Saya tidak dapat melukiskan kejengkelan wanita itu. Kejengkelan yang
muncul tepat di hari perkawinan anak lelakinya. Tentu ada rasa bahagia
di hatinya, tapi di samping bahagia, ia merasa jengkel dengan kelakuan
anak lelakinya, Muhammad Hatta. Saleha Djamil, sang ibu, tidak bisa
memahami Hatta. Bayangkan. Pada istrinya, di hari perkawinan itu, Hatta
menghadiahkan buku yang baru saja dikerjakan: Alam Pikiran Yunani.
Lazimnya, hadiah perkawinan adalah barang-barang berharga seperti emas
atau berlian. Tapi tidak dengan Hatta.
Lelaki pendiam dengan kacamata bulat itu memang menganggap buku jauh
lebih berharga dari apapun. Konon, Alam Pikiran Yunani, yang akan dia
hadiahkan pada Rahmi Rachim ditulis saat Hatta dibuang di Digul pada
1934. Dia tulis buku itu bersama 16 peti buku yang selalu dibawa,
termasuk ketika Hatta dan Syahrir diasingkan ke Banda Neira pada 1936.
16 peti buku itu selalu membersamai. Dengan 16 peti itulah, meski berada
dalam pembuangan, Hatta tidak pernah surut untuk membaca dan menulis.
Dengan mesin tik yang dimilikinya, ia masih sempat menulis untuk surat
kabar Adil, Pandji Islam, dan Pedoman Masjarakat. Tidak
mengherankan jika hingga saat ini buku-buku yang lahir untuk mendedah
pemikiran Bung Hatta terus saja hadir, meski orang yang dibicarakan
telah lama tiada.
Pada Hatta kita dapat belajar. Ia terlibat aktif secara politik,
tetapi tetap memberikan perhatian yang besar pada perkembangan ilmu
pengetahuan dan pemikiran. Saya tidak bisa membayangkan mereka yang
aktif dalam pergerakan, tetapi — meminjam istilah Taufiq Ismail — rabun
membaca dan tumpul menulis. Lalu apa yang menggerakkan mereka? Semangat
ideologis tanpa diimbangi dengan kapasitas pengetahuan yang terbaharui
tentu hanya akan menggiring seseorang pada langkah-langkah yang kurang
tertata.
Pada Hatta kita banyak belajar. Mencintai buku-buku adalah jalan yang
memperkuat kesertaan seseorang pada pergerakan. Jika kesertaan dalam
pergerakan (sosial, politik, pendidikan, kebudayaan, atau ekonomi)
merupakan ayunan langkah yang membawa kita pada tujuan yang diimpikan,
maka kecintaan pada pengetahuan merupakan energi yang menggerakkan
ayunan langkah itu. Tentu selain daya baca terhadap kondisi dan keadaan.
Konon, sejak kecil lelaki mungil itu suka menabung. Uang sakunya
sebesar satu gobang (25 sen) disimpannya untuk membeli buku. Maka,
ketika kuliah di Amsterdam, dibandingkan dengan mahasiswa lain, kamar
Hatta penuh sesak dengan buku. Jika kamar kos Hatta penuh sesak dengan
buku, kira-kira dipenuhi dengan apa kamar kos-kosan sebagian mahasiswa
kita saat ini? Barangkali, semua berawal dari kemauan. Untuk buku Hatta
menyisihkan uangnya. Semua bermula dari rasa cinta.
Jika kita begitu cinta dengan obrolan, mungkin biaya pulsa kita akan
menyisihkan keinginan untuk membeli buku. Ah, mungkin tak perlu
dipertentangkan. Jika kemauan dan kecintaan itu ditumbuhkan, saya kira
ada jalan untuk sebuah buku perbulan.
Pada seorang lelaki dengan 16 peti buku kita belajar.
Posting Komentar