Latest Movie :

mbah athmo

lagu yang menurut saya dimainkan dengan skill tinggi di album tersebut.

Dewa 19 – Jangan Pernah Mencoba

Terhanyut si gadis belum 17
Bermesra bersama seorang
Katanya kekasihnya
Tersingkap tak ada batas
Norma agama dan sebagainya
Miskin petuah – petuah orang tua

Oh.. oh.. dengarlah kami
Oh.. oh.. jangan dengarkan bisikan – bisikan
Oh.. oh.. mohon hiraukan
Oh.. oh.. jangan sampai hilang segalanya

Hapuskan semua gairah yang ada
Buang gejolak hasrat mencoba
Belum pasti dia untukmu
Jangan sampai ada airmata
Dari lelaki yang pasti
Mendampingimu untuk selamanya

Bukan masalah hidup disini
Atau disana
Jangan ada nilai yang bergeser
Lepas dari jalurnya
Coba tunggulah sejenak
Sampai benar – benar kau mengerti
Hai!!! Tenangkan hingga kau dapat yang kau cari

Oh.. oh.. dengarlah kami
Oh.. oh.. jangan dengarkan bisikan – bisikan
Oh.. oh.. mohon hiraukan
Oh.. oh.. jangan sampai hilang segalanya

Disini bukan disana
Disana bukan disini
Disini bukan disana
Disana bukan disini

Hapuskan semua gairah yang ada
Buang gejolak hasrat mencoba
Belum pasti dia untukmu
Jangan sampai ada airmata
Dari lelaki yang pasti
Mendampingimu untuk selamanya

Bermasalah

Jul11 mas stein

Beberapa waktu yang lalu saya sempet kelimpungan, gara-gara hape jadul saya yang sudah berapa tahun ini kebanting-banting ndak pernah protes tiba-tiba ngambek. Yang pertama dia ndak mau mbuka phonebook, jadi tiap kali saya nyari nama orang yang ada di daftar si hape jadul ini langsung hang, ndak berapa lama kemudian dia akan restart sendiri. Yang kedua baterainya ngedrop, dari kondisi baterai full begitu dipake nelpon ndak sampe 5 menit dia akan mati, langsung low batt.

Pernah suatu saat ada seorang petinggi nelpon saya sambil marah-marah, belum sampe kalimatnya habis hape saya modar! Walah, saya jadi ndak enak, kesannya saya sudah bosen denger beliaunya ngomel trus saya tutup. Waktu di Jakarta beberapa waktu yang lalu juga gitu, sebelum kopdar sama Cah Ndableg dan Mbak Devi hape saya charge sampe penuh, begitu siang saya sampe di Plasa Semanggi indikator baterai sudah merah, sakaratul maut. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/20.gif

Tapi Kang Noyo cuma mesam-mesem denger keluhan saya, sambil nyeruput kopi seribuan di warung Mbok Darmi dia malah bilang kalo saya ini lucu.

“Lucu piye tho Kang?” Protes saya.

“Yo lucu, wong dulu kamu 20 tahun lebih hidup ndak make hape yo ndak papa, sekarang baru berapa hari hape bermasalah ributnya setengah mati.” Kata Kang Noyo sambil terkekeh.

“Yo lain Kang, sekarang ini hape sudah jadi kebutuhan pokok. Ndak bisa disamakan seperti dulu.” Bantah saya.

“Mosok sih? Kebutuhan pokok itu kan pangan, sandang, papan. Apa sudah dirubah sekarang? Jadi empat gitu, termasuk hape?”

Halah! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/33.gif

“Kamu inget cerita soal botol yang di pilem itu tho Le? Sama kayak kamu sekarang ini.” Kang Noyo ngakak.

Cerita botol ini ada di pilem The God Must Be Crazy, saat sebuah botol yang jatuh di perkampungan suku terasing Afrika dijadikan alat serba guna oleh penduduk lokal. Mereka yang sebelumnya ndak pernah liat botol, dan baik-baik saja hidup tanpa botol, tiba-tiba merasa bahwa botol adalah kebutuhan pokok, dan membuat kehidupan mereka yang sebelumnya tenteram tanpa gejolak menjadi penuh intrik.

Sama seperti saya sekarang. Asyem! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/62.gif

“Kadang aku yo bingung kok Le, sebenarnya hape itu solusi atau masalah?” Kang Noyo mendadak termenung, sambil mengisap rokok pelan-pelan.

Welhah, kesannya dalem bener, padahal cuma ngomong soal hape.http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/21.gif

Menurut Kang Noyo, dunia ini berkembang karena orang berusaha untuk selalu menciptakan solusi. Masalahnya dari tiap solusi yang diciptakan akan selalu timbul masalah baru, yang juga akan dicarikan solusi baru. Berulangnya siklus solusi dan masalah itulah yang membuat dunia terus berkembang.

“Orang bisnis pun pada dasarnya menjual solusi, misalnya yang jualan hapemu itu, juga sebenernya ndak sekedar jualan produk. Mereka juga jualan solusi.” Kang Noyo mulai meracau.

“Orang yang cuma jualan produk ndak akan bisa bertahan lama Le, makanya setiap produk akan berusaha dibungkus dalam wujud solusi. Bahkan kalo sebenarnya produk itu ditargetkan untuk menjadi solusi atas masalah yang baru akan timbul setelah produk itu diciptakan.”

Waduh, mulai mumet saya. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/76.gif

Kang Noyo menyebutkan bahwa solusi dan masalah itu terbagi menjadi empat jenis :

  1. Solusi atas masalah yang sudah ada dan sudah dirasakan

Misalnya di suatu daerah pertanian timbul hama wereng, petani sudah kewalahan menanganinya, kemudian datanglah seseorang jualan pestisida. Solusi ini datang sebagai jawaban atas masalah yang benar-benar terjadi, dan memang sudah dirasakan oleh masyarakat.

  1. Solusi atas masalah yang sudah ada tapi belum dirasakan

Dulu kampung saya ndak punya akses jalan selain jalan setapak yang berkelok-kelok di sepanjang pematang sawah. Penduduk kampung saya terbiasa mengangkut gabah dengan cara dipikul atau make sepeda pancal, ndak ada masalah yang dirasakan. Sebenarnya ndak punya jalan itu masalah, mau nggiling padi susah, mau jual beras susah, tapi karena sudah terbiasa jadi seperti bukan masalah. Jalan yang kemudian dibangun secara swadaya adalah solusi yang membuat penduduk kampung saya sadar bahwa selama ini mereka sebenarnya hidup dalam masalah.

  1. Solusi atas masalah yang akan dimunculkan kemudian

Buatlah sebuah produk lalu bentuk persepsi orang agar mereka merasa membutuhkan produk itu, kalo mau liat contohnya sampeyan tinggal pelototi iklan yang hampir tiap menit tayang di teve.

  1. Solusi atas masalah yang sengaja ditimbulkan agar solusi kelihatan seperti solusi

Lha ini yang gawat, kadang seseorang sengaja membuat situasi yang mengakibatkan dirinya dibutuhkan sebagai pembawa solusi.

“Sik tho Kang? Hubungannya sama hape saya yang rusak ini apa?” Mumet saya denger Kang Noyo ngelantur soal solusa-solusi.

Kang Noyo mendelik karena omongannya saya potong, “Piye tho? Kamu harus tahu masalahmu termasuk kategori yang mana. Jadi kamu tahu persis bahwa solusi yang kamu cari memang benar-benar yang kamu butuhkan, bukan cuma yang kamu pikir kamu butuhkan.”

Makin mumet, saya pamitan, sudah cukup obrolan ini. Saya lho cuma pengen ngeluh soal hape, memangnya siapa yang nanya solusi? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/107.gif

Jiyan!

Presidensial

Mei8 mas stein

Guru saya jaman SMP dulu pernah bilang kalo sistem pemerintahan Republik Indonesia adalah presidensial, yang artinya menteri-menteri bertanggung jawab pada presiden, bukan kepada parlemen. Saat itu guru saya juga bilang bahwa presiden adalah pemegang kekuasaan pemerintahan, panglima tertinggi angkatan bersenjata, presiden bisa menyatakan perang, presiden punya hak ini itu.

“Pokoknya dalam bayangan saya presiden adalah orang dengan kekuasaan yang luar biasa, gagah, disegani dan berwibawa.” Kata saya sama Kang Noyo tadi sore sambil nyruput kopi seribuan di warung Mbok Darmi.

Ndilalah kok ya yang jadi presiden itu Pak Harto yang memang disegani sekaligus ditakuti, pas banget sama bayangan saya tentang sosok presiden.

“Atau bisa jadi kebalik Le, karena waktu itu presidennya Pak Harto jadinya kamu membayangkan sosok presiden sesuai dengan karakter beliau.” Ujar Kang Noyo.

Waktu itu ndak pernah terlintas dalam pikiran saya sosok lembaga tinggi negara yang bernama Dewan Perwakilan Rakyat, wong memang ndak pernah kedengeran suaranya. Atau mungkin karena suara mereka kalah oleh aura kekuasaan Pak Harto.

Semakin kesini saya baru menyadari sosok mereka, ternyata presiden itu ndak sendiri di atas sana. Untuk bisa menjalankan pemerintahan dia harus berjalan beriringan dengan Dewan Perwakilan Rakyat yang berisi perwakilan partai-partai. Partai terdiri dari berbagai macam orang dengan membawa berbagai kepentingan. Berarti presiden harus siap berurusan dengan berbagai kepentingan.

“Sosok presiden di mata saya jadi ndak keliatan gagah, disegani, dan berwibawa lagi Kang. Yang terbayang malah sosok orang yang mumet karena ditarik kesana kemari oleh berbagai kepentingan.” Kata saya.

“Tapi sebagai pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat, selama jadi pemimpin yang memihak rakyat harusnya ndak perlu mumet tho Le?” Tanya Kang Noyo.

“Lha kuwi Kang repotnya, memihak rakyat yang sebelah mana?” Ujar saya.

Lebih repot lagi saat orang-orang yang dipercaya membawa suara rakyat ternyata ndak semuanya mampu mengemban amanah, dengan semena-mena telah menghilangkan makna Dewan Perwakilan Rakyat dan menggantinya dengan semangat Dewan Perwakilan Partai, atau mungkin Dewan Perwakilan Diri.

“Dan bisa jadi mereka ndak merasa salah Kang, karena toh anggota dewan juga rakyat.” Kata saya getir.

Akhirnya jadi repot plus celaka saat presiden ternyata ndak punya cukup kekuatan dan wibawa untuk membuat segan orang-orang tersebut, jadilah dagelan politik. Kata-kata guru saya bahwa menteri bertanggung jawab pada presiden ndak selalu benar, di sini seorang menteri kadang harus rela di-bully anggota dewan saat mereka kalah kemampuan intelektual.

Ndak peduli sampeyan salah atau benar, kalo sampeyan berani membakar buntut seorang petinggi partai, sampeyan harus rela dijadikan pesakitan dalam acara infotainment yang disiarkan secara langsung di tipi.

Bahkan setelah berusaha menyeragamkan berbagai kepentingan agar bisa jadi dukungan dalam bentuk sebuah koalisi pun ternyata ndak mampu mbikin presiden cukup gagah, berwibawa dan disegani. Jangan berharap keberanian dari presiden selaku pemimpin untuk maju ke depan dan bilang, “Dia anak buah saya, tanggung jawab saya, kalo memang Sampeyan mau cari perkara, sini hadapi saya!”

Satu lagi babak baru dalam dagelan di atas sana telah dimulai. Belum juga dingin berita salah seorang menteri terbaik mengundurkan diri karena jerih payahnya kurang dihargai, seorang petinggi partai yang selama ini berseberangan dengan sang mantan menteri diangkat menjadi ketua harian sekretariat bersama partai koalisi.

Saya termenung di antara hangat kopi dan hembusan asap rokok, pernahkah terbersit di hati petinggi-petinggi itu untuk sekali-kali ndak cuma mikir cara mengamankan posisi. Sayup-sayup terdengar alunan lagu Sonny Joss di kejauhan, “Ndang balio Sri… ndang balio…”

Mendadak saya merasa ngenes, ngenes tenan.

 

Si Penagih Utang

Apr14 mas stein

Konon suatu hari ada seorang penagih utang dateng ke rumah seorang debitur yang sudah lama nunggak utangnya. Si penagih utang berusaha menjelaskan panjang lebar maksud kedatangannya, mulai dari sebab munculnya tagihan sampe segala macem usaha yang sudah dilakukan untuk menagih utang tersebut.

“Jadi Pak, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk mengingatkan bahwa sampeyan masih punya kewajiban ngelunasi utang sebesar tiga juta rupiah. Silakan sampeyan datang ke kantor untuk menyelesaikan kewajiban tersebut. Kalo misalnya merasa keberatan melunasi sekaligus sampeyan bisa bicarakan dulu mekanismenya, mungkin nanti sampeyan bisa mencicil.” Kata si penagih utang.

Si tuan rumah yang sudah mumet mikir bayaran anak sekolah, utang ke tukang sayur, tunggakan arisan RT, mertua yang lagi sakit, dan puluhan beban dunia lainnya tersebut seakan ndak mendengar perkataan si penagih utang, bahkan mempersilakan duduk pun ndak. Dia masih tenang duduk anteng di pojokan teras rumah sambil meneruskan kegiatannya.

Dengan logat daerah yang cukup kental akhirnya sang tuan rumah berkata, “Saya lagi ngasah arit Dik, makin lama sampeyan di sini makin lama juga saya ngasah aritnya. Dan kalo sampeyan belom tau, arit ini makin lama diasah akan makin tajam!” http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/45.gifhttp://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/19.gif

Cerita di atas adalah cerita yang sering dipake untuk nggojlok anak-anak baru yang kebetulan dapet tugas jadi tukang tagih di pabrik tempat saya mburuh. Entah benar atau ndak, yang jelas cerita itu cukup untuk menggambarkan bahwa kerja jadi penagih utang itu harus siap dengan bermacem resiko. Mulai dari resiko yang menyenangkan, misalnya debitur ternyata seorang janda muda kesepian yang sekseh semlohay, sampe resiko yang menyeramkan, misalnya di rumah sang debitur ternyata banyak dengan pohon mangga yang penuh ulat bulu. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/42.gif

Saya sendiri kebetulan pernah kedapuk jadi tukang tagih, untungnya ndak terlalu lama, cuma sekitar setahun. Jadi sedikit banyak saya tau suka dukanya jadi tukang tagih, percaya sama saya, walaupun citra debt collector di masyarakat jeleknya ngaudubilahiwongurip, tapi dalam keseharian lebih banyak melasnya. Pokoknyatm kalo ndak kuat mental bakal cepet tua, layu trus berguguran seperti bunga sakura di musim pancaroba. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/44.gif

Waktu saya masih jadi tukang tagih utang dulu yang saya niatkan di pagi hari sebelum berangkat mburuh adalah: saya niat jalan-jalan hari ini. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/36.gif

Kok gitu?

Pokoknyatm niat jalan-jalan, nanti kalo ketemu sama orang yang ditagih trus dia mbayar ya berarti lagi beruntung, kalo ketemu sama orangnya trus saya dimaki-maki ya musibah, tapi kalo ndak ketemu siapa-siapa ya ndak papa, kan niatnya jalan-jalan. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/21.gif

Memangnya ndak ada target?

Target jelas ada, wong namanya kerja ikut orang alias mburuh, pasti ada target. Tapi niatnya tiap hari tetep sama, jalan-jalan. Bedanya kalo target belum terpenuhi jalan-jalannya lebih banyak pelotot kanan pelotot kiri, sedangkan kalo target sudah lewat ndak perlu banyak melotot, jalan-jalan lebih nikmat. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/111.gif

Apa yang paling susah waktu nagih utang?

Nyari orangnya. Kadang alamatnya ndak ketemu, kadang alamat ketemu tapi ternyata cuma rumah kontrakan dan orangnya sudah pindah, kadang alamat ketemu tapi orangnya lagi pergi. Yang paling susah kalo alamat ketemu ternyata rumahnya reyot, anak dan istrinya kurus kering, trus belum sempat kita nagih orangnya sudah ngeluh panjang lebar soal beratnya menanggung beban dunia. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/20.gif

Pernah ketemu yang menyeramkan?

Bangsanya kuntilanak atau pocong gitu? Ndak pernah, kan kita nagih selalu siang-siang. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/16.gif

Maksudnya debitur yang galak! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/102.gif

Oalah, ngobrol dong http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/35.gif. Debitur yang galak pasti ada, tapi ndak banyak. Sama halnya dengan penagih utang yang kasar dan serem macem jin iprit pasti ada, tapi juga ndak semua. Dari yang sekedar adu argumen sampe yang cuma bisa ngangguk-angguk diomeli sama seorang perwira batalyon tempur saya pernah. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/18.gif

Tapi untungnya ndak pernah sampe adu fisik, bukan apa-apa, kalo adu fisik eman-eman badan saya, sudah kurus kering begini kalo gebuk-gebukan mau jadi apa nanti. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/22.gif

Intinya jadi penagih utang itu modal omongan, persuasip kalo kata orang-orang pinter di pabrik. Mencari di mana letak benang kusut yang menyebabkan terjadinya tunggakan dan berusaha sebaik mungkin mengurainya. Saya seneng, pabrik seneng, yang nunggak juga seneng, itu tujuan akhirnya. Tapi kalo memang ndak semua pihak bisa disenangkan, minimal saya yang seneng. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/33.gif

“Halah! Jangan percaya omongannya!” Kang Noyo mendadak motong pembicaraan saya sama anak baru yang katanya sudah diplot jadi tukang tagih.

Kang Noyo nunjuk saya sambil ngomong sama si anak baru, “Kamu tau, dia ini waktu jadi tukang tagih andalannya cuma dua. Kemenyan sama kembang setaman!”

Saya bengong, si anak baru apalagi.

Guru Agama Bermasalah

Jan27 mas stein

Minggu kemaren saya nelpon bapak saya di kampung yang seorang pahlawan tanpa uang tanda jasa, sudah lebih dari 20 tahun beliau ini jadi guru agama di SMP 5 Cepu, sebuah sekolah yang terletak di Cepu, Blora, Jawa Tengah.

Dari ngobrol soal panen padi yang walaupun sempat diserbu kawanan bajak laut burung emprit tapi masih memberi hasil yang lumayan (mungkin sudah jadi cerita umum kalo Cuma ngandalin gaji guru walaupun dengan pangkat IV b-nya gak mungkin saya bisa kuliah sampe tamat), Tyas Mirasih yang sekarang jadian sama vokalis The Changcuter, Aura Kasih yang walaupun wajah pas-pasan tapi bodynya ngaudzubilahi wong urip, akhirnya menyinggung soal yang sudah lama bikin bapak rada jengkel, sertifikasi guru.

Jengkelnya ini bukan karena bapak saya ndak mampu bersaing dengan yang muda-muda dalam perebutan gratifikasi sertifikasi, bukan! Bapak saya sudah lulus sertifikasi hampir setaun. yang jadi masalah adalah proses setelah lulus itu, karena kebetulan bapak saya ini ngajarnya agama Islam maka pengurusan untuk memperoleh tunjangan sertifikasi melalui Departemen Agama, sementara yang ngajar bidang lainnya diajuin lewat Departemen Pendidikan Nasional. Yang bikin bapak jengkel temen-temen seangkatannya yang diurus lewat Diknas udah dapet tunjangan, sedangkan yang diajuin lewat Depag belom ada yang cair.

Saya sempet nanya mungkin orang Depag minta duit kemenyan buat ngurus kali tapi bapak bilang temen-temennya yang juga diurus lewat Depag di kabupaten lain belum ada yang cair, jadi mungkin bermasalahnya di pusat. Saking mangkelnya temen-temen bapak ngajakin plesiran demo ke jakarta tapi bapak bilang opo yo pantes guru agama demo…

Kalo begini saya jadi ragu dengan omongan mendiknas bahwa pada tahun 2009 gaji guru minimal Rp 2 juta, lha wong yang sudah ada juklaknya aja jalannya timpang, gimana yang baru taraf omongan lisan, walaupun yang ngomong ini pak menteri yang terhormat.

Sebarkan :

 

eberapa hari ini saya merasa anyel tenan, kalo kata orang Inggris sana saya lagi ndongkol, sebel yang berlangsung terus-menerus dalam waktu tertentu. Untungnya (lha ini, saya bersukur karena konon dalam kondisi apapun orang Jawa itu selalu untung) rasa anyel itu hanya berlangsung pada waktu tertentu, walaupun secara berlanjut.

“Ngomong kok pasti mbulet. Kamu sebel itu kenapa?” Tanya Kang Noyo kemaren sore, waktu lagi ngobrol nggedabrus di warung kopinya Mbok Darmi.

“Itu lho Kang, saya anyel liat kelakuannya si Paimo!” Kata saya agak bersungut-sungut.

Jadi ceritanya di pabrik itu ada anak baru masuk, namanya Paimo, baru lulus sekolah kemaren. Yang mbikin saya sebel kelakuannya itu lho, namanya anak baru mbok ya ada hormat-hormatnya sedikit sama yang lebih lama macul di pabrik, lha ini sama yang lebih tua sikapnya kayak ndak punya sopan santun.

Sudah gitu orangnya suka mepet-mepet sama Pak Mandor, tipikal oportunis nan penjilat. Belum lagi tiap ada masalah riwilnya setengah hidup, bukannya dipelajari dulu di mana letak masalah dan kemungkinan penyelesaiannya langsung nyerocos nanya kiri kanan atas bawah, hal sepele sekalipun. Pendek kata, dia ndak perlu ngomong, mukanya itu sudah jumotos alias muka minta dijotos.

“Huahahaha! Kamu itu kok ya ada-ada saja, mosok ada muka jumotos?” Kang Noyo ngakak.

“Lho! Beneran ini Kang, kalo sampeyan ndak percaya coba tanya temen-temen yang lain, rata-rata juga pada ndak suka sama dia kok.” Kata saya dengan nada anyel seanyel-anyelnya.

“Sabar Le, ya itu namanya hidup di dunia, banyak warnanya. Mosok ya semua jadi santri, kalo ndak ada yang maling nanti polisi kerjanya apa?” Ujar Kang Noyo.

Wew! Mosok ya bisa begitu analoginya.

“Kalo ada buah jatuh di dekatmu, ada suaranya ndak?” Tanya Kang Noyo.

“Yo ada Kang.” Jawab saya.

“Kenapa kamu bilang ada suaranya?” Tanya Kang Noyo lagi.

“Lho piye tho Sampeyan ini, ya karena saya dengar sendiri.” Jawab saya.

“Kalo misalnya ada buah jatuh di tengah hutan sana, ada suaranya ndak?” Lagi-lagi Kang Noyo mengajukan pertanyaan aneh.

“Yo mestinya ada.” Jawab saya.

“Kenapa kamu bilang ada? Kan kamu ndak denger suaranya?” Tanya Kang Noyo.

“Kalo ada buah jatuh di dekatmu dan kamu nutup kuping, ada suaranya ndak?”

Saya diem, mencoba menerka arah pembicaraan Kang Noyo.

“Orang gila yang nari telanjang di kegelapan mungkin kamu anggap ndak ada karena kamu ndak liat. Sama dengan orang nari telanjang di depanmu tapi kamu merem, sama ndak liatnya juga.” Lanjut Kang Noyo.

“Maksud Sampeyan opo tho Kang?” Tanya saya ndak ngerti.

“Kadang orang merasa terganggu karena apa yang dilihat dan didengarnya, padahal dia bisa milih untuk mengabaikan. Kayak kamu itu! Lha mbok biarin si Paimo mau ngapain aja, ndak usah ngorbankan waktu untuk merasa anyel atau mbuang energi untuk marah-marah.” Jawab Kang Noyo.

“Tapi memang orangnya nganyelke kok Kang, menyebalkan!” Ujar saya ngeyel.

“Memangnya kenapa kalo dia menyebalkan? Percaya tho, semua orang akan mendapat apa yang memang dia layak dapatkan. Kalo memang dia semenyebalkan yang kamu ceritakan, suatu saat pasti akan kena batunya.” Kata Kang Noyo.

“Sukur-sukur kalo kamu mau ngobrol sama dia, kasih tau apa yang kurang enak dari sikapnya. Sesama manusia kan wajib saling mengingatkan, siapa tau dia sebenernya merasa biasa saja, ndak sadar kalo sikapnya ndak enak diliat.” Lanjut Kang Noyo.

“Kalo ternyata masih tetep menyebalkan?” Tanya saya.

“Yo dijotos saja, mungkin itu memang sesuatu yang layak dia dapatkan.” Kang Noyo ngakak.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger