinggi-petinggi itu untuk sekali-kali ndak cuma mikir cara mengamankan posisi. Sayup-sayup terdengar alunan lagu Sonny Joss di kejauhan, “Ndang balio Sri… ndang balio…”

Mendadak saya merasa ngenes, ngenes tenan.

 

Si Penagih Utang

Apr14 mas stein

Konon suatu hari ada seorang penagih utang dateng ke rumah seorang debitur yang sudah lama nunggak utangnya. Si penagih utang berusaha menjelaskan panjang lebar maksud kedatangannya, mulai dari sebab munculnya tagihan sampe segala macem usaha yang sudah dilakukan untuk menagih utang tersebut.

“Jadi Pak, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk mengingatkan bahwa sampeyan masih punya kewajiban ngelunasi utang sebesar tiga juta rupiah. Silakan sampeyan datang ke kantor untuk menyelesaikan kewajiban tersebut. Kalo misalnya merasa keberatan melunasi sekaligus sampeyan bisa bicarakan dulu mekanismenya, mungkin nanti sampeyan bisa mencicil.” Kata si penagih utang.

Si tuan rumah yang sudah mumet mikir bayaran anak sekolah, utang ke tukang sayur, tunggakan arisan RT, mertua yang lagi sakit, dan puluhan beban dunia lainnya tersebut seakan ndak mendengar perkataan si penagih utang, bahkan mempersilakan duduk pun ndak. Dia masih tenang duduk anteng di pojokan teras rumah sambil meneruskan kegiatannya.

Dengan logat daerah yang cukup kental akhirnya sang tuan rumah berkata, “Saya lagi ngasah arit Dik, makin lama sampeyan di sini makin lama juga saya ngasah aritnya. Dan kalo sampeyan belom tau, arit ini makin lama diasah akan makin tajam!” http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/45.gifhttp://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/19.gif

Cerita di atas adalah cerita yang sering dipake untuk nggojlok anak-anak baru yang kebetulan dapet tugas jadi tukang tagih di pabrik tempat saya mburuh. Entah benar atau ndak, yang jelas cerita itu cukup untuk menggambarkan bahwa kerja jadi penagih utang itu harus siap dengan bermacem resiko. Mulai dari resiko yang menyenangkan, misalnya debitur ternyata seorang janda muda kesepian yang sekseh semlohay, sampe resiko yang menyeramkan, misalnya di rumah sang debitur ternyata banyak dengan pohon mangga yang penuh ulat bulu. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/42.gif

Saya sendiri kebetulan pernah kedapuk jadi tukang tagih, untungnya ndak terlalu lama, cuma sekitar setahun. Jadi sedikit banyak saya tau suka dukanya jadi tukang tagih, percaya sama saya, walaupun citra debt collector di masyarakat jeleknya ngaudubilahiwongurip, tapi dalam keseharian lebih banyak melasnya. Pokoknyatm kalo ndak kuat mental bakal cepet tua, layu trus berguguran seperti bunga sakura di musim pancaroba. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/44.gif

Waktu saya masih jadi tukang tagih utang dulu yang saya niatkan di pagi hari sebelum berangkat mburuh adalah: saya niat jalan-jalan hari ini. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/36.gif

Kok gitu?

Pokoknyatm niat jalan-jalan, nanti kalo ketemu sama orang yang ditagih trus dia mbayar ya berarti lagi beruntung, kalo ketemu sama orangnya trus saya dimaki-maki ya musibah, tapi kalo ndak ketemu siapa-siapa ya ndak papa, kan niatnya jalan-jalan. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/21.gif

Memangnya ndak ada target?

Target jelas ada, wong namanya kerja ikut orang alias mburuh, pasti ada target. Tapi niatnya tiap hari tetep sama, jalan-jalan. Bedanya kalo target belum terpenuhi jalan-jalannya lebih banyak pelotot kanan pelotot kiri, sedangkan kalo target sudah lewat ndak perlu banyak melotot, jalan-jalan lebih nikmat. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/111.gif

Apa yang paling susah waktu nagih utang?

Nyari orangnya. Kadang alamatnya ndak ketemu, kadang alamat ketemu tapi ternyata cuma rumah kontrakan dan orangnya sudah pindah, kadang alamat ketemu tapi orangnya lagi pergi. Yang paling susah kalo alamat ketemu ternyata rumahnya reyot, anak dan istrinya kurus kering, trus belum sempat kita nagih orangnya sudah ngeluh panjang lebar soal beratnya menanggung beban dunia. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/20.gif

Pernah ketemu yang menyeramkan?

Bangsanya kuntilanak atau pocong gitu? Ndak pernah, kan kita nagih selalu siang-siang. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/16.gif

Maksudnya debitur yang galak! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/102.gif

Oalah, ngobrol dong http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/35.gif. Debitur yang galak pasti ada, tapi ndak banyak. Sama halnya dengan penagih utang yang kasar dan serem macem jin iprit pasti ada, tapi juga ndak semua. Dari yang sekedar adu argumen sampe yang cuma bisa ngangguk-angguk diomeli sama seorang perwira batalyon tempur saya pernah. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/18.gif

Tapi untungnya ndak pernah sampe adu fisik, bukan apa-apa, kalo adu fisik eman-eman badan saya, sudah kurus kering begini kalo gebuk-gebukan mau jadi apa nanti. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/22.gif

Intinya jadi penagih utang itu modal omongan, persuasip kalo kata orang-orang pinter di pabrik. Mencari di mana letak benang kusut yang menyebabkan terjadinya tunggakan dan berusaha sebaik mungkin mengurainya. Saya seneng, pabrik seneng, yang nunggak juga seneng, itu tujuan akhirnya. Tapi kalo memang ndak semua pihak bisa disenangkan, minimal saya yang seneng. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/33.gif

“Halah! Jangan percaya omongannya!” Kang Noyo mendadak motong pembicaraan saya sama anak baru yang katanya sudah diplot jadi tukang tagih.

Kang Noyo nunjuk saya sambil ngomong sama si anak baru, “Kamu tau, dia ini waktu jadi tukang tagih andalannya cuma dua. Kemenyan sama kembang setaman!”

Saya bengong, si anak baru apalagi.

Guru Agama Bermasalah

Jan27 mas stein

Minggu kemaren saya nelpon bapak saya di kampung yang seorang pahlawan tanpa uang tanda jasa, sudah lebih dari 20 tahun beliau ini jadi guru agama di SMP 5 Cepu, sebuah sekolah yang terletak di Cepu, Blora, Jawa Tengah.

Dari ngobrol soal panen padi yang walaupun sempat diserbu kawanan bajak laut burung emprit tapi masih memberi hasil yang lumayan (mungkin sudah jadi cerita umum kalo Cuma ngandalin gaji guru walaupun dengan pangkat IV b-nya gak mungkin saya bisa kuliah sampe tamat), Tyas Mirasih yang sekarang jadian sama vokalis The Changcuter, Aura Kasih yang walaupun wajah pas-pasan tapi bodynya ngaudzubilahi wong urip, akhirnya menyinggung soal yang sudah lama bikin bapak rada jengkel, sertifikasi guru.

Jengkelnya ini bukan karena bapak saya ndak mampu bersaing dengan yang muda-muda dalam perebutan gratifikasi sertifikasi, bukan! Bapak saya sudah lulus sertifikasi hampir setaun. yang jadi masalah adalah proses setelah lulus itu, karena kebetulan bapak saya ini ngajarnya agama Islam maka pengurusan untuk memperoleh tunjangan sertifikasi melalui Departemen Agama, sementara yang ngajar bidang lainnya diajuin lewat Departemen Pendidikan Nasional. Yang bikin bapak jengkel temen-temen seangkatannya yang diurus lewat Diknas udah dapet tunjangan, sedangkan yang diajuin lewat Depag belom ada yang cair.

Saya sempet nanya mungkin orang Depag minta duit kemenyan buat ngurus kali tapi bapak bilang temen-temennya yang juga diurus lewat Depag di kabupaten lain belum ada yang cair, jadi mungkin bermasalahnya di pusat. Saking mangkelnya temen-temen bapak ngajakin plesiran demo ke jakarta tapi bapak bilang opo yo pantes guru agama demo…

Kalo begini saya jadi ragu dengan omongan mendiknas bahwa pada tahun 2009 gaji guru minimal Rp 2 juta, lha wong yang sudah ada juklaknya aja jalannya timpang, gimana yang baru taraf omongan lisan, walaupun yang ngomong ini pak menteri yang terhormat.

Sebarkan :

 

eberapa hari ini saya merasa anyel tenan, kalo kata orang Inggris sana saya lagi ndongkol, sebel yang berlangsung terus-menerus dalam waktu tertentu. Untungnya (lha ini, saya bersukur karena konon dalam kondisi apapun orang Jawa itu selalu untung) rasa anyel itu hanya berlangsung pada waktu tertentu, walaupun secara berlanjut.

“Ngomong kok pasti mbulet. Kamu sebel itu kenapa?” Tanya Kang Noyo kemaren sore, waktu lagi ngobrol nggedabrus di warung kopinya Mbok Darmi.

“Itu lho Kang, saya anyel liat kelakuannya si Paimo!” Kata saya agak bersungut-sungut.

Jadi ceritanya di pabrik itu ada anak baru masuk, namanya Paimo, baru lulus sekolah kemaren. Yang mbikin saya sebel kelakuannya itu lho, namanya anak baru mbok ya ada hormat-hormatnya sedikit sama yang lebih lama macul di pabrik, lha ini sama yang lebih tua sikapnya kayak ndak punya sopan santun.

Sudah gitu orangnya suka mepet-mepet sama Pak Mandor, tipikal oportunis nan penjilat. Belum lagi tiap ada masalah riwilnya setengah hidup, bukannya dipelajari dulu di mana letak masalah dan kemungkinan penyelesaiannya langsung nyerocos nanya kiri kanan atas bawah, hal sepele sekalipun. Pendek kata, dia ndak perlu ngomong, mukanya itu sudah jumotos alias muka minta dijotos.

“Huahahaha! Kamu itu kok ya ada-ada saja, mosok ada muka jumotos?” Kang Noyo ngakak.

“Lho! Beneran ini Kang, kalo sampeyan ndak percaya coba tanya temen-temen yang lain, rata-rata juga pada ndak suka sama dia kok.” Kata saya dengan nada anyel seanyel-anyelnya.

“Sabar Le, ya itu namanya hidup di dunia, banyak warnanya. Mosok ya semua jadi santri, kalo ndak ada yang maling nanti polisi kerjanya apa?” Ujar Kang Noyo.

Wew! Mosok ya bisa begitu analoginya.

“Kalo ada buah jatuh di dekatmu, ada suaranya ndak?” Tanya Kang Noyo.

“Yo ada Kang.” Jawab saya.

“Kenapa kamu bilang ada suaranya?” Tanya Kang Noyo lagi.

“Lho piye tho Sampeyan ini, ya karena saya dengar sendiri.” Jawab saya.

“Kalo misalnya ada buah jatuh di tengah hutan sana, ada suaranya ndak?” Lagi-lagi Kang Noyo mengajukan pertanyaan aneh.

“Yo mestinya ada.” Jawab saya.

“Kenapa kamu bilang ada? Kan kamu ndak denger suaranya?” Tanya Kang Noyo.

“Kalo ada buah jatuh di dekatmu dan kamu nutup kuping, ada suaranya ndak?”

Saya diem, mencoba menerka arah pembicaraan Kang Noyo.

“Orang gila yang nari telanjang di kegelapan mungkin kamu anggap ndak ada karena kamu ndak liat. Sama dengan orang nari telanjang di depanmu tapi kamu merem, sama ndak liatnya juga.” Lanjut Kang Noyo.

“Maksud Sampeyan opo tho Kang?” Tanya saya ndak ngerti.

“Kadang orang merasa terganggu karena apa yang dilihat dan didengarnya, padahal dia bisa milih untuk mengabaikan. Kayak kamu itu! Lha mbok biarin si Paimo mau ngapain aja, ndak usah ngorbankan waktu untuk merasa anyel atau mbuang energi untuk marah-marah.” Jawab Kang Noyo.

“Tapi memang orangnya nganyelke kok Kang, menyebalkan!” Ujar saya ngeyel.

“Memangnya kenapa kalo dia menyebalkan? Percaya tho, semua orang akan mendapat apa yang memang dia layak dapatkan. Kalo memang dia semenyebalkan yang kamu ceritakan, suatu saat pasti akan kena batunya.” Kata Kang Noyo.

“Sukur-sukur kalo kamu mau ngobrol sama dia, kasih tau apa yang kurang enak dari sikapnya. Sesama manusia kan wajib saling mengingatkan, siapa tau dia sebenernya merasa biasa saja, ndak sadar kalo sikapnya ndak enak diliat.” Lanjut Kang Noyo.

“Kalo ternyata masih tetep menyebalkan?” Tanya saya.

“Yo dijotos saja, mungkin itu memang sesuatu yang layak dia dapatkan.” Kang Noyo ngakak.

mbah atmo


kementrian, kedatangan beliau disambut dengan antusias oleh para peserta, terutama para mahasiswa. Acara ini dibuka oleh Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Drs. Tinuk Istiarti, M.Kes, dilanjutkan oleh rektor UNDIP, dan perwakilan dari Gubernur Jawa Tengah. Dalam pemaparannya, dijelaskan tentang visi dan misi dari program kesehatan kementrian. Pemabangunan kesehatan mengarah pada preventif dan promotif redam Ketidakwajaran

Penghasilan, biaya hidup, harta, dan hutang. Empat hal tersebut adalah komponen yang bisa sampeyan gunakan untuk menentukan wajar tidaknya kondisi keuangan seseorang. Misalnya biaya hidup saya lebih kecil daripada penghasilan berarti sisanya akan jadi harta, entah itu saya simpan dalam bentuk yang gampang cair semacam tabungan atau saya wujudkan dalam bentuk aset tetap, misalnya properti atau kendaraan. Sebaliknya kalo penghasilan lebih kecil dari biaya hidup wajarnya akan timbul hutang.
Sepakat?
Monggo diliat contoh di bawah, misalnya ini adalah posisi harta dan hutang Pak Darmo pada akhir tahun 2009 :
Total Harta
Rp 100.000.000
Total Hutang
Rp 50.000.000
Setelah setahun menjadi Pegawai Negeri Sipil di sebuah instansi yang konon basah nyemek-nyemek, inilah posisi penghasilan, harta, dan hutangnya :
Penghasilan Setahun
Rp 48.000.000
Total Harta
Rp 500.000.000
Total Hutang
Rp -
Apa yang bisa sampeyan baca dari laporan penghasilan, harta, dan hutang di atas?
Ndak wajar? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/106.gif
Dilihat sekilas memang ndak wajar, tapi di mana letak ndak wajarnya?
Anggaplah biaya hidup Pak Darmo yang memiliki seorang istri dan anak yang masih bayi tiap bulan Rp 3.000.000, maka akan keluar itungan seperti ini :
Penambahan Harta
Rp 400.000.000
Pengurangan Hutang
Rp 50.000.000
Tabungan selama setahun
(Rp 12.000.000)
Penghasilan di Luar Gaji
Rp 438.000.000
Sekarang tinggal dikembalikan lagi ke Pak Darmo, bisa ndak beliau menjelaskan asal-usul duit Rp 438.000.000 tersebut? Ada hubungannya sama jabatan di instansi yang konon basah nyemek-nyemek itu ndak?
“Kamu lagi ngapain tho Le? Sok iyes pake mbikin itung-itungan segala. Mau saingan sama KPK opo piye?” Tanya Kang Noyo sambil mendelik, melihat angka-angka di kertas coretan saya.
“Itu lho Kang, saya cuma berusaha menjelentrehkan berita yang dirilis sama orang PPATK. Katanya ada banyak PNS yang nilai hartanya fantastis.” Jawab saya.
Walaupun bagi saya masih ndak begitu jelas, fantastis itu yang bagaimana, apa sebanyak Gayus, atau mungkin sebanyak duitnya para petinggi baju coklat dan baju loreng. Dan yang lebih bikin penasaran lagi, itu PNS dari instansi mana?
Menurut saya ini adalah masalah klasik yang mungkin belum bisa diredam sepenuhnya sampai sekarang. Bagaimana mungkin seorang PNS golongan III bisa punya mobil yang “wah” dengan harga sekian ratus juta misalnya, atau bagaimana bisa seorang perwira menengah bisa punya rumah di kawasan elit yang harganya milyaran.
Bisa ndak yang seperti ini dieliminasi?
Menurut saya seharusnya bisa, walaupun perlu waktu mengingat jumlah pengawas dan yang diawasi ndak sebanding.
Kita mulai dari yang sederhana, bikinlah semacam MOU antara KPK, Direktorat Jenderal Pajak, dan PPATK.
Kenapa dengan tiga lembaga itu?
Di KPK ada Laporan Harta dan Kekayaan Penyelenggara Negara, di Direktorat Jenderal Pajak ada SPT Tahunan yang berisi laporan penghasilan, harta, dan hutang, di PPATK ada data lalu-lintas transaksi keuangan.
  • LHKPN hanya berisi laporan tentang harta dan hutang, asal perolehan dari mana ndak ada rinciannya. Tapi ada kelebihannya, mengingat reputasi KPK yang cukup menyeramkan, para pejabat kita mungkin akan lebih jujur saat mengisi LHKPN dibanding waktu mengisi jumlah harta pada SPT Tahunan pajak.
  • Mungkin ada orang yang ndak jujur waktu ngisi laporan pajak, tapi SPT Tahunan pajak memiliki kelebihan, di sini rasio penghasilan, harta, dan hutang bisa diukur dalam periode waktu tertentu. Salah satu kelebihan lainnya adalah penulisan harta menganut nilai historis, artinya orang ndak bisa berdalih hartanya bertambah karena meningkatnya nilai pasar.
  • PPATK memegang kunci di sini, sebagai pihak yang bisa memantau arus transaksi PPATK bisa ikut menyuplai data untuk menjadi pertimbangan kewajaran dan kebenaran laporan penghasilan, harta, dan hutang yang ada di KPK serta DJP.
Cukup?
Belum, untuk langkah awal kan ndak mungkin mengawasi semua PNS, ndak bakal cukup SDM yang dimiliki ketiga lembaga di atas. Cukuplah yang diawasi para pimpinan di tiap kementerian dan lembaga negara, mungkin sampai level eselon II.
Nah, setelah data penghasilan, harta, dan hutang para juragan itu direkonsiliasi pada ketiga lembaga tersebut, umumkan pada publik. Biar rakyat ikut mengawasi, bener ndak yang sudah dilaporkan sama pejabat-pejabat itu. Buatlah semacam posko pengaduan untuk menampung laporan ketidakbenaran data.
Biarkan nanti terjadi seleksi alam, hanya pimpinan yang memang punya integritas lah yang akan dipertahankan. Paling ndak itu sebagai langkah awal, siapa tahu dengan pimpinan yang bersih juga akan mewujudkan bawahan-bawahan yang bersih.
“Hahaha… Mimpi!” Cetus Kang Noyo.
“Sekarang aku nanya, yang mau bersih-bersih itu orangnya bersih ndak?”
Ealah, mbok ya sekali-sekali percaya gitu lho. Gimana mau mulai bersih-bersih kalo sampeyan ndak pernah mau percaya?

 tetapi tidak

menges Jangan Bosan dan Jangan Membosankan

Konon pernah ada seorang guru SD sedang memeriksa hasil ujian murid-muridnya. Di antara sekian banyak kertas jawaban ada tiga yang menarik perhatiannya, ketiga murid ini memiliki jawaban nyeleneh yang sama atas sebuah soal. Pertanyaan yang berbunyi, “PKK merupakan kepanjangan dari…” dijawab oleh ketiganya dengan, “Polisi Kecantol Kawat.”
Usut punya usut ternyata ketiga anak ini sibuk bercanda waktu Bu Guru mau menerangkan tentang PKK, kesal dengan kelakuan mereka Bu Guru pun memukul meja dengan penggaris kayunya, “Kalian jangan bikin pelajaran sendiri! Kalo mau rame di luar sana!”
Saat Bu Guru berbalik menghadap papan tulis dan mulai ceramah, “PKK itu adalah….” salah satu di antara ketiga murid ini nyenggol kedua temannya sambil cekikikan, “PKK itu singkatan dari Polisi Kecantol Kawat…”
Saya yakin 68% kalo cerita yang saya denger dari Kang Noyo itu hanyalah cerita imajiner alias khayalan yang terlalu dipaksakan. Saya hampir ketawa kalo saja ndak inget bahwa seringkali saya juga menceritakan hal-hal yang ndak kalah imajinernya. Jadi saya mencoba mempertahankan sikap serius sambil mengambil rokok yang tinggal sebatang sebelum temen saya ini merampoknya.
“Kamu tau apa yang terjadi Le?” Tanya Kang Noyo.
Apa yang terjadi? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/39.gif
“Sudah jelas tho Kang, si murid ini ndak memperhatikan apa yang diajarkan sama gurunya. Makanya waktu ulangan dia njawabnya salah.” Jawab saya ndak yakin.
“Jawaban khas buruh pabrik, ndak intelek blas.” Kang Noyo ngakak.
Asyem! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/22.gif
Guru saya dulu pernah bilang, “Kalo murid mampu nampungnya cuma segelas, biar dituang air seteko juga percuma, sisanya akan tumpah.”
Hari ini saya mendengar pengibaratan yang baru lagi dari Kang Noyo, “Kalo misalnya diibaratkan murid ini adalah gelas lengkap dengan tutupnya, ada satu hal yang harus kita pastikan sebelum kita menuang air, tutupnya harus terbuka.”
“Hubungannya sama cerita tadi apa Kang?” Tanya saya.
“Air yang dituang ke dalam gelas tertutup hanya mampu membasahi bagian luarnya saja, sedikit kena angin ilmunya bakal ilang. Agar ilmu bisa diserap dengan lebih sempurna kita harus buka tutup gelasnya.”
Aaarggghh! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/102.gif
Tumben Kang Noyo betah berlama-lama dengan kalimat sok pinternya. Saya mulai ndak sabar, seiring rokok saya yang sedikit lagi habis, “Ngomongnya pake bahasa manusia wae tho Kang!”
“Kamu memang ndak bisa diajak ngomong pake bahasa intelek.” Kang Noyo menggerutu.
Kunci utama dalam memberikan pelajaran ke anak adalah keceriaan. Itulah yang dimaksud Kang Noyo dengan membuka tutup gelas. Dalam cerita guru dan muridnya di atas, guru mengajarkan definisi PKK dengan gaya membosankan, sedangkan ketiga murid memberikan singkatan Polisi Kecantol Kawat dalam suasana bercanda yang lebih terasa menyenangkan.
“Makanya yang lebih masuk ke otak tiga anak itu singkatan PKK adalah Polisi Kecantol Kawat, karena dalam suasana ceria otak lebih mudah merekam apa yang diterimanya.” Jelas Kang Noyo.
Saya jadi ingat obrolan dengan Mbah Suto beberapa waktu yang lalu, beliau memberikan tips bagaimana agar saya bisa menjadi orang tua yang hebat. Catet ya, bukan orang tua yang baik, tapi orang tua yang hebat.
“Kuncinya cuma dua Le, jangan bosan dan jangan membosankan.” Kata Mbah Suto.
Mungkin sampeyan juga sudah paham kalo waktu-waktu bersama anak ndak selalu jadi waktu yang menyenangkan. Apalagi dalam status sampeyan sebagai orang tua terkandung berbagai macam kewajiban untuk mendidik dan mengarahkan, yang kadang mendapat respon kurang menyenangkan. Tapi sebagai orang tua sampeyan jangan sampai bosan.
Yang juga ndak kalah penting, jangan sampai sampeyan jadi orang tua yang membosankan. Anak bukan komputer yang selalu siap menjalankan perintah tanpa membantah, bukan juga seperti motor yang siap mengulang ritual yang sama ratusan kali tanpa protes. Sekali-kali coba sampeyan mencari tau dan mencuri dengar seperti apa citra sampeyan di mata anak.
Antara petuah Mbah Suto dan obrolan dengan Kang Noyo saya menyimpulkan: sebagai orang tua harus punya kesabaran ekstra dan mampu berinteraksi secara menarik dengan anak agar tercipta suasana yang selalu ceria.
Mendadak saya teringat obrolan beberapa ibu di pabrik yang sedang membanggakan anak-anaknya, kelas 1 SD, berangkat jam 6.30 pagi pulang jam 3 sore, les mengaji setelahnya, tidak lupa bikin PR malemnya, oh jangan lupakan kursus baletnya. Saya sulit membayangkan anak umur 7 tahun dengan beban belajar segitu banyaknya, dan masih mampu tersenyum ceria.
Jiyan!

 ampingkan aspek

 awinan Artis

Saya tau siapa itu Ussy Sulistiawaty, walaupun ndak tahu persis seperti apa karirnya tapi lagu Klik yang dulu dia nyanyikan lumayan pas di kuping saya. Yang saya ndak tau blas itu Andhika Pratama, siapa dia?
Memang, dengan bantuan internet saya bisa membaca sekilas tentang dia, yang
adalah seorang aktor dan penyanyi Indonesia. Andhika memulai kariernya dengan bermain pada sinetron, kemudian setelah mulai menanjak ia bermain dalam film layar lebar D’Girlz Begins (2006). Namanya mulai melejit saat berperan dalam film The Butterfly. Andhika juga menyanyikan soundtrack film tersebut bersama dengan Melly Goeslaw.
Tapi mbok yakin, kalo misalnya saya lagi jalan-jalan trus ketemu dia mungkin saya ndak akan mengenali. Beda kalo saya lagi jalan dan tiba-tiba ketemu Baby Margaretha misalnya. *eh*http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/114.gif
Kenapa saya tiba-tiba ngomong soal mereka berdua?
Kalo sampeyan termasuk penggemar inpotemen seperti simbok saya di kampung pasti sampeyan sudah paham, karena beberapa waktu yang lalu mereka memang sempat wira-wiri di beberapa media, mulai foto pre-wedding yang diambil di Dubai, lamaran, dan ditutup dengan acara kawinan. Betul sekali sodara-sodara, mereka adalah pasangan artis yang baru saja menikah.
“Tapi bukankah telat kalo mau mencoba-coba naikin traffic blog dengan nulis berita soal mereka berdua?”
Ini bukan soal menaikkan jumlah pengunjung. Ini adalah karena, nganu…
“Opo?” http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/39.gif
Jadi begini…
*dirajam masa, kelamaan nulisnya* http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/21.gif
Mereka kemaren kan mengadakan resepsi di Jakarta, seperti kebiasaan pada umumnya, resepsi diadakan di tempat mempelai wanita. Lha trus setelah itu kadang ada acara ngunduh mantu, semacam resepsi yang diadakan di tempat mempelai pria, dalam peristiwa ini kebetulan si Andhika adalah orang Malang sehingga acara ngunduh mantu bakal diadakan di Malang.
“Trus?”
Kebetulan saya diundang di acara ngunduh mantu tersebut. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/13.gifundangan kawinan ussy
Mungkin buat sampeyan ndak ada yang istimewa dari undangan tersebut, undangan ya undangan, trus kenapa kalo yang ngundang artis? Apalagi bagi sampeyan yang sudah biasa wira-wiri sama artis. Tapi buat saya, buruh pabrik dari ndeso, dapet undangan ini kok rasanya agak-agak gimana gitu. Mungkin malah orang sekampung di Blora sana sudah tau semua, dari simbok yang saya yakin ndak pengen membuang kesempatan cerita kalo anaknya dapet undangan dari artis.
Memangnya saya kenal sama mereka berdua?
Ndak kenal sebenarnya, apalagi saya sebenarnya di Malang ini statusnya cuma warga pendatang, numpang mencari sebutir nasi kalo kata simbah saya. Cuma kebetulan saja saya dan istri bisa kenal sama bapaknya Andhika Pratama, sebelum tau kalo anaknya adalah artis. Atau mungkin yang beliau kenal cuma istri saya? Wong undangannya atas nama istri saya.
Seneng-seneng bingung saya jadinya, bingung mau kondangan pake baju apa, nanti kondangannya berapa, bingung tenan, wong saya ini ndesonya ndak ketulungan. Sampeyan bisa tanya Paman Tyo, Mbak Devieriana, Ki Demang Suryaden, Simbok Venus, orang-orang yang pernah melihat dengan mata kepala sendiri betapa ndak sopistiketednya say

 

kuratif dan

Rojo Koyo yang Membuat Kere

Jaman saya masih sekolah dulu ada satu pelajaran yang selalu sukses membuat saya terpuruk, nilai yang saya dapet ndak pernah lebih dari enam. Itu pun saya yakin bercampur dengan belas kasihan dari guru saya. Pelajaran itu adalah Bahasa Jawa.
Memangnya susah?
Kalo sekedar nulis huruf jawa sih saya masih mampu, tapi kalo sudah menyangkut tata bahasa nyerah saya. Ndak cuma tujuh tingkatan bahasa yang mbikin mumet, segala macem peribahasa, idiom, dan lain sebagainya sukses membuat saya tiap kali ujian cuma berdoa semoga Pak Guru semester ini kembali berbelas kasihan sama saya.http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/63.gif
Mendadak inget sama pelajaran ini gara-gara kemaren sore saya ketemu Kang Noyo di warung Mbok Darmi, sepulang dari liburan setelah dipaksa cuti sama pabrik tempat saya mburuh.
“Kamu sudah denger Le, katanya mau ada perubahan dalam buku panduan Bahasa Jawa sekarang.” Kata Kang Noyo.
“Perubahan opo Kang?”
“Sapi, dulu kan masuk kategori rojo koyo, alias benda yang merupakan simbol kekayaan pemiliknya. Dalam buku panduan Bahasa Jawa versi terbaru sudah ndak lagi, malah rencananya mau direvisi, sapi sekarang jadi rojo kere, simbol kebangkrutan bagi yang punya.” Lanjut Kang Noyo.
Welhadalah, mosok iya? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/21.gif
“Tenan iki, ojo mesam-mesem kowe! Tak keplaki sisan!” Sungut Kang Noyo.
Haiyah! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/106.gif
Ternyata kemaren Kang Noyo baru pulang kampung, dan mendapat kabar kurang mengenakkan.
“Kamu tau sendiri kan, gaji buruh kecil macem kita ini ndak seberapa. Sudah tak irit-irit sampe lama, akhirnya ngumpul duit sembilan juta. Tak belikan sapi maksudnya buat investasi, karena kata simbah dulu kan sapi itu rojo koyo. Harganya pasti naik, belum lagi kalo beranak, sudah untung naik harganya, masih dapet anaknya juga.” Ujar Kang Noyo mulai berkeluh-kesah.
Trus piye Kang?
“Berapa bulan yang lalu ada yang nawar sapiku, 6 juta. Lha kok enak, wong dulu aku belinya 9 juta lebih. Eh, kemaren aku nyoba nanya lagi waktu pulang kampung, dia bilang 6 juta pun belum tentu ada yang mau. Asem! Lha iki maksudnya piye?!” Kata Kang Noyo dengan nada makin anyel.
Saya jadi inget waktu pulang kampung kemaren. Kang Sarman, tetangga di kampung beli sapi harga empat juta, trus karena butuh biaya buat istrinya melahirkan akhirnya sapi dijual, cuma laku 2,7 juta. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/40.gif
“Malah mahalan kambing mas, aku lho beli kambing buat aqiqoh seekornya 1,2 juta.” Cerita Kang Sarman sambil bersungut-sungut.
Lebih tragis lagi Pak Basir, yang rumahnya deket mesjid kampung saya. Beliau beli sapi harga tujuh juta, pas butuh duit dia mau jual, ditawar orang empat juta. Karena merasa sayang beliau ndak jadi njual, dan lagi waktu itu sapinya lagi bunting. Sapinya baru dijual setelah beranak.
“Laku berapa Pak?” Tanya saya waktu ketemu.
“Empat juta, induk sama anaknya.” Jawab beliau pasrah. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/20.gif
Saya bener-bener heran, kalo ndak salah inget ini sudah menginjak tahun kedua harga sapi berada dalam titik yang jangankan membuat peternak untung, menghindar dari kerugian pun nyaris mustahil. Dan celakanya makin lama makin turun.
Contoh yang paling kelihatan Kang Noyo, dulu dia merasa sudah untung beli sapi seharga 9 juta, karena dalam kondisi normal harga sapi yang dia beli berkisar di angka 11 juta. Setelah beberapa bulan ternyata harganya makin turun, jadi tinggal 6 juta, dan sekarang si blantik sapi bilang 6 juta pun susah njualnya. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/39.gif
Lebih heran lagi waktu saya baca berita para pedagang bakso pada demo di gedung DPR, mengeluhkan mahalnya harga daging sapi. Peternak kecil menjerit karena murahnya harga sapi, sedangkan yang lain marah karena mahalnya daging sapi. Di mana letak kesalahannya? Siapa perampok keuntungannya? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/106.gif
Dan saya bener-bener super duper heran waktu melihat pemerintah seakan ndak peduli sama jeritan rakyatnya sendiri. Setelah sempat merencanakan pada tahun 2011 akan mengimpor 50.000 ton daging sapi, pemerintah malah menaikkan kuota impor daging sapi menjadi 72.000 ton. Kalo diitung-itung, tambahan 22 ribu ton itu setara dengan 120 ribu ekor sapi. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/107.gif
Buat sampeyan yang berminat dengan ternak sapi, saya sarankan ditunda dulu, paling ndak sampe buku panduan Bahasa Jawa direvisi ulang dan sapi kembali dimasukkan kategori rojo koyo.
Eh, tapi apa iya ada istilah rojo kere dalam bahasa jawa? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/44.gif
“Pokoknya mau tak jual saja sapinya! Aku mau beli ternak baru ke Mbah Atmo!” Kang Noyo masih belum selese misuh-misuhnya.
“Lho? Setau saya Mbah Atmo itu dukun lho Kang, ndak jualan ternak.”
“Biarin, pokoknya aku sekarang mau ternak tuyul saja!” Kang Noyo pergi sambil tetep misuh-misuh.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger