Latest Movie :

hezz


Tentang Muhammadiyah, Ahmadiyah, Syiah, dan Salib

Komplek tempat saya tinggal mendadak anget, bukan karena musim hujan yang mendadak pergi tentunya, karena sampe sekarang ternyata hujan deras masih setia berkunjung tiap hari. Bukan pula efek pemanasan global, yang konon telah berhasil mencairkan sedikit demi sedikit salju di kedua ujung bumi. Bukan pula gesekan antar etnis atau antar agama yang berujung bakar-bakaran (kalo ini sih panas, bukan anget lagi).
Lha trus apa?
Penyebabnya adalah pendatang baru yang ngontrak bekas rumah Pak Gatho.
Kok?
Jadi ceritanya dulu ada tetangga saya namanya Pak Gatho, ngontrak sebuah rumah di komplek saya. Setelah genap dua tahun si pemilik rumah minta tarifnya naik, sekitar tiga atau empat juta lebih mahal dari tarif semula, Pak Gatho nawar, ndak ketemu harga yang pas, akhirnya beliau pindah. Dan beberapa hari yang lalu datanglah pengontrak baru yang katanya menghangatkan suasana itu, paling ndak itulah yang diceritakan Kang Noyo sama saya.
“Mosok kamu ndak liat Le, dia itu NGGANTENG!” Cetus Kang Noyo sambil agak bersungut-sungut.
Saya garuk-garuk kepala, ngganteng, trus di mana masalahnya? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/106.gif
“Wogh! Nanti kalo istri kamu jadi betah duduk-duduk di teras, trus sering bertegur sapa, trus kepincut, baru tau rasa kamu!” Kang Noyo makin misuh-misuh saat saya kurang begitu antusias menanggapi aduannya.
Hais! Mbuh! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/76.gif
Ndak berapa lama kemudian warung Mbok Darmi makin rame dengan masuknya Pak Dadap, yang rumahnya di sebelah mushola.
“Ati-ati lho kamu sama orang baru yang ngontrak bekas rumahnya Pak Gatho.”
Welhah, apa saya yang kurang apdet berita ya? Sudah dua orang yang mengingatkan saya untuk mewaspadai si orang baru.
“Yang katanya ngganteng itu Pak?” Tanya saya.
Pak Dadap memandang saya dengan tatapan yang, menurut saya, bercampur antara judeg (bingung nyari padanan katanya dalam Bahasa Indonesia) dan kasihan. Seperti sampeyan kalo melihat orang melakukan hal yang sama persis berulang kali tapi mengharapkan hasil yang berbeda.
“Kamu itu homo opo piye? Kok ngomong masalah ngganteng! Dia itu Muhammadiyah!”
Uhuk! Saya keselek. Untung kopinya ndak tumpah.
“Memang kenapa tho Pak?” Tanya saya, asli bingung. Karena walaupun dari kecil dididik ala NU jekèk tapi saya ndak pernah merasa bermasalah dengan orang-orang non-NU.
“Lho, piye tho? Nanti kalo dia bilang ke orang-orang ndak boleh tahlilan piye? Trus ndak boleh sholawatan, nanti kalo taraweh mintanya 11 rokaat, sholat id-nya ngajak ke lapangan. Bisa rusak nanti kerukunan kampung kita!”
Haduh! Sudah cukup ini. Saya ini ke warung Mbok Darmi cuma pengen ngopi, menyesapi nuansa kedamaian yang akhir-akhir ini makin susah saya dapatkan. Mending saya pulang saja.
Di pos kamling deket rumah saya ketemu Lik Waru, yang langsung memaksa saya berhenti dan duduk di sebelahnya.
“Le, kamu sudah tau, tetangga kita yang baru itu katanya Ahmadiyah!”
Oalah, Gusti… http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/63.gif
Tetangga saya yang baru ini modelnya kayak apa tho ya? Kang Noyo bilang ngganteng, Pak Dadap bilang Muhammadiyah, yang barusan bilang Ahmadiyah.
“Kamu ati-ati Le, Ahmadiyah itu sesat lho! Nanti kalo dia mulai nyebar ajaran di sini bisa repot kita semua!”
“Nggih Lik, nanti kalo ketemu bapak-bapak yang lain saya omongkan.” Kata saya sambil pamitan, menghindari percakapan yang lebih provokatif.
Tapi nasib saya memang ndak begitu bagus hari ini, belum jauh meninggalkan pos kamling saya liat Pak Darmo, mantan RW, melambaikan tangan memanggil saya.
“Mas, saya dengar-dengar, orang baru yang ngontrak bekas rumahnya Pak Gatho itu Syiah ya?”
Masya Allah… http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/107.gif
Tobat tenan saya. Buru-buru saya pamitan dengan alasan ditunggu istri, mau nganter ke pasar.
Dan penderitaan saya belum berakhir, sampe rumah ternyata dikunci, istri saya sudah ke pasar. Dengan langkah gontai terpaksa saya mbalik lagi ke warung Mbok Darmi, yang sudah makin ramai, dan, saya yakin, topiknya masih belum berubah dari sejak saya pergi.
“Siapa yang bilang dia Muhammadiyah, dia itu salib!” Saya mendengar suara Pak Yono yang biasa tugas jaga malam di komplek.
“Walah, tambah gawat kalo gitu, nanti kalo nganu…” Suara bapak-bapak makin rame bersahutan.
“Nuwun sewu Pak…” Saya terpaksa ngomong agak kenceng, dan semua mata menoleh ke saya.
“Kalo pun benar misalnya pendatang baru itu Muhammadiyah, atau Ahmadiyah, atau Syiah, atau Kristen, kira-kira sampeyan akan mengikuti keyakinan dia atau ndak?”
“Kalo aku yo ndak, tapi yang lain gimana? Anak-anakku? Tetangga? Ndak lucu tho kalo nanti dia ternyata bagi-bagi sembako buat narik simpati, trus ngajak orang-orang ikut keyakinan dia. Opo kamu ndak panas?” Kang Noyo menanggapi dengan setengah emosi.
Saya mesem, “Sebenarnya malah lucu kalo sampe ada gara-gara sembako seorang tetangga sampeyan bisa berganti keyakinan.”
“Lho!”
“Jangan emosi Kang, mari berpikir yang sedikit jernih.”
Saya percaya bukan masalah intoleransi yang terjadi di sini, hanya masalah kurangnya rasa percaya diri yang bercampur egois tingkat tinggi.
Sampeyan takut anak-anak sampeyan akan goyah keimanan karena sampeyan ndak yakin sudah membekalinya dengan dasar-dasar akidah yang kuat. Sampeyan takut ada tetangga sampeyan yang bisa terbeli dengan paket sembako karena kenyataannya memang sampeyan ndak pernah peduli ada tetangga yang kurang makan.
Ada rasa egois berperan di sini, orang-orang di sekeliling sampeyan adalah teritori sampeyan, terserah apakah sampeyan mau menjaga mereka dengan sepenuh hati atau ndak. Tapi ndak ada, sekali lagi ndak ada seorangpun yang boleh menjamah mereka. Gejala awal yang mirip dengan cemburu buta, saat kurangnya rasa percaya diri membuat sampeyan merasa ndak aman, merasa tiap lelaki di sekitar pasangan sampeyan adalah ancaman.
“Diamput! Kakehan cocot!”
Mendadak ada yang memukul saya, saya terjengkang, gelap.
“Yah, bangun! Sudah siang! Buruan mandi, nanti terlambat!” Terdengar suara istri saya.
“Lho Kang Noyo mana? Tetangga barunya?” Saya masih sedikit gelagepan.
“Tetangga baru opo??”
Ealah, cuma mimpi tho?
Jiyan!




Waktu menunjukkan pukul 9 pagi saat Kuliah Umum Sesi VII di Sekretariat Wakil Presiden Indonesia dimulai. Dengan tema “Strategi Pemberantasan Korupsi di Indonesia: Kini dan Masa Datang”, acara ini menghadirkan Busyro Muqoddas dari Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dan Friedrik Galtung dari Making Integrity Work (TIRI) sebagai pembicara. Opening Speech dari Pejabat kantor Wakil Presiden mengingatkan, dalam membangun integritas manusia, ada empat pilar yang harus :  kejujuran, professionalisme, leadership, dan keteladanan. Membangun integritas manusia bisa dimulai dari skala yang paling kecil, yaitu keluarga.

http://farm8.staticflickr.com/7189/6988752603_eb4c337292.jpg

Menurut Busyro Muqoddas, korupsi belakangan ini  lebih sistemik, mengerikan dan brutal. Selain itu terlihat regenerasi melalui kaderisasi para koruptor . Koruptor menjadi makin muda akibat regenerisasi ini. Sampai kapan kita harus menghadapi kekecewaan akan banyaknya kasus korupsi? Dengan upaya sistematis, strategis, dan kontinu seperti apa 
Poin penting adalah tools atau alat. Tool terpenting untuk menghentikan korupsi adalah knowledge. Tanpa pengajaran yang jelas, masyarakat hanya bisa mengeluh atas korupsi yang merajalelas, tanpa mengetahui cara yang tepat untuk memberantas.
Korupsi memiliki rumus layaknya telepon genggam, CDMA. Corruption = Discretion + Monopoly -  Accountability. Yang dijarah koruptor adalah sektor publik, sehingga korupsi pasti sangat struktural.

KPK
Di tengah maraknya kasus korupsi yang terjadi, Indonesia memiliki KPK atau Komisi Pemberantas Korupsi sebagai lembaga khusus dan sementara. Hingga saat ini, berkat KPK sudah 210 perkara yang sudah sampai penuntutan. Semuanya berhasil mencapai vonis penangkapan. Satu-satunya yang pernah ditolak pengadilan adalah kasus Mochtar Muhammad yang kemudian dikoreksi oleh Mahkamah Agung sehingga akhirnya Mochtar dihukum juga. Dalam sektor minyak dan gas, KPK telah menemukan Rp 152 Trilyun yang disalah gunakan. Hal ini menggambarkan hasil pemberantasan korupsi yang terintegrasi.
Dengan staf 120 orang dan penyidik 96 orang, Indonesia sangat kekurangan tenaga untuk menyelidiki kasus korupsi bila kita bandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lain seperti Thailand, Singapura, dan Malaysia yang memiliki jauh lebih banyak penyidik korupsi untuk negaranya.   
KPK menjalankan asas kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, dan proporsionalistas. Untuk menjaga lima asas tersebut, KPK memiliki tujuh nilai yaitu integritas, profesionalisme, inovasi, religiusitas, transparansi, kepemimpinan, dan produktivitas.
Bagaimana KPK menyimpulkan cara tepat penanggulangan korupsi? Dikutip dari closing remarks Busyro Muqoddas, korupsi merupakan pemiskinan teratur terhadap rakyat. Oleh karena itu keluarga bersih, sederhana, dan sholeh merupakan pilar utama pencegah korupsi itu sendiri.
Seiring berjalannya kasus demi kasus yang diselesaikan oleh KPK, muncul anggapan masyarakat bahwa KPK kurang mem-blow up usaha-usaha preventif dalam menanggulangi korupsi.  Kini KPK berusaha memberikan pendidikan akan pentingnya menjauhi korupsi, tidak hanya memberantas, antara lain dengan memproduksi film ‘Kita vs Korupsi’ dengan produser Teten Masduki. KPK juga terus memperbaiki birokrasinya yang terkesan kurang approachable, agar masyarakat bisa lebih mudah melihat transparansi dari sistem kerja KPK.
From Anti-Corruption to Integrity Building
Friedrik Galtung menyatakan, pemberantasan korupsi berkaitan erat dengan pembangunan integritas baik dari manusia maupun organisasinya. Fase evolusi dari Anti Korupsi sendiri terdiri dari 4 fase, yaitu Breaking the Taboo, the Case for Reform, Setting International Standards, Enforcement and Implementation, serta Pro-Integrity Citizen leadership.
Menurut Friedrik Galtung, ada tiga hal yang harus dilakukan untuk membuat pemerintah dan masyarakat bekerja sama memberantas korupsi. Pertama adalah Mission, Code, dan Values. Suatu organisasi harus memiliki misi, kode, dan nilai-nilai yang jelas untuk membentuk sikap melawan korupsi dalam organisasinya. Poin kedua adalah leadership. Leadership, atau kepemimpinan, sangat penting untuk membuat masyarakat dan pemerintah bekerja sama memberantas korupsi dengan cara menaruh contoh yang tepat untuk berada di atas organisasi. Yang terakhir adalah grievance mechanism, atau mekanisme pengeluhan. Grievance mechanism sangat krusial karena mekanisme pengeluhan yang layak dan meyakinkan sangat dibutuhkan untuk menampung keluhan serta saran dari masyarakat.
Di Amerika Serikat, ada tools penting yang dapat dijadikan senjata memberantas korupsi, yaitu whistleblower. Ini membutuhkan tradisi yang kuat untuk menyukseskannya. Whistleblower tidak lain adalah orang yang melaporkan perlakuan dan ketetapan tidak layak dalam suatu organisasi (dalam hal ini khsusunya korupsi) dengan harapan dapat memberikan perubahan positif ke organisasi itu dan masyarakat luas.
Whistleblower sering kali dihukum di berbagai negara, namun bagaimanapun hal itu sangat efektif untuk memberantas korupsi dan harus dilakukan di luar pemerintahan. Dengan syarat, masyarakat yang melakukannya harus dilindungi. Sebagai contoh, terdapat website di India untuk melaporkan terjadinya penyuapan dengan perlindungan privacy nama pelapor dan pelaku penyuapannya, yaitu www.ipaidabribe.com
Dari sekian banyak cara mencegah dan menanggulangi korupsi, yang paling tidak efektif menurut TIRI adalah awareness raising atau peningkatan kesadaran di masyarakat. Kenapa? Karena proses peningkatan kesadaran sangat kompleks apalagi bila dimulai dari keluarga, kecuali mereka mengerti tools yang dibutuhkan dalam memberikan kesadaran tersebut.
Dikutip dari Mr. Friedrick Geltung, “when we want to approach integrity, it is not only about the opposite of corruption.” Menurut TIRI, dalam menciptakan integritas dibutuhkan akuntabilitas. Hal ini untuk memungkinkan para stakeholders untuk mengecek apakah suatu organisasi, baik pemerintahan maupun swasta, telah melakukan apa yang mereka janjikan untuk lakukan. Kompetensi juga sangat dibutuhkan dalam mencipatkan integritas, dengan cara menempatkan orang-orang yang tau apa yang mereka lakukan, dan terbaik di bidangnya. Etik juga menjadi pilar penting, sehingga suatu organisasi dapat memiliki core values yang layak. Terakhir, corruption control. TIRI menanmkan sikap anti korupsi dalam organisasinya untuk dijadikan contoh sebagai organisasi yang bersungguh-sungguh ingin memberantas korupsi.
Pembangunan integritas dapat menajdi solusi dari banyak persoalan, dengan cara melokalisasi solusi untuk masalah-masalah lokal. Memerangi korupsi tidaklah cukup. Para politisi perlu memiliki integritas untuk membasmi korupsi dari urutan paling atas hingga ke akar-akarnya. Kita sebagi masyarakat harus mempunyai pandangan jelas tentang apa kiat-kiat yang harus dilakukan serta bekerja sama dengan pihak pemerintah maupun swasta agar tercipta negara bebas pemiskinan terstruktur. 
Pertanyaan tidak terjawab
Acara berakhir dengan tanya jawab yang sebagian besar meliput hal-hal teknis. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak terjawab. ‘Bagaimana mengharapkan politik? Menurut anda apa yang bisa dilakukan,  jika kita tahu bahwa koruptor utama di negeri ini adalah seorang pemimpin partai politik besar, membangun hubungan ketergantungan dangan kekuasaan negara, dan dilindungi oleh media miliknya yang menyiarkan berita palsu?’
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger