dikenal sangat arif dan bijak suatu saat
didatangi oleh beberapa orang. Mereka bermaksud menceritakan seseorang.
Wajah mereka menunjukkan semangat luar biasa, sementara lelaki bijak itu
kurang menunjukkan minat mendalam. Tapi ia ingin menunjukkan perhatian
pada tamunya. Wajahnya yang teduh terus menyunggingkan senyum.
“Kami ingin menceritakan tentang perihal sahabat kita. Konon
kabarnya, …” Kata-kata para tamu itu mendadak terhenti. Lelaki bijak itu
memberikan isyarat dengan tangannya. “Maafkan saya telah memotong
pembicaraan Anda,” kata lelaki itu dengan sangat santun.
“Sebelum Anda bercerita tantang sahabat kita, bolehkah saya
mengajukan tiga pertanyaan saja. Setelahnya Anda boleh memutuskan,
apakah akan tetap bercerita ataukah tidak,” para tamu itu menganggukkan
kepala, menyatakan persetujuan.
“Pertama. Apakah yang akan Anda sampaikan ini berkaitan dengan
kebaikan atau keburukan sahabat kita?” tanya lelaki bijak itu. Kedua
orang laki-laki di depannya saling pandang. “Keburukannya.” Jawab salah
seorang di antara mereka. Laki-laki bijak itu mengangguk pelan.
“Kedua. Apakah yang akan Anda sampaikan ini sudah Anda buktikan KEBENARANNYA?”
“Saya tidak begitu yakin,” jawab salah seorang di antara tamu itu.
“Anda tidak yakin bahwa cerita yang Anda akan sampaikan kepada saya
suatu yang benar. Jadi Anda akan bercerita tentang keburukan seseorang
yang belum jelas kebenarannya?” Para tamu itu mulai salah tingkah.
Mereka saling berpandangan dan tidak lagi berani menatap lelaki bijak
itu.
“Baik, pertanyaan terakhir. Apakah yang akan Anda ceritakan itu akan
memberi manfaat bagi saya ataukah tidak?” “Apakah Anda masih akan
bercerita tentang keburukan sahabat kita, yang tidak pernah terbukti
kebenarannya, dan tidak juga memberi manfaat jika diceritakan?”
Kedua orang tamu itu terdiam. Mereka tertunduk malu.
***
Saya tidak cukup berani untuk membahas tentang perkara obrolan, yang
selama ini sering kita lakukan. Sebagiannya lebih sering berisi
keburukan orang lain, yang belum tentu memiliki validitas kebenaran.
Berapa banyak obrolan yang kita lakukan lebih bermuatan fitnah pada
orang lain, sekecil apapun fitnah itu. Astaghfirullah. Kita hanya dapat
memohon pada Allah agar setiap kedzaliman, secuil apapun, terhadap orang
lain diampuni Allah ta’ala.
Kita juga lupa untuk membuat pertimbangan ketiga, yaitu pada aspek
kemanfaatan obrolan kita. Berapa banyak kita salah bicara. Hidup kita
bagaikan ‘talang.’ Jika hujan turun, langsung saja ia alirkan air itu.
Begitu pula kita. Setiap ada informasi tentang keburukan orang, serta
merta kita ingin sekali menyampaikan pada orang lain. Padahal, kita
tidak pernah menimbang-nimbang kemanfaatannya. Kalau toh keburukan itu
benar-benar dilakukan oleh orang lain, dan dengan enteng kita obral
sebagai obrolan di setiap tempat dan waktu, sepengetahuan saya, itulah
ghibah. Antara keduanya, ghibah dan fitnah, tentu tidak ada unsur
kebaikannya. Itulah sebabnya, Rasulullah melarang kita untuk
melakukannya. Wallahu a’lam bish-showab.
Kita berkeinginan membuka keburukan orang pada yang lain. Padahal,
kita sendiri tentu banyak kekurangannya. Boleh jadi hanya karena Allah
menutupi kekurangan kita saja, orang lain masih menganggap kita sebagai
pribadi yang baik. Tentu di setiap larangan ada juga pengecualiannya.
Kita diperkenankan untuk membuka aib orang lain, asal bertujuan untuk
mencegah terjadinya kemadharatan yang lebih besar. Itu pun harus tetap
memperhatikan banyak hal. Wallahu a’lam.
Posting Komentar