Latest Movie :

sebuah surat amanah

SURAT ITU ditulis dengan bahasa sederhana. Namun, cerita yang disampaikan memiliki makna yang sangat berharga. Di dalamnya ada cerita tentang pengorbanan, ketulusan, dan sekaligus kepedulian.
Surat pejuang Muslim, Muhammad Natsir kepada keluarganya menjadi inspirasi tentang bagaimana hidup kita sebenarnya akan memiliki makna manakala dihibahkan untuk umat. Semua gerak jiwa pengabdian itu terekam jelas dalam surat-suratnya. Misalnya, surat beliau yang bertutur tentang gelang emas istrinya, telah mengajari kita banyak hal.
Pendis (sekolah Pendidikan Islam yang didirikan Mohammad Natsir) seringkali menghadapi kesulitan-kesulitan pahit. Ummie ada mempunyai satu gelang mas (bukan pembelian Aba, sudah dipunyai Ummie sebelum Ummie berjuang bersama-sama dalam Pendis. Aba, sampai saat ini belum pernah dapat membelikan sepotong barang perhiasan untuk Ummie). Maka, gelang emas Ummie yang satu itu mempunyai riwayat. Kalau Pendis dalam kesulitan maka gelang Ummie berpindah tempat dari tangan Ummie ke lemari Pak Gade (pegadaian – pen.). Kalau agak senggang sedikit ditebus kembali.
Dalam kesempatan lain, Mohammad Natsir menjelaskan bahwa keadaan demikian tercipta karena kesatuan cita-cita. “Ummi melihat,” tutur Mohammad Natsir, “bahwa dalam pendirian Pendidikan Islam ini ada satu cita-cita. Ummie dengan rela menyumbangkan tenaganya kepada Pendidikan Islam.” Demikian potongan kisah Mohammad Natsir telah mengajarkan banyak makna kepahlawanan untuk kita.
Kepahlawanan lahir dari kepedulian dan tanggungjawab  terhadap keadaan masyarakat. Namun, tidak semua yang peduli sanggup menjadi pahlawan. Setiap orang dapat peduli dan berkorban, tapi hanya mereka yang pengorbanannya melebihi batas-batas kehendak akan kebutuhan dirinyalah yang disebut pahlawan. Itulah makna hadits yang diriwayatkan At-Tabrani.
Dari Hudzaifah bin Yaman ra. berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wassallam bersabda, ”Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat, maka bukan golongan mereka.” Kepedulian menunjukkan gerak hati yang peka dan hidup terhadap sinyal penderitaan orang lain. Berawal dari gerak hati itulah, dorongan untuk beramal dan ta’awun muncul dan bermekaran.
Demikianlah, kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan karena mereka telah banyak mengorbankan kepentingan dirinya untuk masyarakat. Kepedulian, tanggungjawab, dan keberanian yang dimiliki mendorong mereka untuk melakukan tindakan-tindakan kepahlawanan. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa mereka tidak lagi memiliki kepentingan pribadi. Tidak pula berarti bahwa mereka tidak memiliki rasa takut.  Kepedulian dan tanggungjawablah yang mampu mengatasi rasa takut di dalam dirinya.
Ketika sekarang kita menghadapi peristiwa alam–seperti erupsi Merapi, banjir di Wasior, dan Tsunami di Mentawai–ternyata kita menemukan benih-benih kepahlawanan itu masih ada. Kita menjumpai banyak orang yang rela berkorban dan menyumbangkan harta dan jiwa untuk para pengungsi. Di antara mereka bahkan kondisinya tidak lebih baik dari para pengungsi. Boleh jadi mereka sendiri sebenarnya layak untuk dibantu, tapi mereka memilih mengabdikan hidupnya untuk orang lain.
Di antara mereka masih harus menanggung keluarga, yang untuk sementara ditinggalkan, demi mengevakuasi korban erupsi Merapi. Sebuah kerja pertaruhan nyawa yang luar biasa. Inilah yang membedakan mereka dengan sebagian orang yang juga telah berkorban. Perbedaannya, mereka melakukan sesuatu yang tidak akan diambil oleh orang lain, kecuali mereka yang sama-sama memiliki kepedulian, tanggungjawab, dan keberanian. Ketiga hal tersebut menyatu dalam diri para pahlawan. Itulah sebabnya, tanpa keraguan kita menyebut para relawan tanggap bencana sebagai para pahlawan.
Pada mereka selayaknya kita belajar. Hidup yang bermakna adalah hidup bagi kehidupan orang lain. Inilah yang dapat kita pahami dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Peristiwa erupsi Merapi, banjir Wasior, dan tsunami di Mentawai ternyata menghadirkan guru-guru inspiratif buat kita. Kita menghajatkan semakin banyak pahlawan.
Oleh dorongan iman, mereka relakan hidupnya untuk orang lain dan masyarakat.  Merekalah orang-orang yang memahami perkataan Sayyid Quthb dalam bentuk tindakan kepahlawanan, “Ketika hidup ini hanya untuk diri sendiri, maka ia akan terasa sangat singkat dan tak bermakna. Tapi, ketika hidup ini kita persembahkan untuk orang lain, ia akan terasa panjang, dalam, dan penuh makna. []
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger