Latest Movie :

Gus Dur di Surga

Perspektif Online
26 September 2011

Surat untuk Gus Dur di Surga

Dari saya untuk yang mulia Presiden Abdurrahman Wahid

Indonesia negeri Amuk.. Makanya kosa kata itulah yang kita sumbangkan bagi perbendaharaan kosa kata bahasa Inggris (Amuck).

Jadi Amuk adalah persembahan Indonesia bagi dunia, selain orang utan tentunya. Sedih ya, kalau ternyata kelakuan kita juga sama mencerminkannya dengan kosa kata yang sudah kita sumbangkan bagi kamus bahasa internasional itu (mungkin biar terlihat konsisten)

Dulu ketika jaman Presiden Gus Dur kita bisa bangga sebagai bangsa yang kalau boleh dibilang berhasil mengekspor ide demokrasi dan pluralisme ke dunia internasional.

Perjalanan Gus Dur keliling dunia secara jelas menyisipkan pesan itu di setiap pertemuannya dengan kepala negara atau wakil civil society disana. Bisa kita tanya saksi - saksi yang masih hidup dan ikut perjalanan Presiden Wahid. Bahwa pada masa itu kita bisa keluar negeri dengan kepala tegak karena kita bisa berkata bahwa: kami negara demokrasi, kebebasan agama warga negara dijamin secara penuh oleh pemerintah, keberagaman adalah kekuatan kami bukan justru jadi kelemahan, orang tidak perlu sembunyi2 untuk baca buku Marxisme karangan Romo Magnis, Orang Tiong Hoa bisa bebas mengekspresikan kebudayaannya tanpa harus ganti nama memakai nama yg sok Indonesia dll.

Memang Presiden Wahid tidak bisa menghentikan konflik horizontal seperti yg terjadi Aceh , Ambon dan Sampit secara cepat. Tapi ketika itu masyarakat mungkin bisa tenang karena percaya bahwa pemerintah yg berkuasa adalah pemerintah yg cinta akan pluralisme dan bersedia all out untuk merawat dan melindungi keberagaman Indonesia.

Gus Dur bukan Presiden yg hanya cuma bisa bilang prihatin ketika kekerasan atas nama agama sedang terjadi. Kita juga tidak akan menemukan seorang Menteri Agama yang dengan mudah menilai akidah warga negaranya dengan kata SESAT seperti yg dilakukan Surya Dharma Ali. Sekarang, Menteri Agama yg harusnya menjadi payung semua agama dan kepercayaan malah kerap membuat pernyataan provokasi yg dengan enteng mengatakan yg ini SESAT, yg itu KAFIR. Lain halnya dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) yg dari dulu memang diisi orang2 (maaf) sinting yang anti pluralisme. Bagi mereka selain daging babi, Pluralisme juga barang yang HARAM.

Sekarang orang mengamuk karena membela Tuhan. Bagi saya apa yg mereka lakukan justru bentuk penghinaan terhadap Tuhan itu sendiri. Tuhan itu kan sesuatu yg absolut dan sempurna. Memang siapa kita, mau berkorban untuk membela – bela Tuhan yg jelas-jelas semua percaya sebagai zat yg paling sempurna. Gus Dur dengan tegas pernah mengatakan bahwa Tuhan TIDAK perlu dibela, karena Dialah yang maha sempurna.

Huff, kita rindu Gus Dur.. Saya beruntung pernah berinteraksi dengannya secara dekat, meskipun jauh dari kata sering.

Gus, maafkan para pemimpin dan sebagian masyarakat kita yang tetap enggan menjalankan apa yang Gus cita – citakan dan perjuangkan selama ini. Mungkin mereka tidak tahu atau bahkan tidak mau.

Gus, kalau sempat tolong bujuk Tuhan agar mau terus memberikan berkat dan kasih bagi seluruh warga bangsa kita siapapun dia, apapun agamanya, kepercayaannya,status sosial ekonominya, bahasanya, dan warna kulitnya..

Semoga Gus tenang di alam sana.

 

 

oleh: Didiet Budi Adiputro

Dari saya untuk Yang Mulia Presiden Abdurrahman Wahid

 

http://farm3.static.flickr.com/2096/2513740132_5fdb7212b5.jpg

Melda Wita, Clara Lila, WW, Didiet Budi Adiputro (2008)

 

Indonesia negeri Amuk.. Makanya kosa kata itulah yang kita sumbangkan bagi perbendaharaan kosa kata bahasa Inggris (Amuck).

Jadi Amuk adalah persembahan Indonesia bagi dunia, selain orang utan tentunya. Sedih ya, kalau ternyata kelakuan kita juga sama mencerminkannya dengan kosa kata yang sudah kita sumbangkan bagi kamus bahasa internasional itu (mungkin biar terlihat konsisten)

Dulu ketika jaman Presiden Gus Dur kita bisa bangga sebagai bangsa yang kalau boleh dibilang berhasil mengekspor ide demokrasi dan pluralisme ke dunia internasional.

Perjalanan Gus Dur keliling dunia secara jelas menyisipkan pesan itu di setiap pertemuannya dengan kepala negara atau wakil civil society disana. Bisa kita tanya saksi - saksi yang masih hidup dan ikut perjalanan Presiden Wahid. Bahwa pada masa itu kita bisa keluar negeri dengan kepala tegak karena kita bisa berkata bahwa: kami negara demokrasi, kebebasan agama warga negara dijamin secara penuh oleh pemerintah, keberagaman adalah kekuatan kami bukan justru jadi kelemahan, orang tidak perlu sembunyi2 untuk baca buku Marxisme karangan Romo Magnis, Orang Tiong Hoa bisa bebas mengekspresikan kebudayaannya tanpa harus ganti nama memakai nama yg sok Indonesia dll.

Memang Presiden Wahid tidak bisa menghentikan konflik horizontal seperti yg terjadi Aceh , Ambon dan Sampit secara cepat. Tapi ketika itu masyarakat mungkin bisa tenang karena percaya bahwa pemerintah yg berkuasa adalah pemerintah yg cinta akan pluralisme dan bersedia all out untuk merawat dan melindungi keberagaman Indonesia.

Gus Dur bukan Presiden yg hanya cuma bisa bilang prihatin ketika kekerasan atas nama agama sedang terjadi. Kita juga tidak akan menemukan seorang Menteri Agama yang dengan mudah menilai akidah warga negaranya dengan kata SESAT seperti yg dilakukan Surya Dharma Ali. Sekarang, Menteri Agama yg harusnya menjadi payung semua agama dan kepercayaan malah kerap membuat pernyataan provokasi yg dengan enteng mengatakan yg ini SESAT, yg itu KAFIR. Lain halnya dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) yg dari dulu memang diisi orang2 (maaf) sinting yang anti pluralisme. Bagi mereka selain daging babi, Pluralisme juga barang yang HARAM.

Sekarang orang mengamuk karena membela Tuhan. Bagi saya apa yg mereka lakukan justru bentuk penghinaan terhadap Tuhan itu sendiri. Tuhan itu kan sesuatu yg absolut dan sempurna. Memang siapa kita, mau berkorban untuk membela – bela Tuhan yg jelas-jelas semua percaya sebagai zat yg paling sempurna. Gus Dur dengan tegas pernah mengatakan bahwa Tuhan TIDAK perlu dibela, karena Dialah yang maha sempurna.

Huff, kita rindu Gus Dur.. Saya beruntung pernah berinteraksi dengannya secara dekat, meskipun jauh dari kata sering.

Gus, maafkan para pemimpin dan sebagian masyarakat kita yang tetap enggan menjalankan apa yang Gus cita – citakan dan perjuangkan selama ini. Mungkin mereka tidak tahu atau bahkan tidak mau.

Gus, kalau sempat tolong bujuk Tuhan agar mau terus memberikan berkat dan kasih bagi seluruh warga bangsa kita siapapun dia, apapun agamanya, kepercayaannya,status sosial ekonominya, bahasanya, dan warna kulitnya.

Semoga Gus tenang di alam sana. 

http://adiputro.wordpress.com/2011/02/13/surat-untuk-gus-dur-di-surga/

 

 

 

Print article only

3 Comments:

1.    From Arie on 27 September 2011 00:25:53 WIB

Surat balasan Gus Dur;

anakku Didiet, dari dulu saya iri lihat rumput tetangga, bukan hanya tampak lebih hijau tapi lebih berwarna-warni. Saya akhirnya berpikir untuk buat taman pluralisme karena pekarangan saya luas dan karena banyaknya material yang saya pikir beberapa sudah ada. Cuma saya kurang waktu untuk berbagi ilmu, bahwa ada tanaman2 yang perlu pemeliharaan khusus, ada yang tidak tahan bakteri & hama. Sering juga rumput2 liar bikin pekerjaan jadi lebih rumit karena akar mereka kadang2 tertanam dalam bersama dengan akar dengan tanaman hias, akhirnya tanaman hiasnya jadi mati. Akhirnya saya belajar bahwa kebun pluralisme itu sangat susah untuk dipelihara, dan sadar kalau pengganti saya tidak punya kecintaan, waktu, dana & pengetahuan yang super khusus untuk memlihara taman ini, terutama tahu sifat2 tanaman dan hama2nya, maka hal ini akan memberatkan mereka. Saya terlalu bermimpi indah karena melihat luas pekarangan saya, padahal mungkin lebih produktif kalo pekarangan ini saya jadikan apotek hidup, tidak terlalu indah tapi isinya tanaman2 yang bermanfaat dan tetap memperindah rumah. Kalau sekarang Didiet dan teman2 yang masih hidup kerepotan memelihara taman ini, kenapa ngga dirubah dan dialih fungsikan jadi apotik hidup. Tinggal Didiet pilih & tentukan mana tanaman2 yang baik, tidak berwarna warni pun tidak mengapa. dulu mimpi saya mengenai taman pluralisme hanya sebatas pada keindahan, tapi sekarang saya disurga, tahu sendiri pemiliknya siapa? penghuninya memang berbeda jenis tapi satu keyakinan, saya jadi tahu, Pluralisme Tuhan dengan saya berbeda, Pluralisme Tuhan itu berangkat dari satu cahaya lurus yang Satu, Tunggal, lalu terpantul & menjadi berbeda-beda biasnya, tapi saatnya bias itu di diproses terbalik, jika tidak kembali pada cahaya yang lurus dia ternoda dan tidak ada tempat di Surga. Maka anakku Didiet, untuk memelihara apotik hidup, ujilah bias2 warna (tanaman itu) apakah mereka lurus, bila lurus peliharalah di pekaranganmu, apotik hidup itu hanya untuk tanaman2 yang sudah nyata jelas manfaatnya, dan di Surga, teman2 saya adalah mereka yang menjadi obat bagi sesama mereka dan nyata2 bermanfaat.

Kamu tumben menyurati, ada bom lagi ya..., baru kena hama sekali saja sudah gelisah, saya dulu hamanya seabrek2 biasa saja tuh. Tapi ya kalau mau indah taman pluralisme, main saja ke tetangga, yang emang pada pinter & kebanyakan uang, jadi udah layak punya taman, tapi paling usia tamannya sebentar, ntar juga ga keurus lagi (katanya eropa amerika mulai kacau ya..), apalagi denger TEA party yang jelas2 KKK rasis itu. Untuk rumah saya, bikin saja apotik hidup, pilih2 bermanfaat & murah pemeliharaan, kalo ga bermanfaat buang saja.



salam,
Gus Dur.

2.    From Sunu Guanrto on 27 September 2011 20:23:59 WIB

Asyik ya, membaca dialog imajinatif. Bermanfaat untuk mawas diri / introspeksi.

3.    From Muhammad Ramdhan on 26 January 2012 22:17:11 WIB

Luar biasa... hanya orang2 yang di anugrahi kecerdasan yang bisa "ngobrol" dengan beliau... tapi kata2 " MUI (Majelis Ulama Indonesia) yg dari dulu memang diisi orang2 (maaf) sinting yang anti pluralisme" kayaknya bisa diperindah lagi, bagaimanapun tugas Ulama adalah menyampaikan kebenaran walaupun pahit, walaupun banyak yang ga nurut, walaupun anda ga setuju, tapi minimal para Ulama sudah menyampaikan tugasnya dan ga dituntut oleh Tuhan karna tidak menyampaikan kebenaran..... So far... lanjut gan.... tetap semangat...

 

 

 

 

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger