Latest Movie :

gus mull

Mas Gul mencegat saya ketika hendak pulang dari sholat maghrib di masjid sore itu. Tangan saya ditariknya kuat. Kami duduk di serambi. Kebetulan gerimis mulai turun. Hari-hari ini cuaca tidak lagi dapat diperkirakan oleh kedhaifan ilmu manusia. Akhirnya, saya memasrahkan diri dalam tarikan Mas Gul. “Ada apa to, Mas?” tanya saya sambil menduga-duga keinginan Mas Gul.
“Garuda tak lagi sakti,” katanya dengan datar. Saya tak mengerti maksud perkataannya. Apakah ini terkait dengan kesaktian Pancasila yang baru saja diperingati 30 September lalu? Saya hanya diam, karena kebingungan wajah saya ternyata terbaca Mas Gul.
“Tim Garuda kita kalah dengan Uruguay. Saya kan prihatin,” tiba-tiba saja wajahnya menampakkan mendung. Kesedihan atas dasar nasionalisme dan cinta tanah air. Wajar. Manusiawi, pikir saya. Saya hanya menjawab ringan, “Ya, sudah.”
Mas Gul lalu menjelaskan tentang kualitas persepakbolaan nasional kita yang bobrok secara sistemik. Fasih betul beliau memaparkan. Sampai-sampai saya berpikir untuk mencalonkan Mas Gul menjadi ketua PSSI. Yah, siapa tahu dalam kepemimpinan sahabatku itu PSSI menjadi berjaya. Tapi, terus terang saya tidak begitu paham dengan sepakbola. Bahkan, saya sendiri tidak hafal dengan nama-nama pemain sepakbola nasional kita. Wah, keterlaluan juga ya? Sementara sebagian teman-teman sangat gandrung dengan sepakbola. Konon, semboyannya pun mantap: SBY! Sepak Bola, Yes!
Karena ketidakpahaman saya itulah, Mas Gul saya biarkan bercerita tanpa hambatan interupsi. “Bayangkan,” gerutunya, “Kalah kok 1-7. Ini bukan lagi kalah! Keok!”
“Ya sudah,” saya berusaha menimpali. “Semua ini kan karena pemain-pemain kita sangat nasionalis. Mereka menyusun formasi angka yang penuh simbolik. Semangat memperingati Hari Kemerdekaan masih berbekas dalam kalbu para pemain kita. Makanya, dibuatlah angka 1-7 yang berarti 17; dimana 1+7 sama dengan 8. Tepat sudahkan? 17 bulan 8. Hari Kemerdekaan.”
Mas Gul tidak memedulikan ocehan saya. Dianggapnya analisis saya sekedar bualan tanpa makna. Wajahnya masih menyisakan kesedihan. Saya jadi turut prihatin. Ketika saya melanjutkan grenengan, Mas Gul masih memandang langit-langit masjid yang bocor. “Kalau kita menang dari Uruguay, wah kita bakalan berpeluang menang di Piala Dunia. Pedehel Mas, kita belum memantaskan diri untuk menjadi juara. Penonton kita masih menggemari cabang olahraga gulat, karate, pencak silat, atau lempar lembing daripada sebagai penonton sepakbola yang sportif. Sporter kita masih menyukai tawuran, Mas.”
“Nah, jika Uruguay menang kalau kita Urung Gue.” Urung atau durung atau belum. Gue belum menang. “Semoga saja hanya perkara ‘belum.’ Harapan itu masih ada.” Tiba-tiba Mas Gul memandang saya, “Amiin. Terima kasih.” Dia lalu beranjak pergi menuju tempat wudlu. Setelahnya kulihat Mas Gul terduduk khusyuk di depan mihrab masjid, tangannya tengadah berdoa. “Ya Allah, pantaskan tim sepakbola kami untuk menjadi juara dunia.”
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger