lagu yang menurut saya dimainkan dengan skill
tinggi di album tersebut.
Dewa 19 – Jangan Pernah Mencoba
Terhanyut si gadis belum 17
Bermesra bersama seorang
Katanya kekasihnya
Tersingkap tak ada batas
Norma agama dan sebagainya
Miskin petuah – petuah orang tua
Oh.. oh.. dengarlah kami
Oh.. oh.. jangan dengarkan bisikan – bisikan
Oh.. oh.. mohon hiraukan
Oh.. oh.. jangan sampai hilang segalanya
Hapuskan semua gairah yang ada
Buang gejolak hasrat mencoba
Belum pasti dia untukmu
Jangan sampai ada airmata
Dari lelaki yang pasti
Mendampingimu untuk selamanya
Bukan masalah hidup disini
Atau disana
Jangan ada nilai yang bergeser
Lepas dari jalurnya
Coba tunggulah sejenak
Sampai benar – benar kau mengerti
Hai!!! Tenangkan hingga kau dapat yang kau cari
Oh.. oh.. dengarlah kami
Oh.. oh.. jangan dengarkan bisikan – bisikan
Oh.. oh.. mohon hiraukan
Oh.. oh.. jangan sampai hilang segalanya
Disini bukan disana
Disana bukan disini
Disini bukan disana
Disana bukan disini
Hapuskan semua gairah yang ada
Buang gejolak hasrat mencoba
Belum pasti dia untukmu
Jangan sampai ada airmata
Dari lelaki yang pasti
Mendampingimu untuk selamanya
Bermasalah
Beberapa waktu yang lalu saya sempet kelimpungan,
gara-gara hape jadul saya yang sudah berapa tahun ini kebanting-banting ndak
pernah protes tiba-tiba ngambek. Yang pertama dia ndak mau mbuka phonebook,
jadi tiap kali saya nyari nama orang yang ada di daftar si hape jadul ini
langsung hang, ndak berapa lama kemudian dia akan restart
sendiri. Yang kedua baterainya ngedrop, dari kondisi baterai full begitu dipake
nelpon ndak sampe 5 menit dia akan mati, langsung low batt.
Pernah suatu saat ada seorang petinggi nelpon
saya sambil marah-marah, belum sampe kalimatnya habis hape saya modar! Walah,
saya jadi ndak enak, kesannya saya sudah bosen denger beliaunya ngomel trus
saya tutup. Waktu di Jakarta beberapa waktu yang lalu juga gitu, sebelum kopdar
sama Cah Ndableg
dan Mbak Devi
hape saya charge sampe penuh, begitu siang saya sampe di Plasa Semanggi
indikator baterai sudah merah, sakaratul maut. 
Tapi Kang Noyo cuma mesam-mesem denger keluhan
saya, sambil nyeruput kopi seribuan di warung Mbok Darmi dia malah bilang kalo
saya ini lucu.
“Lucu piye tho Kang?” Protes saya.
“Yo lucu, wong dulu kamu 20 tahun lebih hidup
ndak make hape yo ndak papa, sekarang baru berapa hari hape bermasalah ributnya
setengah mati.” Kata Kang Noyo sambil terkekeh.
“Yo lain Kang, sekarang ini hape sudah jadi
kebutuhan pokok. Ndak bisa disamakan seperti dulu.” Bantah saya.
“Mosok sih? Kebutuhan pokok itu kan pangan,
sandang, papan. Apa sudah dirubah sekarang? Jadi empat gitu, termasuk hape?”
Halah! 
“Kamu inget cerita soal botol yang di pilem itu
tho Le? Sama kayak kamu sekarang ini.” Kang Noyo ngakak.
Cerita botol ini ada di pilem The God Must Be Crazy, saat sebuah botol yang
jatuh di perkampungan suku terasing Afrika dijadikan alat serba guna oleh
penduduk lokal. Mereka yang sebelumnya ndak pernah liat botol, dan baik-baik
saja hidup tanpa botol, tiba-tiba merasa bahwa botol adalah kebutuhan pokok,
dan membuat kehidupan mereka yang sebelumnya tenteram tanpa gejolak menjadi
penuh intrik.
Sama seperti saya sekarang. Asyem! 
“Kadang aku yo bingung kok Le, sebenarnya hape
itu solusi atau masalah?” Kang Noyo mendadak termenung, sambil mengisap rokok
pelan-pelan.
Welhah, kesannya dalem bener, padahal cuma
ngomong soal hape.
Menurut Kang Noyo, dunia ini berkembang karena
orang berusaha untuk selalu menciptakan solusi. Masalahnya dari tiap solusi
yang diciptakan akan selalu timbul masalah baru, yang juga akan dicarikan
solusi baru. Berulangnya siklus solusi dan masalah itulah yang membuat dunia
terus berkembang.
“Orang bisnis pun pada dasarnya menjual solusi,
misalnya yang jualan hapemu itu, juga sebenernya ndak sekedar jualan produk.
Mereka juga jualan solusi.” Kang Noyo mulai meracau.
“Orang yang cuma jualan produk ndak akan bisa
bertahan lama Le, makanya setiap produk akan berusaha dibungkus dalam wujud
solusi. Bahkan kalo sebenarnya produk itu ditargetkan untuk menjadi solusi atas
masalah yang baru akan timbul setelah produk itu diciptakan.”
Waduh, mulai mumet saya. 
Kang Noyo menyebutkan bahwa solusi dan masalah
itu terbagi menjadi empat jenis :
Solusi atas masalah yang sudah ada dan sudah dirasakan
Misalnya di suatu daerah
pertanian timbul hama wereng, petani sudah kewalahan menanganinya, kemudian
datanglah seseorang jualan pestisida. Solusi ini datang sebagai jawaban atas
masalah yang benar-benar terjadi, dan memang sudah dirasakan oleh masyarakat.
Solusi atas masalah yang sudah ada tapi belum dirasakan
Dulu kampung saya ndak punya
akses jalan selain jalan setapak yang berkelok-kelok di sepanjang pematang
sawah. Penduduk kampung saya terbiasa mengangkut gabah dengan cara dipikul atau
make sepeda pancal, ndak ada masalah yang dirasakan. Sebenarnya ndak punya
jalan itu masalah, mau nggiling padi susah, mau jual beras susah, tapi karena
sudah terbiasa jadi seperti bukan masalah. Jalan yang kemudian dibangun secara
swadaya adalah solusi yang membuat penduduk kampung saya sadar bahwa selama ini
mereka sebenarnya hidup dalam masalah.
Solusi atas masalah yang akan dimunculkan kemudian
Buatlah sebuah produk lalu
bentuk persepsi orang agar mereka merasa membutuhkan produk itu, kalo mau liat
contohnya sampeyan tinggal pelototi iklan yang hampir tiap menit tayang di
teve.
Solusi atas masalah yang sengaja ditimbulkan agar solusi
kelihatan seperti solusi
Lha ini yang gawat, kadang
seseorang sengaja membuat situasi yang mengakibatkan dirinya dibutuhkan sebagai
pembawa solusi.
“Sik tho Kang? Hubungannya sama hape saya yang
rusak ini apa?” Mumet saya denger Kang Noyo ngelantur soal solusa-solusi.
Kang Noyo mendelik karena omongannya saya potong,
“Piye tho? Kamu harus tahu masalahmu termasuk kategori yang mana. Jadi kamu
tahu persis bahwa solusi yang kamu cari memang benar-benar yang kamu butuhkan,
bukan cuma yang kamu pikir kamu butuhkan.”
Makin mumet, saya pamitan, sudah cukup obrolan
ini. Saya lho cuma pengen ngeluh soal hape, memangnya siapa yang nanya solusi? 
Jiyan!
Presidensial
Guru saya jaman SMP dulu pernah bilang kalo
sistem pemerintahan Republik Indonesia adalah presidensial, yang artinya menteri-menteri bertanggung
jawab pada presiden, bukan kepada parlemen. Saat itu guru saya juga bilang
bahwa presiden adalah pemegang kekuasaan pemerintahan, panglima tertinggi
angkatan bersenjata, presiden bisa menyatakan perang, presiden punya hak ini
itu.
“Pokoknya dalam bayangan saya presiden adalah
orang dengan kekuasaan yang luar biasa, gagah, disegani dan berwibawa.” Kata
saya sama Kang Noyo tadi sore sambil nyruput kopi seribuan di warung Mbok
Darmi.
Ndilalah kok ya yang jadi presiden itu Pak Harto
yang memang disegani sekaligus ditakuti, pas banget sama bayangan saya tentang
sosok presiden.
“Atau bisa jadi kebalik Le, karena waktu itu
presidennya Pak Harto jadinya kamu membayangkan sosok presiden sesuai dengan
karakter beliau.” Ujar Kang Noyo.
Waktu itu ndak pernah terlintas dalam pikiran
saya sosok lembaga tinggi negara yang bernama Dewan Perwakilan Rakyat, wong
memang ndak pernah kedengeran suaranya. Atau mungkin karena suara mereka kalah
oleh aura kekuasaan Pak Harto.
Semakin kesini saya baru menyadari sosok mereka,
ternyata presiden itu ndak sendiri di atas sana. Untuk bisa menjalankan
pemerintahan dia harus berjalan beriringan dengan Dewan Perwakilan Rakyat yang
berisi perwakilan partai-partai. Partai terdiri dari berbagai macam orang
dengan membawa berbagai kepentingan. Berarti presiden harus siap berurusan
dengan berbagai kepentingan.
“Sosok presiden di mata saya jadi ndak keliatan
gagah, disegani, dan berwibawa lagi Kang. Yang terbayang malah sosok orang yang
mumet karena ditarik kesana kemari oleh berbagai kepentingan.” Kata saya.
“Tapi sebagai pemimpin yang dipilih langsung oleh
rakyat, selama jadi pemimpin yang memihak rakyat harusnya ndak perlu mumet tho
Le?” Tanya Kang Noyo.
“Lha kuwi Kang repotnya, memihak rakyat yang
sebelah mana?” Ujar saya.
Lebih repot lagi saat orang-orang yang dipercaya
membawa suara rakyat ternyata ndak semuanya mampu mengemban amanah, dengan
semena-mena telah menghilangkan makna Dewan Perwakilan Rakyat dan menggantinya
dengan semangat Dewan Perwakilan Partai, atau mungkin Dewan
Perwakilan Diri.
“Dan bisa jadi mereka ndak merasa salah Kang,
karena toh anggota dewan juga rakyat.” Kata saya getir.
Akhirnya jadi repot plus celaka saat presiden
ternyata ndak punya cukup kekuatan dan wibawa untuk membuat segan orang-orang
tersebut, jadilah dagelan politik. Kata-kata guru saya bahwa menteri
bertanggung jawab pada presiden ndak selalu benar, di sini seorang menteri
kadang harus rela di-bully anggota dewan saat mereka kalah kemampuan
intelektual.
Ndak peduli sampeyan salah atau benar, kalo
sampeyan berani membakar buntut seorang petinggi partai, sampeyan harus rela
dijadikan pesakitan dalam acara infotainment yang disiarkan secara langsung di
tipi.
Bahkan setelah berusaha menyeragamkan berbagai
kepentingan agar bisa jadi dukungan dalam bentuk sebuah koalisi pun ternyata
ndak mampu mbikin presiden cukup gagah, berwibawa dan disegani. Jangan berharap
keberanian dari presiden selaku pemimpin untuk maju ke depan dan bilang, “Dia
anak buah saya, tanggung jawab saya, kalo memang Sampeyan mau cari perkara,
sini hadapi saya!”
Satu lagi babak baru dalam dagelan di atas sana
telah dimulai. Belum juga dingin berita salah seorang menteri terbaik
mengundurkan diri karena jerih payahnya kurang dihargai, seorang petinggi
partai yang selama ini berseberangan dengan sang mantan menteri diangkat menjadi ketua harian sekretariat bersama partai
koalisi.
Saya termenung di antara hangat kopi dan hembusan
asap rokok, pernahkah terbersit di hati petinggi-petinggi itu untuk sekali-kali
ndak cuma mikir cara mengamankan posisi. Sayup-sayup terdengar alunan lagu
Sonny Joss di kejauhan, “Ndang balio Sri… ndang balio…”
Mendadak saya merasa ngenes, ngenes tenan.
Si Penagih Utang
Konon suatu hari ada seorang penagih utang dateng
ke rumah seorang debitur yang sudah lama nunggak utangnya. Si penagih utang
berusaha menjelaskan panjang lebar maksud kedatangannya, mulai dari sebab
munculnya tagihan sampe segala macem usaha yang sudah dilakukan untuk menagih
utang tersebut.
“Jadi Pak, maksud kedatangan saya kesini adalah
untuk mengingatkan bahwa sampeyan masih punya kewajiban ngelunasi utang sebesar
tiga juta rupiah. Silakan sampeyan datang ke kantor untuk menyelesaikan
kewajiban tersebut. Kalo misalnya merasa keberatan melunasi sekaligus sampeyan
bisa bicarakan dulu mekanismenya, mungkin nanti sampeyan bisa mencicil.” Kata
si penagih utang.
Si tuan rumah yang sudah mumet mikir bayaran anak
sekolah, utang ke tukang sayur, tunggakan arisan RT, mertua yang lagi sakit,
dan puluhan beban dunia lainnya tersebut seakan ndak mendengar perkataan si
penagih utang, bahkan mempersilakan duduk pun ndak. Dia masih tenang duduk
anteng di pojokan teras rumah sambil meneruskan kegiatannya.
Dengan logat daerah yang cukup kental akhirnya
sang tuan rumah berkata, “Saya lagi ngasah arit Dik, makin lama sampeyan di
sini makin lama juga saya ngasah aritnya. Dan kalo sampeyan belom tau, arit ini
makin lama diasah akan makin tajam!” 

Cerita di atas adalah cerita yang sering dipake
untuk nggojlok anak-anak baru yang kebetulan dapet tugas jadi tukang tagih di
pabrik tempat saya mburuh. Entah benar atau ndak, yang jelas cerita itu cukup
untuk menggambarkan bahwa kerja jadi penagih utang itu harus siap dengan
bermacem resiko. Mulai dari resiko yang menyenangkan, misalnya debitur ternyata
seorang janda muda kesepian yang sekseh semlohay, sampe resiko yang
menyeramkan, misalnya di rumah sang debitur ternyata banyak dengan pohon mangga
yang penuh ulat bulu. 
Saya sendiri kebetulan pernah kedapuk jadi tukang
tagih, untungnya ndak terlalu lama, cuma sekitar setahun. Jadi sedikit banyak
saya tau suka dukanya jadi tukang tagih, percaya sama saya, walaupun citra debt
collector di masyarakat jeleknya ngaudubilahiwongurip, tapi dalam keseharian
lebih banyak melasnya. Pokoknyatm kalo ndak kuat mental bakal cepet
tua, layu trus berguguran seperti bunga sakura di musim pancaroba. 
Waktu saya masih jadi tukang tagih utang dulu
yang saya niatkan di pagi hari sebelum berangkat mburuh adalah: saya niat
jalan-jalan hari ini. 
Kok gitu?
Pokoknyatm niat jalan-jalan, nanti
kalo ketemu sama orang yang ditagih trus dia mbayar ya berarti lagi beruntung,
kalo ketemu sama orangnya trus saya dimaki-maki ya musibah, tapi kalo ndak
ketemu siapa-siapa ya ndak papa, kan niatnya jalan-jalan. 
Memangnya ndak ada target?
Target jelas ada, wong namanya kerja ikut orang
alias mburuh, pasti ada target. Tapi niatnya tiap hari tetep sama, jalan-jalan.
Bedanya kalo target belum terpenuhi jalan-jalannya lebih banyak pelotot kanan
pelotot kiri, sedangkan kalo target sudah lewat ndak perlu banyak melotot,
jalan-jalan lebih nikmat. 
Apa yang paling susah waktu nagih utang?
Nyari orangnya. Kadang alamatnya ndak ketemu,
kadang alamat ketemu tapi ternyata cuma rumah kontrakan dan orangnya sudah
pindah, kadang alamat ketemu tapi orangnya lagi pergi. Yang paling susah kalo
alamat ketemu ternyata rumahnya reyot, anak dan istrinya kurus kering, trus
belum sempat kita nagih orangnya sudah ngeluh panjang lebar soal beratnya
menanggung beban dunia. 
Pernah ketemu yang menyeramkan?
Bangsanya kuntilanak atau pocong gitu? Ndak
pernah, kan kita nagih selalu siang-siang. 
Maksudnya debitur yang galak! 
Oalah, ngobrol dong
.
Debitur yang galak pasti ada, tapi ndak banyak. Sama halnya dengan penagih
utang yang kasar dan serem macem jin iprit pasti ada, tapi juga ndak semua.
Dari yang sekedar adu argumen sampe yang cuma bisa ngangguk-angguk diomeli sama
seorang perwira batalyon tempur saya pernah. 
Tapi untungnya ndak pernah sampe adu fisik, bukan
apa-apa, kalo adu fisik eman-eman badan saya, sudah kurus kering begini kalo
gebuk-gebukan mau jadi apa nanti. 
Intinya jadi penagih utang itu modal omongan,
persuasip kalo kata orang-orang pinter di pabrik. Mencari di mana letak benang
kusut yang menyebabkan terjadinya tunggakan dan berusaha sebaik mungkin
mengurainya. Saya seneng, pabrik seneng, yang nunggak juga seneng, itu tujuan
akhirnya. Tapi kalo memang ndak semua pihak bisa disenangkan, minimal saya yang
seneng. 
“Halah! Jangan percaya omongannya!” Kang Noyo
mendadak motong pembicaraan saya sama anak baru yang katanya sudah diplot jadi
tukang tagih.
Kang Noyo nunjuk saya sambil ngomong sama si anak
baru, “Kamu tau, dia ini waktu jadi tukang tagih andalannya cuma dua. Kemenyan
sama kembang setaman!”
Saya bengong, si anak baru apalagi.
Guru Agama Bermasalah
Minggu
kemaren saya nelpon bapak saya di kampung yang seorang pahlawan tanpa uang
tanda jasa, sudah lebih dari 20 tahun beliau ini jadi guru agama di SMP 5 Cepu,
sebuah sekolah yang terletak di Cepu, Blora, Jawa Tengah.
Dari
ngobrol soal panen padi yang walaupun sempat diserbu kawanan bajak laut
burung emprit tapi masih memberi hasil yang lumayan (mungkin sudah jadi cerita
umum kalo Cuma ngandalin gaji guru walaupun dengan pangkat IV b-nya gak mungkin
saya bisa kuliah sampe tamat), Tyas Mirasih yang sekarang jadian sama
vokalis The Changcuter, Aura Kasih yang walaupun wajah pas-pasan tapi bodynya
ngaudzubilahi wong urip, akhirnya menyinggung soal yang sudah lama bikin
bapak rada jengkel, sertifikasi guru.
Jengkelnya
ini bukan karena bapak saya ndak mampu bersaing dengan yang muda-muda dalam
perebutan gratifikasi sertifikasi, bukan! Bapak saya sudah lulus
sertifikasi hampir setaun. yang jadi masalah adalah proses setelah lulus itu,
karena kebetulan bapak saya ini ngajarnya agama Islam maka pengurusan untuk
memperoleh tunjangan sertifikasi melalui Departemen Agama, sementara yang
ngajar bidang lainnya diajuin lewat Departemen Pendidikan Nasional. Yang bikin
bapak jengkel temen-temen seangkatannya yang diurus lewat Diknas udah dapet
tunjangan, sedangkan yang diajuin lewat Depag belom ada yang cair.
Saya
sempet nanya mungkin orang Depag minta duit kemenyan buat ngurus kali
tapi bapak bilang temen-temennya yang juga diurus lewat Depag di kabupaten lain
belum ada yang cair, jadi mungkin bermasalahnya di pusat. Saking mangkelnya
temen-temen bapak ngajakin plesiran demo ke jakarta tapi bapak bilang
opo yo pantes guru agama demo…
Kalo
begini saya jadi ragu dengan omongan mendiknas bahwa pada tahun 2009 gaji
guru minimal Rp 2 juta, lha wong yang sudah ada juklaknya aja jalannya
timpang, gimana yang baru taraf omongan lisan, walaupun yang ngomong ini pak
menteri yang terhormat.
Sebarkan :
eberapa hari ini saya merasa anyel tenan, kalo
kata orang Inggris sana saya lagi ndongkol, sebel yang berlangsung
terus-menerus dalam waktu tertentu. Untungnya (lha ini, saya bersukur karena
konon dalam kondisi apapun orang Jawa itu selalu untung) rasa anyel itu hanya
berlangsung pada waktu tertentu, walaupun secara berlanjut.
“Ngomong kok pasti mbulet. Kamu sebel itu
kenapa?” Tanya Kang Noyo kemaren sore, waktu lagi ngobrol nggedabrus di warung
kopinya Mbok Darmi.
“Itu lho Kang, saya anyel liat kelakuannya si
Paimo!” Kata saya agak bersungut-sungut.
Jadi ceritanya di pabrik itu ada anak baru masuk,
namanya Paimo, baru lulus sekolah kemaren. Yang mbikin saya sebel kelakuannya
itu lho, namanya anak baru mbok ya ada hormat-hormatnya sedikit sama yang lebih
lama macul di pabrik, lha ini sama yang lebih tua sikapnya kayak ndak punya
sopan santun.
Sudah gitu orangnya suka mepet-mepet sama Pak
Mandor, tipikal oportunis nan penjilat. Belum lagi tiap ada masalah riwilnya
setengah hidup, bukannya dipelajari dulu di mana letak masalah dan kemungkinan
penyelesaiannya langsung nyerocos nanya kiri kanan atas bawah, hal sepele
sekalipun. Pendek kata, dia ndak perlu ngomong, mukanya itu sudah jumotos alias
muka minta dijotos.
“Huahahaha! Kamu itu kok ya ada-ada saja, mosok
ada muka jumotos?” Kang Noyo ngakak.
“Lho! Beneran ini Kang, kalo sampeyan ndak
percaya coba tanya temen-temen yang lain, rata-rata juga pada ndak suka sama
dia kok.” Kata saya dengan nada anyel seanyel-anyelnya.
“Sabar Le, ya itu namanya hidup di dunia, banyak
warnanya. Mosok ya semua jadi santri, kalo ndak ada yang maling nanti polisi
kerjanya apa?” Ujar Kang Noyo.
Wew! Mosok ya bisa begitu analoginya.
“Kalo ada buah jatuh di dekatmu, ada suaranya
ndak?” Tanya Kang Noyo.
“Yo ada Kang.” Jawab saya.
“Kenapa kamu bilang ada suaranya?” Tanya Kang
Noyo lagi.
“Lho piye tho Sampeyan ini, ya karena saya dengar
sendiri.” Jawab saya.
“Kalo misalnya ada buah jatuh di tengah hutan
sana, ada suaranya ndak?” Lagi-lagi Kang Noyo mengajukan pertanyaan aneh.
“Yo mestinya ada.” Jawab saya.
“Kenapa kamu bilang ada? Kan kamu ndak denger
suaranya?” Tanya Kang Noyo.
“Kalo ada buah jatuh di dekatmu dan kamu nutup
kuping, ada suaranya ndak?”
Saya diem, mencoba menerka arah pembicaraan Kang
Noyo.
“Orang gila yang nari telanjang di kegelapan
mungkin kamu anggap ndak ada karena kamu ndak liat. Sama dengan orang nari
telanjang di depanmu tapi kamu merem, sama ndak liatnya juga.” Lanjut Kang
Noyo.
“Maksud Sampeyan opo tho Kang?” Tanya saya ndak
ngerti.
“Kadang orang merasa terganggu karena apa yang
dilihat dan didengarnya, padahal dia bisa milih untuk mengabaikan. Kayak kamu
itu! Lha mbok biarin si Paimo mau ngapain aja, ndak usah ngorbankan waktu untuk
merasa anyel atau mbuang energi untuk marah-marah.” Jawab Kang Noyo.
“Tapi memang orangnya nganyelke kok Kang,
menyebalkan!” Ujar saya ngeyel.
“Memangnya kenapa kalo dia menyebalkan? Percaya
tho, semua orang akan mendapat apa yang memang dia layak dapatkan. Kalo memang
dia semenyebalkan yang kamu ceritakan, suatu saat pasti akan kena batunya.”
Kata Kang Noyo.
“Sukur-sukur kalo kamu mau ngobrol sama dia,
kasih tau apa yang kurang enak dari sikapnya. Sesama manusia kan wajib saling
mengingatkan, siapa tau dia sebenernya merasa biasa saja, ndak sadar kalo
sikapnya ndak enak diliat.” Lanjut Kang Noyo.
“Kalo ternyata masih tetep menyebalkan?” Tanya
saya.
“Yo dijotos saja, mungkin itu memang sesuatu yang
layak dia dapatkan.” Kang Noyo ngakak.
Posting Komentar