Latest Movie :

tangisan panjang

SIRRIY SIQTHY NAMANYA. Selama tigapuluh tahun ia berketetapan untuk terus memohon ampunan dari Allah ta’ala. Selama itu pula hari-harinya dipenuhi dengan tangis penyesalan. Tak henti ia beristighfar. Jika kita mengetahui penyebab penyesalannya mungkin kita akan menganggapnya sederhana. Namun, tidak bagi Sirriy Siqthy.
Semua bermula dari ucapan hamdalah yang keluar dari bibirnya. Suatu hari, kenangnya, ia mendengar bahwa pasar Baghdad terbakar. Padahal, ia memiliki sebuah toko di dekat pasar itu. Wajahnya pias. Ia membayangkan seluruh isi tokonya ludes dilalap api. Bergegas ia menuju pasar. Sebelum sampai seseorang mengabarinya, “Tokomu aman. Api tidak sampai di tokomu!” Seketika itu pula aku mengucapkan hamdalah.
Setelah ucapan itu mendadak ia diliputi oleh pikiran lain. “Apakah engkau hanya tinggal di dunia sendirian? Tokomu memang tidak terbakar, tapi bukankah ada empat toko lainnya yang ludes? Ucapan hamdalah bermakna kesyukuranku karena tokoku tidak terbakar. Tapi apakah dengan demikian aku rela toko orang lain terbakar asal tidak dengan tokoku?”
“Aku menyesal,” lanjutnya, “Seakan-akan aku tidak memiliki rasa sedih sedikitpun atas musibah yang menimpa kaum Muslimin?” Sirry Siqthy lalu teringat dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa melewatkan waktu paginya tanpa memperhatikan urusan kaum Muslimin, tidaklah ia termasuk dari mereka.” Rupanya inilah yang menggetarkan rasa takut Sirry Siqthy. Ia takut tidak dianggap bagian dari umat Rasulullah hanya karena tidak merasa sedih atas penderitaan orang lain.
Saat ini ketika di sekitar rumah kita dipenuhi dengan orang-orang yang menderita, masih adakah kehendak untuk membantunya? Ketika masjid-masjid kita yang megah diisi jamaah-jamaah yang menahan lapar sambil menjauhkan diri dari meminta-minta karena ingin menjaga kehormatan, adakah dorongan untuk berbagi dalam diri kita? Ketika kita mengetahui ada anak-anak muda yang kuat imannya dan cerdas akalnya tertatih-tatih untuk membiayai pendidikan, adakah keinginan kuat untuk menyisihkan rezeki yang dititipkan Allah ta’ala untuk mereka? Rasa-rasanya kita perlu belajar banyak pada Sirry Siqthy.
Cukup tenangkah kita untuk berjumpa dengan Allah ta’ala hanya mengandalkan shalat dan puasa kita? Sementara pikiran dan hati kita teramat jauh dari memikirkan orang lain. Teringat saya dengan firman Allah yang setiap saat kita baca tapi masih banyak yang menjauhi pengamalannya. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna (Qs. Al-Ma’un [107]: 1-7).
Masih banyak sahabat-sahabat kita yang kesulitan untuk makan sahur, kecuali dengan setegukan air dari kran tempat wudlu, padahal di Ramadhan ini seringkali kita terlambat shalat subuh karena rasa kantuk yang menyerang setelah sebelumnya menghabiskan menu beraneka macam. Padahal, Nabi kita telah mewanti-wanti, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR. ath-Thabrani). Semoga kita bisa belajar menumbuhkan kepedulian bagi sesama, meski di tengah keterbatasan yang ada.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger