Percayakan Anda, bila saya sebutkan bahwa bersyukur itu ada riset
ilmiahnya? Anda tahu, menurut sebuah penelitian di Oxford University,
Britain, bersyukur atau gratefulness membutuhkan sebuah hormon khusus
yang disebut dengan “serotonin AB+”. Konon, hormon ini akan merangsang
lobus frontalis sebagai pusat emosi. Efek dari hormon ini adalah
perasaan clam, peace dan joy…
Menurut penelitian ini juga, bersyukur bisa dipelajari atau dilatih. Mari kita luangkan waktu sejenak untuk memahami makna dari enam huruf ini…
Menurut penelitian ini juga, bersyukur bisa dipelajari atau dilatih. Mari kita luangkan waktu sejenak untuk memahami makna dari enam huruf ini…
Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada sopir
pribadinya, “Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?” Si Sopir menjawab,
“Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai.”
Merasa penasaran dengan jawaban ini, Si Direktur bertanya lagi, “Bagaimana kamu bisa begitu yakin?” Sang Sopir menjawab, “Begini Pak, saya sudah belajar bahwa saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya sukai. Karena itu, saya selalu belajar untuk menyukai apapun yang saya dapatkan.” Jawaban singkat tadi merupakan contoh perwujudan rasa syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya persaan tidak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tidak bahagia.
Merasa penasaran dengan jawaban ini, Si Direktur bertanya lagi, “Bagaimana kamu bisa begitu yakin?” Sang Sopir menjawab, “Begini Pak, saya sudah belajar bahwa saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya sukai. Karena itu, saya selalu belajar untuk menyukai apapun yang saya dapatkan.” Jawaban singkat tadi merupakan contoh perwujudan rasa syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya persaan tidak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tidak bahagia.
Ada dua hal yang sering membuat kita tidak bisa bersyukur.
Pertama, kita sering memfokuskan pada apa yang kita inginkan, bukan
pada apa yang kita miliki. Katakanlah, Anda sudah memiliki sebuah rumah,
kendaraan, pekerjaan tetap dan pasangan yang baik. Tetapi Anda masih
begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah serta
pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu.
Apabila tak mendapatkannya, kita terus memikirkannya. Tapi anehnya,
walaupun sudah mendapatkannya, hal itu hanya menjadi kesenangan sesaat.
Kita tetap tidak puas, kita ingin yang lebih lagi. Sebuah hedonic
treadmill. Jadi, berapa pun banyaknya harta yang kita miliki kita tak
pernah menjadi “kaya” dalam arti yang sesungguhnya. Mari kita luruskan
pengertian kita mengenai “kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang
memiliki segalanya, tetapi orang dapat menikmati segala yang mereka
miliki.
Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, namun kita perlu
menyadari bahwa inilah akar dari perasaan gelisah. Kita dapat mengubah
perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Coba lihat
sekeliling Anda. Lihat apa yang sudah Anda miliki. Lalu bersyukurlah.
Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada
sifat-sifat baik; pasangan, atasan, rekan kerja, anak-anak, dan siapapun
di sekitar Anda. Mereka akan menjadi orang yang lebih menyenangkan.
Hal kedua yang sering membuat kita tidak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemana pun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Saya ingat ketika pertama kali bekerja, saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Sampai akhirnya saya sada bahwa hal ini tidak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.
Hal kedua yang sering membuat kita tidak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemana pun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Saya ingat ketika pertama kali bekerja, saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Sampai akhirnya saya sada bahwa hal ini tidak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.
Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di
pekarangan sendiri. Ada sebuah cerita menarik mengenai dua pasien rumah
sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung seraya menggumam,
“Lulu… Lulu…” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang
dihadapi oleh orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila
setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi
begitu lewat sel lain, ia terkejut. Ia melihat penghuninya terus
menerus memukulkan kepalanya ke tembok dan berteriak, “Lulu!!?! Lulu!?!”
“Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?” tanyanya keheranan. Dokter
kemudian menjawab, “Ya, dialah orang yang akhirnya menikah dengan Lulu…”
Artinya, sekiranya saja orang yang pertama bisa bersabar, ia akan mendapatkan hikmah dari berakhirnya hubungan dengan si Lulu. Namun, sebagian besar kita lebih senang bereaksi spontan tanpa mau bersabar mencari makna di dalamnya. Seorang bijak pernah mengatakan, “Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini adalah perwujudan rasa syukur. Hidup akan lebih bahagia kalau kita menikmati apa yang telah kita miliki. Karena itu, bersyukur merupakan kualitas hati tertinggi.
Artinya, sekiranya saja orang yang pertama bisa bersabar, ia akan mendapatkan hikmah dari berakhirnya hubungan dengan si Lulu. Namun, sebagian besar kita lebih senang bereaksi spontan tanpa mau bersabar mencari makna di dalamnya. Seorang bijak pernah mengatakan, “Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini adalah perwujudan rasa syukur. Hidup akan lebih bahagia kalau kita menikmati apa yang telah kita miliki. Karena itu, bersyukur merupakan kualitas hati tertinggi.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai ibu yang
sedang terapung di laut karena kapalnya karam, tetapi tetap terlihat
bahagia. Ketika ditanya mengapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai
dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di
tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat
berjumpa dengan anak kedua saya. Tapi kalaupun mati tenggelam, saya
juga akan bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di
surga.”
Tabik…
Ruang Kontemplasi, 15 Juni 2009
Posting Komentar