Latest Movie :

agus salim

CATATAN HARIAN itu berkata jujur tentang lelaki tua dengan jenggot yang memutih dan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya. Profesor Schermerhom, guru besar asal Belanda itu mengagumi kecendekiawanan “The Grand Old Man”, kemampuannya berbahasa dan kedalaman religiusitasnya. “Hanya satu kelemahan dia,” begitu tulis Schermerhom, “Selama hidupnya ia selalu saja melarat dan miskin.”
Tidak berlebihan memang, karena begitulah yang terjadi. KH Agus Salim – laki-laki yang dikagumi Schermerhom, hidup dalam kesederhanaan. Padahal, seluruh syarat baginya untuk tampil mewah dimilikinya. Kita mengenalnya sebagai Menteri Luar Negeri di masa perang kemerdekaan 1946-1950. Tapi begitulah pilihannya. Ia lebih memilih jalan hidup kesederhanaan.
Selama tinggal di Jakarta, hidupnya berpindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lain. Dari sekian rumah yang pernah disewanya sangat sedikit yang bisa disebut luas dan nyaman. Rumah yang sangat kecil untuk dihuni sepasang suami istri dengan delapan orang anak yang masih kecil-kecil. Tapi, Salim tidak pernah dendam dengan kesederhanaan. Dalam buku Mohammad Roem 70 tahun: Pejuang Perunding, Roem bertutur. Kepada dirinya, Natsir, dan Kasman Singodimedjo yang pernah datang belajar kepadanya, Salim mengajarkan sebuah petuah hidup: Leiden is lijden ‘memimpin adalah menderita’. Mereka yang bersedia untuk memimpin semestinya lebih siap untuk menderita. Kepentingan rakyat harus dikedepankan daripada kebutuhan diri sendiri.
Agus Salim bersama Hasan al-Banna, pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir
Dan Salim tidak sekedar bicara. Dia tunjukkan bukti kesederhanaan itu; bukan sebagai citra atau untuk meneguhkan ‘politik salon’. Sama sekali tidak. Dia benar-benar hidup dalam kesederhanaan. Konon, lelaki yang cerdas ini pernah bertemu dengan diplomat-diplomat Eropa dengan jas bolong yang dipenuhi beberapa jahitan di sana sini. Tapi ia tetap berwibawa, sebab kewibawaan itu ia lekatkan pada karakter.
Saat ini, setelah sekian puluh tahun berjarak dari masa Salim, saya tetap mengaguminya. Sayangnya, sekarang saya susah untuk membayangkan pribadi Salim hadir di sini. Ketika setiap pemimpin bangsa silih berganti; dengan tetap menyisakan rakyat yang dililit kelaparan.
Pekan ini saya dibuat miris ketika membaca Tempo Interaktif (23/9/2010). Sebuah berita yang dijauhi Salim dan generasi sezamannya. Gaya hidup Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata cukup mewah. Untuk pakaian saja, negara harus mengalokasikan dana sebesar Rp 830 juta. Tak hanya itu,  negara juga harus menyediakan dana untuk perabotan kediaman presiden di Istana Negara senilai  Rp 42 miliar. Saya tidak menyuruh Anda untuk membayangkan uang Rp 830 juta dikeluarkan hanya untuk sebuah pakaian, karena tentu akan sangat membebani Anda. Cukuplah kita mengingat Salim dan anak-anak yang dibiarkan mati hanya karena orang tua mereka tidak mampu membayar biaya kesehatan di rumah sakit.
Mungkin, kematian puluhan anak itu tidak akan mengganggu stabilitas politik bangsa ini. Tapi seorang presiden dengan pakaian ‘murahan’ tentu akan mengurangi wibawa bangsa sebesar Indonesia. Pada Salim dan generasi sezamannya kita perlu memohon maaf, karena petuahnya leiden is lijden tidak lagi patut di masa ini. Zaman ketika kewibawaan diletakkan pada selembar kain dan tidak dilekatkan pada sikap. 830 juta rupiah tentu harga yang ‘dianggap’ murah untuk membeli sebuah kewibawaan dan kenyamanan. Lalu kita menganggapnya biasa karena rakyat lebih pintar memaklumi kelakuan pemimpinnya daripada para pemimpin negeri ini harus dipaksa untuk memahami penderitaan rakyat jelata.
Pada Salim dan generasi sezamannya kita perlu memohon maaf. Inilah zaman ketika muncul anggapan bahwa meneladani Rasulullah dalam kepemimpinan dianggap igauan siang hari. Pemimpin tidak layak duduk lesehan dan rebahan di atas tikar. Jangankan tikar, kursi-kursi yang murahan pun sebisa mungkin jangan dilakukan. Itu hanya untuk orang sekualitas nabi, tidak untuk seorang presiden. Presiden harus duduk di atas kursi, permadani, dan hidup dengan perabotan seharga empat puluh dua miliar rupiah. Saya bayangkan suatu ketika presiden negeri ini melewati sekumpulan rakyatnya yang tidur di emperan toko hanya dengan beralas koran seharga empat ribu dua ratus rupiah. Tapi saya tidak mampu membayangkan apa yang akan dilakukan presiden.
Pada Salim kita perlu memohon maaf. “Semoga  kami masih mampu bersabar menyaksikan kelakuan pemimpin kami.”
Yogyakarta, 23 September 2010
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger