Latest Movie :

kumparan


Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan Nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk mensinergikan pembangunan kesehatan Nasional, maka Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKKM) Makassar Propinsi Sulawesi Selatan sebagai Unit Pelaksana teknis milik Kementerian Kesehatan yang dibawahi Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, menyelenggarakan pelayanan dan kegiatan di bidang kesehatan Mata dan THT. Pelayanan yang dilakukan meliputi pemeriksaan Spesialistik Mata dan THT, laboratorium, farmasi, Pelayanan rawat jalan, Operasi Mata, dan konseling kesehatan Mata dan THT, serta pelayanan pendidikan, pelatihan dan penelitian di bidang kesehatan Mata dan THT. BKMM sebagai salah satu instansi pemberi pelayanan kesehatan pada masyarakat memerlukan perencanaan yang strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan. untuk mewujudkan hal tersebut maka perencanaan yang dilakukan diantaranya adalah pengelolaan keuangan sehingga pembiayaan aspek manajemen dan operasional pelayanan dapat terkendali dengan baik yang berujung pada kepuasan masyarakat. 
Salah satu langkah yang dilakukan BKMM Makassar untuk mencapai pelayanan yang optimal adalah dengan menyenyelenggarakan Pengelolaan Keuangan-Badan Layanan Umum (PK-BLU) yang menerapkan pengelolaan keuangan yang fleksibel dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas. sebagimana dalam,
SEMINAR NASIONAL
“Mewujudkan Kemandirian Kesehatan Masyarakat Indonesia
Berbasis Upaya Preventif dan Promotif”

Mentri Kesehatan RI : dr. Endang R Sedyaningsih, MPH, Dr.PH, dalam acara Seminar Nasional dan presentasi paper ilmiah ‘Mewujudkan Kemandirian Kesehatan Masyarakat Indonesia Berbasis Upaya Preventif dan Promotif’. Seminar yang merupakan salah satu rangkaian dalam kegiatan Dies Natalis FKM UNDIP ke 25 dihadiri lebih dari 1000 (seribu) peserta tersebut, berlangsung sangat antusias. Peserta seminar berasal dari para alumni, mahasiswa dan juga praktisi kesehatan baik dari sekitar P.jawa dan bahkan ada yang berasal dari kalimantan.
Tepa
“Pendidikan Kesehatan Masyarakat Kita Tidak Efektif”

[Unpad.ac.id, 27/01/2012] Apa pengertian dari kata “sehat”? Jika menurut Anda sehat itu bebas dari segala macam penyakit, persepsi Anda hanya sebatas dalam dimensi negative health. Persepsi seperti itu pula yang saat ini masih dimiliki para birokrat dan elit politik di Indonesia dengan berbagai program dan kebijakannya dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Avip Syaefullah, drg., M.Pd. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah sehat dalam arti sejahtera (positive health). Sehingga masyarakat memiliki kemampuan dalam meningkatkan kualitas hidupnya.
http://www.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/foto-orasi-Prof-Avip-300x200.jpg
Prof. Dr. Avip Syaefullah, drg., M.Pd., saat menyampaikan orasi ilmiahnya. (Foto: Tedi Yusup)
“Kondisi ini merupakan bukti bahwa program Pendidikan Kesehatan Masyarakat tidak efektif atau gagal sehingga elit pemerintahan dan politik saat ini diselimuti oleh fenomena Low Literacy on Health Policy Related Quality Of Life (HPRQoL),” ungkap Prof. Dr. Avip dalam Orasi Ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan Kesehatan Masyarakat, FKG Unpad di Grha Sanusi Hardjadinata, Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Jumat (27/01).
Dalam orasinya yang berjudul “Low Literacy on HPRQoL; Kegagalan Pendidikan Kesehatan Masyarakat; Penyebab Terjadinya Siklus Kebodohan Kemiskinan, Penyakit di Indonesia” Prof. Avip meyakini bahwa munculnya paradigma vicsous circle (kebodohan-kemiskinan-penyakit) sejak orde lama, orde baru, hingga saat ini adalah akibat dari kurangnya pemahaman para birokrat, dan elit politik terhadap terminologi WHO-Quality of Life.
“Dugaan ini dibuktikan di bidang kesehatan gigi dan mulut, dimana fenomena tersebut terefleksikan secara terukur dengan menggunakan indeks Oral Health Related Quality of Life (OHRQoL index),” tambah Prof. Avip dihadapan ratusan tamu undangan.
Hal tersebut tercermin dari riset di 5 kota/kabupaten Jawa Barat, dimana data menunjukkan bahwa dental health education program yang dilaksanakan pemerintah daerah tidak efektif. Fakta rendahnya OHRQoL dan tidak efektifnya DHE menjadi dasar yang logis untuk memprediksi terjadinya fenomena low literacy on HPRQoL di berbagai sektor dan masyarakat.
“Dengan demikian, paradigma viscous Kebodohan-Kemiskinan-Penyakit akan sulit dicegah  akibat adanya misperception, impairments, disabilities birokrat, elit politik terhadap HPRQoL” lengkapnya. Termasuk kebijakan pemerintah dalam pembiayaan pelayanan kesehatan. Maka, tambah Prof. Avip, untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu ada kebijakan kesehatan (health policy) untuk membuka keikutsertaan masyarakat dalam mengatasi permasalahan pembiayaan kesehatan.
Seusai menyampaikan orasi ilmiahnya, Pria kelahiran Tasikmalaya, 19 Januari 1950 ini kemudian menerima ucapan selamat dari Rektor, guru besar, dan sejumlah tamu undangan. Dalam kesempatan ini, Ayah dari dua orang anak ini menyampaikan terima kasih atas pengukuhannya sebagai guru besar dalam Ilmu Pendidikan Kesehatan Masyarakat FKG Unpad.
“Terima kasih atas kepercayaan kepada saya untuk menjadi guru besar dalam Ilmu Pendidikan Kesehatan Masyarakat FKG Unpad, sehingga bisa melaporkan pertanggung jawab moral saya selama 32 tahun mengabdi sebagai PNS, melalui orasi ilmiah ini kepada publik, civitas akademika, dan khususnya kepada keluarga,” tutupnya. *\
\\\\


ng Becak, Tukang Pijet, dan Hotel Esek-esek

Hari Minggu kemaren saya ke Solo, menghadiri undangan ngunduh mantu seorang adik kelas saya di sekolah tinggi kaum dhuafa yang juga pernah satu kantor di Probolinggo. Saya berangkat Minggu pagi abis subuh dengan harapan sampai Solo siang trus survey-survey panti pijet istirahat dulu, dari hari Kamis saya nyaris ndak istirahat gara-gara disuruh ikut In Hotel Training sama pabrik tempat saya mburuh.
Acaranya sendiri baru mulai jam 7 malem, saya ndak mau berangkat siang karena ndak tega liat anak saya yang pasti bakal nangis-nangis kalo saya tinggal. Dia rada ngambek karena sudah beberapa hari saya tinggal terus.
Singkat cerita saya sampai terminal Solo sekitar jam 1 siang. Seperti biasa saya langsung dirubungin tukang becak yang ngikutin terus sambil minta tanda tangan nanya-nanya, “mau kemana mas?”
Sebenarnya saya rada males melayani mereka, teringat pengalaman buruk waktu dulu saya ditipu mentah-mentah.
Dulu saya pernah bingung di terminal Solo karena tempat ngetem bis yang jurusan barat (Jogja, Purwokerto, dll) beda sama tempat ngetem bis jurusan timur (Surabaya, Purwodadi). Masih dalam satu terminal tapi beda tempat. Sama tukang becak saya dibilangin, “kalo mau ke Jogja dari terminal baru mas”. Alhasil saya terpaksa merogoh kantong cuma untuk diputerin dari satu sisi ke sisi lainnya. *mungkin saking susahnya nyari duit sampe aksi tipu-tipu pun terpaksa dilakukan*
Kemaren itu pun akhirnya saya nyerah sama tukang becak karena didesak terus, saya nanya dimana hotel yang murah, sekedar buat istirahat nunggu jam 7 malem. Dengan semangat tukang becaknya bilang, “saya anterin saja, tinggal pilih mau yang pake AC atau ndak”.
Dan dianterlah saya ke sebuah hotel yang jaraknya ndak sampe 50 meter dari tempat tukang becak tadi ngetem. Parahnya lagi waktu saya liat daftar tarifnya ada pilihan “SHORT TIME“. Siyalan!! :shock:
Akhirnya saya masuk, murah, cuma 45 ribu perak. Dan seperti sudah saya bayangkan sebelumnya, kamarnya kumuh. Ndak ada kunci kamar, jadi kamar cuma bisa diselot dari dalam.
Tak berapa lama kemudian penjaga hotelnya ngetuk kamar saya, “boss, mau dicariin cewek ndak?”
Saya bilang carikan tukang pijet saja, soale saya capek tenan. Kata si penjaga, “nanti sampeyan nego sendiri saja kalo mau plus-plus, kalo cuma pijet saja 75 ribu”. Ndak masalah saya bilang, pokoknya cari yang memang bisa pijet.
Abis itu pintu kamar saya diketok lagi, masuk mbak-mbak setengah mak-mak yang kata si penjaga hotel adalah tukang pijet. Begitu masuk si mbak tadi langsung nglepas celana jins-nya, jadi tinggal make celana dalem. Ugh! Saya langsung napsu perasaan saya langsung ndak enak.
Tanpa basa-basi si mbaknya langsung bilang, “di sini paketnya kalo pijet sama maen 250 ribu”. Heh?! Apa?! :shock:
Mbaknya sampe ngomong 3 kali baru saya bisa nangkep dengan jelas maksudnya. Saya nanya, “kalo misalnya saya cuma mau pijet saja gimana?” kata mbaknya, “ya pijatnya ditambah satu jam tapi bayarnya tetep 250 ribu, soalnya sudah jadi satu paket”.
Walah! Saya langsung bangun, ini sih pemerasan! “Ndak jadi deh mbak pijetnya, sampeyan pulang saja saya kasih ongkos”.
Eh, mbaknya marah, “kalopun saya disuruh pulang sekarang sampeyan tetep harus mbayar 250 ribu! Saya kerja ikut orang, sekali keluar gini ditarget harus pulang mbawa duit 250 ribu!”
Welhah, saya ini orangnya males ribut, tapi saya kan ndak punya duit mau diperas sama tukang pijet palsu ini. “Wis mbak, kalo sampeyan ndak mau terima yo wis, kita ke polisi saja”. Dia nggertak ya saya bales nggertak tho.
Si mbaknya ngomel-ngomel terus, “kalo sampeyan ndak mau maen ya ndak papa, saya pijet biasa saja, ongkosnya 100 ribu”. Akhirnya saya kasih 100 ribu, “wis, pulang sana, ndak usah pijet, cocotnya sampeyan ndak enak didengar!” *sumpah, seumur-umur saya baru sekali ini mengumpat orang dengan cocotnya*
Abis itu saya ke tempat resepsionis yang lebih mirip sama meja penjaga toilet umum, penjaga hotelnya nanya, “kenapa ndak jadi boss?”
Saya ngomel, “sampeyan ini ndak nggenah blas, tadi saya bilang apa? Saya nyari tukang pijet, bukan perek cewek yang omongannya ndak enak didengar ini!”
Setelah itu saya ngurung diri di kamar, keluar cuma sekali nanya arah kiblat, yang dijawab dengan muka heran penjaga hotelnya, “mau sholat boss…?”
Sampe akhirnya saya pamitan mau check out si penjaga masih ngomong, “sampeyan ini dicarikan gadis kok ndak mau tho boss”. Batin saya, “gundhulmu atos kuwi! harganya ndak cocok sama kualitasnya
Waktu di acara resepsi saya ceritakan peristiwa itu sama temen saya si Sugiman Partodikromo. Dia ngakak, “rasakno…


Saya seorang buruh pabrik, level jongos yang sampe sekarang cuma bisa nunut kerja sama orang. Status sudah menikah, dan sampe sekarang Alhamdulillah sudah dititipi sama Gusti Allah dua anak cowok yang cukup rusuh dan menggemaskan.
Blog ini saya gunakan sebagai pengabadian kilasan-kilasan ide, gagasan, wangsit, rasa anyel, mangkel, dan juga seneng, yang kadang mampir di kepala, supaya kilasan-kilasan itu ndak ilang percuma, walaupun saya juga sebenernya ragu, apakah kalo saya abadikan dalam bentuk tulisan akan jadi berguna.
Jangan berharap bakal ketemu tulisan tingkat tinggi di sini, harap maklum karena rata-rata cuma obrolan kelas warung kopi.
Karena tulisan di sini kebanyakan ndak mutu, sukur njeplak dan waton muni maka ndak tertutup kemungkinan ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dan ndak berkenan. Apabila itu yang terjadi harap sampeyan berbesar hati untuk menghubungi saya lewat alamat email kumparan[at]gmail[dot]com.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger