Latest Movie :

tarian

The kine is envolving path that actually changes
according to the first steps we envolves take to begin the journey…

(David Wyhte, English poet & author)
Pada tulisan sebelumnya saya sudah menguraikan tentang bagaimana seorang pemimpin yang tadinya hangat, yang tadinya penuh semangat, yang tadinya inspiratif, ‘tiba-tiba’ tersesat. Mereka berubah menjadi pribadi yang sulit didekati, bertindak dengan cara yang tidak sehat atau bahkan koruptif, serta melupakan nilai-nilai yang dulu pernah mereka pegang teguh. Hal ini disebut kondisi dissonance. Nah, seorang pemimpin dapat dengan mudah berada pada kondisi ini, terutama pada era dimana perubahan terjadi setiap sekejab mata. Dengan kata lain dissonance is default. Tulisan ini akan mengupas bagaimana caranya seorang pemimpin dapat kembali pada kondisi resonance.
Martha’s Story…
Martha Gostling adalah manager pemasaran dari sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultasi bisnis. Tahun 2006, ia mendapatkan penghargaan sebagai pemasar nomor satu di divisinya. Ia pun dipromosikan untuk menjadi kepala divisi pemasaran di kantor pusat. Kesuksesan bukanlah hal baru bagi Martha. Sesaat setelah lulus dari HBS ia menapaki karirnya sebagai pemasar sukses dari satu perusahaan ke perusahaan lain dengan prestasi yang cemerlang. Ia bahkan menduduki posisinya yang sekarang karena sebuah executive hijacking dari perusahaan kompetitor.
Namun seperti yang telah saya singgung sebelumnya, perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti terjadi. Perubahan pun terjadi pada bisnis Martha. Akibat badai ekonomi yang menggulung Amerika Serikat dan dunia, perusahaannya pun ikut goyah. Perusahaan Martha pun mulai melakukan perampingan. Mereka melakukan evaluasi menyeluruh sebelum memutuskan siapa yang akan dirumahkan.
Pada hari Senin yang cerah, direktur HR-nya mendadak membuat dunia Martha menjadi kelabu. “We have a situations,” katanya. Sang direktur menyodorkan sebuah daftar panjang hasil wawancara yang dilakukannya dengan orang-orang yang bekerja dengan Martha. Rekan sekerja dan juga para kliennya. Isi dari daftar itu menghancurkan hati Martha. Mereka mengatakan bahwa Martha hanya peduli dengan target, Martha hanya peduli dengan kesuksesannya sediri, Martha hanya peduli dengan apa yang dikatakan oleh bosnya dan tidak peduli dengan nasib rekan kerjanya. Senin itu juga, Martha diminta untuk mengosongkan mejanya. Namun sebelum pergi, sang direktur memberinya sebuah buku tentang bagaimana caranya menjadi seorang yang empatik , seraya berpesan agar Martha membacanya.
Dan… Martha benar-benar membacanya.
Martha menemukan AHA-nya setelah membaca buku tersebut. Ia menyadari kesalahannya. Selama ini, Martha yakin bahwa emosi tidak mendapat tempat di dunia kerja. Selama ini, Martha menganggap menunjukkan perhatian pada rekan sekerja akan membuatnya tampak lemah. Selama ini, Martha adalah seorang manajer dingin, berjarak dengan rekan kerjanya. Sebenarnya ini cukup bertolak belakang dengan keseharian Martha sebagai ibu rumah tangga. Martha dikenal sebagai seorang ibu yang perhatian dan istri yang penuh kasih.
Sembari mencari kerja di tempat yang lain, Martha mencari bantuan untuk berubah. Ia menemui seorang coach untuk mengajarinya menjadi seorang yang empatik di dunia kerja. Coach Martha memulai dengan memintanya untuk menggali kelebihan utamanya serta kelemahan fatalnya. Martha menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemasar yang lihai dan kekurangannya adalah ia terlalu fokus pada keberhasilannya untuk menjual suatu produk, bukan pada apa manfaat yang diperoleh pembeli dari produk yang dijualnya. Kemudian, sang coach meminta Martha membayangkan gambaran ideal dari seorang pemasar yang bisa menunjukkan empati pada kliennya. Martha mencoba membayangkan pemasar yang penuh perhatian seperti seorang ibu pada anak-anaknya. Hal ini mudah baginya, seperti yang saya sudah sebutkan sebelumnya, Martha adalah seorang ibu yang penuh kasih. Lalu atas dasar itu, Martha berlatih untuk memvisualisasikan apa yang dipikirkan para kliennya. Ia membayangkan dirinya berada pada posisi kliennya. Martha dan sang coach bahkan melakukan role play berkali-kali sampai Martha benar-benar memahami apa yang dirasakan oleh kliennya. Awalnya cukup sulit, namun pada akhirnya Martha benar-benar menguasai cara berfikir baru ini.
Ketika pada akhirnya Martha menemukan sebuah pekerjaan baru sebagai tenaga pemasar di perusahaan periklanan, ia mempraktekkan hasil coaching-nya. Pada semester awal pekerjaannya, seperti biasa, Martha sukses melampaui target penjualan yang dibebankan padanya. Sebagai bonus, Martha mendapatkan feedback luar biasa dari orang-orang yang berkerja dengannya. Mereka semua merasakan betapa Martha Gostling adalah pribadi yang hangat dan menginspirasi.
Mari kita bedah bersama, bagaimana proses perubahan ini terjadi pada Martha…
Ephipanies: Changes are Truly Discoveries…
Perubahan ke arah yang lebih baik harus dimulai dengan menyadari bahwa Anda sebagai seorang pemimpin telah salah arah. Tanpa kesadaran penuh, perubahan yang ‘diniatkan’ tidak mungkin terjadi. Dalam kasus Martha kesadaran ini muncul dari feedback yang diberikan oleh direktur HR-nya. Namun sayangnya umpan balik ini juga adalah sebuah kartu merah untuk Martha. Ia harus kehilangan pekerjaannya. Hal ini, jika menilik dari tulisan saya yang sebelumnya, adalah sebuah alram yang nyaring bunyinya. Sebuah dramatic live event. Setelah dipecat, Martha dipaksa untuk melihat dirinya dengan cara yang berbeda. Martha dipaksa untuk menjadi seorang pemasar yang empatik. Martha dipaksa untuk menjadi seorang pemasar yang memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh kliennya.
Richard Boyatzis melakukan serangkaian penelitian untuk mempelajari proses bagaimana seorang dapat menjadi pemimpin yang lebih baik melalui kesadaran bahwa ia harus berubah. Boyatzis yakin bahwa tanpa kesadaran penuh, pemimpin mustahil untuk benar-benar berubah. Untuk itu, mindfullness atau kesadaran penuh akan kondisi diri dan lingkungan sekitar mutlak diperlukan. Ini semacam radar yang mengabarkan pada Anda bahwa Anda telah tersesat. Kemudian, Anda tentu memerlukan impian atau gambaran ideal atau harapan, hope, sebagai obor penyemangat Anda untuk kembali kepada jalan yang benar. Anda juga harus terus menerus mengembangkan jejaring sosial yang empatik, compassion, yang dapat membantu Anda atau setidaknya tempat Anda bertanya apakah arah perubahan Anda sudah tepat atau belum. Bukankah malu bertanya akan sesat di jalan? :)
Boyatsis menamakan teorinya akan kesadaran untuk berubah ini dengan “Intentional Change Theory”, berikut adalah tahapannya;
Step 1: Finding Your Ideal Self
Sebuah tahapan untuk menemukan gambaran ideal tentang diri Anda. Pada kasus di atas, sang coach meminta Martha membayangkan gambaran ideal dari seorang pemasar yang bisa menunjukkan empati pada kliennya. Martha mencoba membayangkan pemasar yang penuh perhatian seperti seorang ibu pada anak-anaknya.
Anda bisa berlatih untuk menemukan gambaran ideal ini dengan mencoba untuk diam sejenak… Pejamkan mata… Lalu coba bayangkan bahwa Anda berada di taman pemakaman. Anda melihat suami/istri, anak-anak, orang-orang terdekat Anda melingkar mengelilingi tanah basah. Mata mereka sembab sebab mereka berduka karena telah kehilangan orang yang paling berarti untuk mereka, Anda. Sekarang… coba Anda bayangkan, kira-kira apa yang mereka katakan tentang diri Anda…
Step 2: Boosting Your Strength and yet Limited Your Fatal Weakness
Menemukan kelebihan dan kekurangan Anda. Saya menyarankan untuk menemukan kelebihan utama Anda. Keunikan Anda. Brand Anda. Karakter yang membedakan Anda dari orang yang lain. Lalu kemudian menyadari kekurangan fatal Anda. Kekurangan yang dapat melumpuhkan Anda. Karakter atau sifat tertentu yang jika Anda lakukan akan mengurangi atau bahkan meniadakan kelebihan Anda.
Pada kasus di atas, Martha menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemasar yang lihai dan kekurangan utamanya adalah ia terlalu fokus pada keberhasilannya untuk menjual suatu produk, bukan pada apa manfaat yang diperoleh pembeli dari produk yang dijualnya.
Anda dapat melakukan eksplorasi kelebihan dan kekurangan Anda dengan berbagai macam alat ukur. Saya menyarankan Anda untuk melakukan serangkaian test psikologi atau just simply go online. Anda bisa mengunjungi situs http://www.viacharacter.org, atau http://www.reachcc.com.
Step 3: Creating Learning Agenda for A New Future
Setelah Anda menemukan arah mana yang harus Anda tuju dan posisi di mana Anda saat ini, langkah berikutnya adalah menentukan rute mana yang harus Anda lalui untuk menuju puncak kesuksesan Anda. Ibaratnya, jika Anda ingin ke Surabaya dan Anda sekarang berada di Jakarta, Anda harus memutuskan apakah akan melalui jalur pantura atau memilih melalui jalur selatan.
Dalam kasus Martha, ia membayangkan gambaran ideal dari seorang pemasar yang bisa menunjukkan empati pada kliennya. Martha mencoba membayangkan pemasar yang penuh perhatian seperti seorang ibu pada anak-anaknya. Lalu atas dasar itu, Martha berlatih untuk memvisualisasikan apa yang dipikirkan para kliennya. Ia membayangkan dirinya berada pada posisi kliennya.
Untuk mempraktekkan langkah ini Anda bisa melakukan dengan berbagai macam strategi eksekusi. Saya menganjurkan Anda melakukannya dengan langkah ajaib yang dikembangkan oleh Franklin Covey yaitu Four Disipline of Executions, 4Dx. Untuk lebih jelasnya silakan kunjungi http://franklincovey.eu atau mengunjungi discussion board-nya di Facebook.
Step 4: Practice Makes Perfect
Tentu sekali mencoba tidak cukup. Trial error. Kadang Anda harus melalui belokan salah satu, belokan salah dua, belokan salah banyak hingga Anda menemukan jalan yang tepat untuk mencapai tujuan Anda. Dengan melakukan perencanaan yang baik di langkah sebelumnya, Anda dapat mengurangi kesalahan.
Martha dan sang coach bahkan melakukan role play berkali-kali sampai Martha benar-benar memahami apa yang dirasakan oleh kliennya. Awalnya cukup sulit, namun pada akhirnya Martha benar-benar menguasai cara berfikir baru ini.
Step 5: Don’t Try This Alone
Dan… untuk berubah Anda membutuhkan bantuan orang lain. Sebuah support group yang membantu Anda untuk terus menerus berubah ke arah yang lebih baik. Pada kisah di atas, Martha meminta bantuan dari seorang coach untuk mendampinginya menuju arah perubahan yang lebih baik.
Jadi, untuk berubah ke arah yang lebih baik harus dimulai dengan menyadari bahwa Anda sebagai seorang pemimpin telah salah arah. Kemudian, Anda perlu menentukan arah mana yang harus Anda tuju dan posisi di mana Anda saat ini, langkah berikutnya adalah menentukan rute mana yang harus Anda lalui untuk menuju puncak kesuksesan Anda. Lalu, Anda harus merencanakan bagaimana caranya untuk mencapai impian Anda dan terus menerus berupaya untuk mencari jalan yang tersingkat dan tercepat. Untuk itu, Anda harus didampingi oleh seorang guide yang baik, yang membantu Anda menuju arah yang tepat. Dalam menapaki jalan menuju resonansi, Anda memerlukan tiga kompetensi lain. Ketiganya merupakan bekal untuk membuat perjalanan Anda labih mudah…
Berikut urian ketiganya…
Mindfullness: Awake, Aware, Attentive…
Saya mendefinisikan mindfullness dengan meminjam istilah dari Eckhart Tolle adalah berkonsentrasi pada kondisi ‘saat ini’. Menyadari apa yang sedang terjadi pada saat ini. ‘Mengada’ pada realitas. Sebagai peneliti senior dari EI, Richard Boyatzis dan Anne McKee menyimpulkan bahwa proses renewal hanya dapat dicapai ketika pemimpin berkomitmen untuk ‘mengada’ secara holistik. Menyadari ada perubahan dalam diri. Menyadari ada perubahan dalam bersikap, berfikir dan berprilaku. Menyadari wake up calls. Dengan kata lain, pemimpin harus menjadi sadar bahwa mereka sedang ‘tidak sadar’. Kesadaran seseorang akan diri, orang lain, dan konteks di mana dia hidup dan bekerja. Mengembangkan rasio, mengurus kondisi fisik, mengelola emosi, dan memperhatikan aspek spiritulitas adalah rangkaian aspek penting yang harus diperhatikan dalam mindfulness. Menyeimbangkan otak, fisik, emosi dan jiwa. Mindfulness membuat pemimpin tetap berada pada jalur yang tepat.
Dalam upaya untuk mencapai mindfullness Anda dapat mencoba latihan berikut ini…
Stop. Tutup mata Anda. Lalu berkonsentrasilah dengan apa yang Anda rasakan saat ini. Jangan dianalisis. Cukup rasakan lalu beri nama. Namai perasaan Anda saat ini. Istilah tertentu yang menggambarkan kondisi Anda pada saat ini. Anda mungkin membutuhkan waktu hingga lima menit untuk menemukan istilah yang tepat. Anda mungkin akan mendefinisikan perasaan Anda sebagai stress, capek, kesal dan seterusnya.
Lakukan latihan ini tiga hingga empat kali dalam sehari. Usahakan lakukan selama seminggu berturut turut. Dengan semakin sering berlatih Anda akan semakin cepat menemukan istilah yang tepat. Dengan semakin sering berlatih Anda akan semakin akurat. Stress berubah menjadi frustasi dan sedikit cemas. Capek menjadi lelah karena tugas yang menggunung. Kesal berubah menjadi marah karena ditegur oleh bos.
Hope: Arouse, Accomplish, Amplify…
Harapan menggugah emosi positif kita. Ketika kita mencoba membayangkan gambaran ideal akan masa depan, maka kita akan mengalami sensasi yang membangkitkan semangat. Sebuah pengalaman hope dapat merubah struktur kimia dalam otak kita, dan pada akhirnya dapat memperbaharui pikiran dan tubuh kita. Harapan adalah magnet emosi, ia meningkatkan energi dan mendorong semangat kita.
Harapan membuat kita percaya bahwa masa depan itu sangat mungkin bisa kita raih. Kita dapat membayangkan rute menuju impian kita. Kita pun dapat menginspirasi orang lain untuk bergerak ke arah yang sama. Harapan ini membias. Harapan dapat mempengaruhi ikatan emosional kita dengan orang lain. Harapan dapat menjadi mendorong yang sangat bagus untuk memotivasi kelompok.
Dalam upaya untuk menggali impian Anda dapat mencoba latihan berikut ini…
Stop. Tutup mata Anda. Silakan mulai menghitung mundur dari angka 10 hingga ke 1. Bayangkan diri Anda menuruni sepuluh anak tangga. Anda akan merasa semakin relaks setiap angka hitungan mulai berkurang, dan puncaknya ketika hitungan Anda mencapai angka 1, Anda akan merasa sangat rileks dan nyamaan sekaliii. Bernafaslah dengan santai tarik nafas dan keluarkan perlahan.
Bayangkan Anda membuka sebuah pintu. Di balik pintu itu Anda akan bertemu dengan diri Anda sepuluh tahun yang akan datang. Lihatlah dia. Mungkin rambutnya sedikit dihiasi uban, mungkin ada timbunan lemak di sekitar perutnya, mungkin ia telah mengenakan kaca mata. Namun, semua itu malah membuatnya makin matang dan dewasa. Lihat, ia menyapa Anda dengan senyumnya yang lebar. Lalu, ia mulai bercerita tentang keberhasilan yang telah ia raih selama sepuluh tahun ini. Ia juga bercerita tentang hal-hal apa saja yang dapat membuatnya berhasil. Ia juga menyebutkan siapa saja yang membantunya untuk mencapai posisi puncak.
Setelah mendengar seluruh ceritanya, rasakan dada Anda mulai bergetar, darah mengalir cepat di urat nadi Anda, rasakan semangat Anda menggelegak. Anda siap untuk menyongsong masa depan gemilang seperti apa yang sudah Anda saksikan.
Kemudian, berbaliklah menuju pintu dimana Anda masuk tadi. Buka pintunya, dan naikilah kembali tangga yang tadi Anda lalui. Mulai dari hitungan 1 hingga 10. Pada hitungan ke sepuluh Anda siap membuka mata dan memulai hari yang baru dengan semangat yang baru pula…
Compassion: Emphaty in Actions…
Sebagai seorang pemimpin kita harus memiliki empati pada orang yang bekerja dengan kita. Hal tersebut dimulai dengan memahami bahwa setiap orang adalah unik. Mereka memiliki cara padang yang berbeda untuk melihat dunia. Mereka memiliki sikap yang berbeda saat menghadapi sebuah masalah. Mereka pun berfikir dengan cara yang berbeda pula. Sebagai pemimpin yang efektif, mau tak mau, kita harus meluangkan waktu untuk belajar mengerti orang lain. Namun, memahami saja tidak cukup. Kita juga harus menunjukkannya pada tindak tanduk kita dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Boyatzis dan McKee, compassion memiliki tiga komponen utama. Pertama, memahami perasaan dan pengalaman orang lain. Kedua, peduli pada orang lain. Ketiga, bersedia untuk menunjukkan sikap ini pada prilaku sehari-hari.
Syarat utama untuk menumbuhkan compassion dalam realitas kepemimpinan adalah active listening. Pemimpin yang baik harus bersedia menjadi seorang pendengar yang baik, dan pengamat yang memahami. Intinya, menggunakan seluruh panca indra dan bahkan sixth sense Anda untuk benar-benar mengerti orang yang bekerja di bawah koordinasi Anda.
Compassion ini adalah sebuah tindakan yang sifatnya timbal balik. Artinya, ketika Anda memulai untuk bersikap baik pada orang lain, jangan heran apabila mereka tiba-tiba bersikap baik pada Anda. Emosi positif yang Anda berikan pada orang lain akan mempengaruhi mereka, emosi mereka pun akan membias pada Anda. Ini yang dinamakan resonansi. Pemimpin yang efektif membiaskan resonsansi positif terhadap lingkungan di sekitarnya.
Dalam upaya untuk melatih kepekaan terhadap perasaan orang lain, Anda dapat mencoba latihan berikut ini…
Pilih seorang yang bekerja atau hidup bersama Anda. Bisa bos, rekan kerja, bawahan atau suami/istri dan bahkan anak Anda. Tutup mata Anda, dan bayangkan Anda menjadi mereka. Mulai sesaat setelah mereka membuka mata di pagi hari, bangun, bekerja, makan malam bersama keluarga hingga saat mereka kembali memejamkan mata untuk istirahat. Bayangkan apa yang mereka lihat, dengar, pikir dan rasakan.
Apa kira-kira yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari? Apa yang kira-kira penting untuk mereka? Apa kira-kira yang membebani pikiran mereka? Siapa kira-kira orang yang paling mereka sayangi? Bayangkan sedetil mungkin, seakan Anda melihat sebuah film tentang kehidupan mereka.
Terakhir, poin-poin yang saya uraikan di atas, tampaknya sering Anda dengar, namun saya yakin sedikit dari Anda yang sudah mulai mempraktekkannya. Common sense but not common practice. Ingat, perubahan membutuhkan komitmen, kontinuitas dan keberanian.
So… Enjoy your trip…
Tabik…
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger