Latest Movie :

marah

SORE ITU, saya tidak tahu persis jam dinding rumah kami menunjuk angka berapa. Hanya kami bertiga berkumpul di rumah. Nadia, anak pertama saya, sedang disuapi ibunya. Tapi sebagaimana kebanyakan anak-anak setiap kali makan selalu lama mengunyahnya, Nadia juga sama. Ia makan sambil membolak-balik Ensiklopedi Bocah Muslim. Lama benar untuk mengunyah satu suapan.
Dan, begitulah kami menyikapi Nadia. Ibunya mulai berbicara dengan nada tinggi. “Nadia, cepat makannya!” kata istri saya. Nadia hanya diam, dan tetap asyik membolak-balik buku Ensiklopedi Bocah Muslim.
“Nadia!” istri saya mulai menunjukkan rasa jengkelnya. Saya hanya diam. Nadia diam. Tiba-tiba anak itu memandang ibunya lalu tiba-tiba menunduk. Beberapa saat kemudian ia alihkan pandangannya ke saya, ayahnya.
“Ayah,” katanya. Saya masih diam memperhatikan apa yang akan ditanyakan. Biasanya anak itu akan minta dukungan ayahnya. “Umi kok marlah. Laa taghdlab walakal jannah. Janganlah kamu suka malah maka bagimu soulga.” Kami berdua tersentak. Saya pandang wajah istri saya yang tersenyum menahan diri dari tertawa. Rupa-rupanya di sekolah Nadia diajari menghafal hadits-hadits pendek.
Sungguh, pada anak kita berguru. Seandainya hadits Rasulullah itu dibacakan para ustadz mungkin efeknya tidak akan sebesar yang diungkapkan Nadia. Hanya karena anak yang mengungkapkan dengan tulus, kami menjadi tersadar. Celoteh-celoteh mereka sungguh sering menjadi materi pelajaran yang luar biasa. (dby/arafah09)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger