Latest Movie :

mencari sri


! Saya kerja ikut orang, sekali keluar gini ditarget harus pulang mbawa duit 250 ribu!”
Welhah, saya ini orangnya males ribut, tapi saya kan ndak punya duit mau diperas sama tukang pijet palsu ini. “Wis mbak, kalo sampeyan ndak mau terima yo wis, kita ke polisi saja”. Dia nggertak ya saya bales nggertak tho.
Si mbaknya ngomel-ngomel terus, “kalo sampeyan ndak mau maen ya ndak papa, saya pijet biasa saja, ongkosnya 100 ribu”. Akhirnya saya kasih 100 ribu, “wis, pulang sana, ndak usah pijet, cocotnya sampeyan ndak enak didengar!” *sumpah, seumur-umur saya baru sekali ini mengumpat orang dengan cocotnya*
Abis itu saya ke tempat resepsionis yang lebih mirip sama meja penjaga toilet umum, penjaga hotelnya nanya, “kenapa ndak jadi boss?”
Saya ngomel, “sampeyan ini ndak nggenah blas, tadi saya bilang apa? Saya nyari tukang pijet, bukan perek cewek yang omongannya ndak enak didengar ini!”
Setelah itu saya ngurung diri di kamar, keluar cuma sekali nanya arah kiblat, yang dijawab dengan muka heran penjaga hotelnya, “mau sholat boss…?”
Sampe akhirnya saya pamitan mau check out si penjaga masih ngomong, “sampeyan ini dicarikan gadis kok ndak mau tho boss”. Batin saya, “gundhulmu atos kuwi! harganya ndak cocok sama kualitasnya
Waktu di acara resepsi saya ceritakan peristiwa itu sama temen saya si Sugiman Partodikromo. Dia ngakak, “rasakno…


Saya seorang buruh pabrik, level jongos yang sampe sekarang cuma bisa nunut kerja sama orang. Status sudah menikah, dan sampe sekarang Alhamdulillah sudah dititipi sama Gusti Allah dua anak cowok yang cukup rusuh dan menggemaskan.
Blog ini saya gunakan sebagai pengabadian kilasan-kilasan ide, gagasan, wangsit, rasa anyel, mangkel, dan juga seneng, yang kadang mampir di kepala, supaya kilasan-kilasan itu ndak ilang percuma, walaupun saya juga sebenernya ragu, apakah kalo saya abadikan dalam bentuk tulisan akan jadi berguna.
Jangan berharap bakal ketemu tulisan tingkat tinggi di sini, harap maklum karena rata-rata cuma obrolan kelas warung kopi.
Karena tulisan di sini kebanyakan ndak mutu, sukur njeplak dan waton muni maka ndak tertutup kemungkinan ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dan ndak berkenan. Apabila itu yang terjadi harap sampeyan berbesar hati untuk menghubungi saya lewat alamat email kumparan[at]gmail[dot]com.
Sebagian tulisan saya juga ada di warung sebelah.

\

empur Beras

“Bulan ini Februari kan ya? Jadi cuma sampe tanggal 28?”
“Eh salah, ini kan tahun kabisat, jadi Februarinya sampe tanggal 29.”
“Yah, berarti cuma selisih sehari dari bulan biasa, gajian masih sepuluh hari lagi dong!” http://static.plurk.com/static/emoticons/platinum/startled.gif
Dialog imajiner yang berlarian kesana-kemari di otak saya menjelang tanggal tua begini. Padahal belum tanggal tua lho ya, baru menjelang.
“Yah, susu anaknya habis.” Kata istri saya.
Lho? Biasanya paling 4 kotak sebulan?
Wis tambah mumet saya, kok habisnya ndak pas awal bulan tho ya, kalo baru habis gajian kan duitnya masih banyak. *eh, piye tho iki?* http://static.plurk.com/static/emoticons/platinum/idiot.gif
“Berasnya juga habis.”
Mak! Modiyar tenan. Mbok habis itu jangan barengan. Dan lagi yang habis kok ya beras, mbok ya tinta pulpen atau pulsa gitu lho, yang bisa ditunda. http://static.plurk.com/static/emoticons/gold/doh.gif
Itung-itungan di kepala saya makin mbulet, inget kemaren sudah ngutang sama temen di pabrik buat ngisi amplop sumbangan. Jadi kira-kira berapa hari lagi saya bisa bertahan?
Dan ini adalah hari senin, hari di mana level kemalasan mencapai puncaknya. Hahaha! *ketawa stres* http://static.plurk.com/static/emoticons/platinum/silly_couple.gif
Sampe di terminal saya liat mbah-mbah pengemis langganan saya, di pintu keluar parkiran tempat saya tiap hari naruh motor sebelum melanjutkan perjalanan ke pabrik tempat mburuh yang ada di luar kota. Senyum sederhana dan ucapan assalamualaikum seperti biasanya.
Saya mbatin, “Waktu tanggal muda saja orang terbiasa ngasih sedekah sekedarnya, gimana kalo tanggal tua?”
Saya yang itungannya punya pekerjaan tetap dengan bayaran jelas saja merasa mumet di akhir bulan, gimana dengan si mbah?
Saya memang sedang membandingkan, tapi bukan untuk membuat saya merasa beruntung, karena saya masih tetap berpendapat bahwa bersyukur seharusnya tanpa pembanding. Saya hanya sedang berusaha berfikir logis, saat tanggal tua begini seharusnya sedekah kita lebih besar. Kita yang biasa cukup saja saat tanggal tua merasa kurang, gimana dengan yang sehari-harinya memang sudah kurang?
Saya merogoh saku, ada selembar duapuluhribu di antara lembar-lembar ribuan dan duit koinan.
“Alhamdulillah, bisa nempur beras.” Kata si mbah.
Ah, nempur beras, lama sekali saya ndak pernah dengar kata itu. Konon kata itu berangkat dari beratnya perjuangan hidup layaknya bertempur untuk bisa membeli beras.
Senyummu melegakan mbah, paling ndak untuk sementara, sampe saya teringat lagi bulan ini masih tersisa sepuluh hari. http://statics.plurk.com/13b15aa49358be8f47b58552401d7725.gif


dhe Dari Kampung Sebelah

Kang Noyo ngakak campur misuh-misuh waktu cerita sama saya kemaren sore di warung Mbok Darmi. Makan gorengan anget di waktu hujan lumayan deras, sambil ngopi bercampur ngrasani, sungguh pengisi waktu yang jauh dari bermutu, tapi menyenangkan.
Jadi ceritanya ada mbok-mbok di kampung nun agak jauh di sana, sebenarnya saya bingung antara nyebut beliau ini budhe-budhe atau mbok-mbok, yang jelas beliau ini perempuan, pernah sebentar jadi kepala desa menggantikan kepala desa sebelumnya yang dengan beberapa intrik berhasil digulingkan. Beberapa orang bilang kepala desa sebelumnya terlalu jujur, terlalu blak-blakan untuk jadi kepala desa. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/32.gif
“Biarpun cuma desa, adat berpolitik juga ada Le, harus pinter-pinter bermanis mulut kalopun mau nusuk dari belakang. Lha Pak Lurah yang dulu itu ndak peduli tabrak kanan kiri depan belakang, katanya gitu aja kok repot, akhirnya ndak lama tho jadi lurah.” Tutur Kang Noyo.
Seusai masa jabatan si mbokdhe ini mencoba mencalonkan diri jadi lurah, tapi sayang beliau kalah sama bekas anak buahnya, Pak Bambang, yang sebelumnya menjabat jadi jogoboyo, semacam petinggi hansip di desa. Dan konon sejak saat itu beliau bersumpah ndak mau menginjak balai desa lagi kecuali dia atau anak turunnya kembali menjadi lurah. http://statics.plurk.com/57c69f50e40a283dcd2e7b56fc191abe.gif
Setelah ndak lagi menjabat lurah beliau kembali ke kesibukan lamanya, menjadi ketua PMB, Persatuan Mbok-mbok Berdikari. Walaupun namanya sedikit kurang komersil tapi organisasi ini lumayan berpengaruh, salah satunya konon karena bapaknya si mbokdhe ini adalah seorang sesepuh yang dulu ikut mbabat alas mbuka kampung itu. Sesepuh yang sakti mandraguna, yang wibawanya ndak habis-habis, bahkan konon bisa diturunkan ke anak dan cucunya.http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/77.gif
Dengan bekal wibawa dari bapaknya tersebut PMB berhasil merekrut banyak orang, bukan cuma ibu-ibu malah. Ada banyak lelaki yang ikut dalam organisasi PMB, dan mereka juga bukan orang sembarangan, banyak diantaranya orang pinter yang akhirnya masuk dalam kepengurusan BPD, Badan Perwakilan Desa, semacam parlemen kecil-kecilan ala kampung. Walaupun kadang saya juga heran, kok ya betah orang-orang itu, lha wong tiap ada acara si mbokdhe ini ngomongnya ndak jauh dari soal bumbu dapur, arisan, kebaya, dan semacamnya.
Yang mbikin Kang Noyo ngakak campur misuh-misuh adalah saat kemaren dia ikut datang ke acara ulang tahun PMB, Persatuan Mbok-mbok Berdikari. Tentu bukan karena Kang Noyo adalah seorang simpatisan, seperti biasa Kang Noyo hanya mengincar makan dan rokok gratisan yang biasanya ada di tiap acara kampung.
Di acara itu sebenarnya ada beberapa petinggi desa yang diundang, misalnya Pak Jogoboyo, juga Pak Bayan, tapi mereka ndak bisa hadir karena konon harus menemani Pak Lurah dalam acara dinas. Walaupun informasi yang saya dengar mengatakan mereka ndak mau dateng karena takut bakal ditanya berapa harga cabe kriting dan bawang bombay, yang sudah jelas berada di luar tugas mereka. http://statics.plurk.com/13b15aa49358be8f47b58552401d7725.gif
“Sebetulnya kenapa, ya, enggak bisa hadir? Yang memilih Anda, kita juga. Pak Jogoboyo dan Pak Bayan, jangan lupa, Pak,” Kata si mbokdhe dalam sambutannya.
“Yo lucu wae Le, wong si mbokdhe ini diundang acara apapun di balai desa ndak pernah mau dateng kok, walaupun acara rakyat. Begitu ada yang dia undang ndak mau dateng kok ngambek.” Kata Kang Noyo.
Sedikit di luar dugaan, mbokdhe ndak hanya membahas bumbu dapur saja waktu ngasih sambutan, tapi juga menyinggung soal banyaknya politisi kita yang masuk penjara gara-gara korupsi.
“Paling gede sepanjang saya tahu, korupsi yang dilakukan biasanya kurang dari Rp 4 miliar. Bukannya mengecilkan, tapi kok murah banget sampai orang-orang mau masuk penjara,” ujar mbokdhe.
“Lha kok 4 miliar, wong cuma urusan duit ratusan ribu saja orang bisa sampe mbunuh kok.” Tutur Kang Noyo sengit.
Konon suaminya mbokdhe ini punya buanyak sekali kios bensin, yang jumlahnya makin banyak saat beliau menjabat sebagai lurah. Jadi mungkin urusan duit memang beliau kurang peka, lha wong ndak biasa kurang duit. Tapi ini cuma katanya lho ya… http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/114.gif
Dan mungkin untuk meninggikan posisi Persatuan Mbok-mbok Berdikari yang sejatinya ditujukan untuk kaum perempuan, beliau menunjukkan sebuah fakta, paling ndak menurut beliau ini fakta.
“Berdasarkan hasil survei, yang biasanya melakukan korupsi itu bapak-bapak,” kata mbokdhe. Hal ini konon berdasarkan riset yang dilakukan di Amerika Serikat.
“Laki-laki mencari dan perempuan menyimpan.” Tutur si mbokdhe.
Saya ndak begitu konsen sama ceritanya Kang Noyo yang makin lama makin ngelantur. Saya cuma berpikir pastilah bapaknya si mbokdhe ini orang yang sangat hebat, wong hanya dengan menjadi keturunannya saja bisa menarik begitu banyak pengikut, konon setelah mbokdhe ndak mau nyalon jadi lurah lagi anaknya yang akan meneruskan trah kepemimpinan.
“Mbah saya dulu lurah, Simbok saya pun lurah, tentunya saya juga bisa jadi lurah.” Kata anaknya yang kebetulan juga perempuan. http://statics.plurk.com/70722ab5756c3b89c86d85feab91725d.gif
“Trus sampeyan kok anyel banget sama mbokdhe kenapa tho Kang? Wong kenal juga ndak.” Tanya saya.
“Lha mau ndak anyel piye, dia itu ngomongnya ndak cerdas, ndak konsisten.” Kang Noyo bersungut-sungut.
“Ndak cerdas? Ndak konsisten…?”http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/106.gif
Kalo melihat cara sampeyan dengan nggragasnya ngambil rokok saya kesimpulannya cuma satu : sampeyan anyel karena waktu itu sampeyan ndak dapet rokok.


Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) resmi berbadan hukum. Keputusan itu tertuang dalam SK Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (SK: M.HH-09.AH.11.01 Tahun 2012), tertanggal 27 Maret 2012. Partai pendukung Sri Mulyani Indrawati sebagai calon presiden Indonesia 2014 ini siap untuk mengikuti proses verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi partai peserta pemilu. Saat ini, Partai SRI sudah memiliki kepengurusan di 33 provinsi, lengkap dengan kepengurusan sampai ke tingkat kecamatan.

Didirikan oleh sejumlah tokoh profesional dan intelektual pada tahun 2011 lalu, Partai SRI memfokuskan programnya pada upaya pemberantasan kemiskinan melalui program penghematan nasional. Politik yang bersih adalah target final Partai SRI. Dengan misi ini Partai SRI berikhtiar menyebarluaskan ide integritas ke seluruh negeri.

Dalam rangka memenuhi ketentuan KPU, Partai SRI sedang mendata anggota Partai di seluruh kabupaten se-Indonesia. Proses itu sudah mencapai tahap verifikasi internal partai, dan siap untuk diajukan ke KPU.

Sebagai Partai baru, Partai SRI mengajak masyarakat untuk terus percaya pada masa depan Indonesia yang lebih bermutu. Harapan itulah yang juga terus diucapkan Sri Mulyani Indrawati: “Jangan pernah berhenti mencintai Indonesia”.

Jakarta, 29 Maret 2012

   D.Taufan                                                                                            Yoshi Erlina
Ketua Umum                                                                                    Sekretaris Nasional
Print article only
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger