Latest Movie :
Recent Movies

Gus Dur di Surga

Perspektif Online
26 September 2011

Surat untuk Gus Dur di Surga

Dari saya untuk yang mulia Presiden Abdurrahman Wahid

Indonesia negeri Amuk.. Makanya kosa kata itulah yang kita sumbangkan bagi perbendaharaan kosa kata bahasa Inggris (Amuck).

Jadi Amuk adalah persembahan Indonesia bagi dunia, selain orang utan tentunya. Sedih ya, kalau ternyata kelakuan kita juga sama mencerminkannya dengan kosa kata yang sudah kita sumbangkan bagi kamus bahasa internasional itu (mungkin biar terlihat konsisten)

Dulu ketika jaman Presiden Gus Dur kita bisa bangga sebagai bangsa yang kalau boleh dibilang berhasil mengekspor ide demokrasi dan pluralisme ke dunia internasional.

Perjalanan Gus Dur keliling dunia secara jelas menyisipkan pesan itu di setiap pertemuannya dengan kepala negara atau wakil civil society disana. Bisa kita tanya saksi - saksi yang masih hidup dan ikut perjalanan Presiden Wahid. Bahwa pada masa itu kita bisa keluar negeri dengan kepala tegak karena kita bisa berkata bahwa: kami negara demokrasi, kebebasan agama warga negara dijamin secara penuh oleh pemerintah, keberagaman adalah kekuatan kami bukan justru jadi kelemahan, orang tidak perlu sembunyi2 untuk baca buku Marxisme karangan Romo Magnis, Orang Tiong Hoa bisa bebas mengekspresikan kebudayaannya tanpa harus ganti nama memakai nama yg sok Indonesia dll.

Memang Presiden Wahid tidak bisa menghentikan konflik horizontal seperti yg terjadi Aceh , Ambon dan Sampit secara cepat. Tapi ketika itu masyarakat mungkin bisa tenang karena percaya bahwa pemerintah yg berkuasa adalah pemerintah yg cinta akan pluralisme dan bersedia all out untuk merawat dan melindungi keberagaman Indonesia.

Gus Dur bukan Presiden yg hanya cuma bisa bilang prihatin ketika kekerasan atas nama agama sedang terjadi. Kita juga tidak akan menemukan seorang Menteri Agama yang dengan mudah menilai akidah warga negaranya dengan kata SESAT seperti yg dilakukan Surya Dharma Ali. Sekarang, Menteri Agama yg harusnya menjadi payung semua agama dan kepercayaan malah kerap membuat pernyataan provokasi yg dengan enteng mengatakan yg ini SESAT, yg itu KAFIR. Lain halnya dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) yg dari dulu memang diisi orang2 (maaf) sinting yang anti pluralisme. Bagi mereka selain daging babi, Pluralisme juga barang yang HARAM.

Sekarang orang mengamuk karena membela Tuhan. Bagi saya apa yg mereka lakukan justru bentuk penghinaan terhadap Tuhan itu sendiri. Tuhan itu kan sesuatu yg absolut dan sempurna. Memang siapa kita, mau berkorban untuk membela – bela Tuhan yg jelas-jelas semua percaya sebagai zat yg paling sempurna. Gus Dur dengan tegas pernah mengatakan bahwa Tuhan TIDAK perlu dibela, karena Dialah yang maha sempurna.

Huff, kita rindu Gus Dur.. Saya beruntung pernah berinteraksi dengannya secara dekat, meskipun jauh dari kata sering.

Gus, maafkan para pemimpin dan sebagian masyarakat kita yang tetap enggan menjalankan apa yang Gus cita – citakan dan perjuangkan selama ini. Mungkin mereka tidak tahu atau bahkan tidak mau.

Gus, kalau sempat tolong bujuk Tuhan agar mau terus memberikan berkat dan kasih bagi seluruh warga bangsa kita siapapun dia, apapun agamanya, kepercayaannya,status sosial ekonominya, bahasanya, dan warna kulitnya..

Semoga Gus tenang di alam sana.

 

 

oleh: Didiet Budi Adiputro

Dari saya untuk Yang Mulia Presiden Abdurrahman Wahid

 

http://farm3.static.flickr.com/2096/2513740132_5fdb7212b5.jpg

Melda Wita, Clara Lila, WW, Didiet Budi Adiputro (2008)

 

Indonesia negeri Amuk.. Makanya kosa kata itulah yang kita sumbangkan bagi perbendaharaan kosa kata bahasa Inggris (Amuck).

Jadi Amuk adalah persembahan Indonesia bagi dunia, selain orang utan tentunya. Sedih ya, kalau ternyata kelakuan kita juga sama mencerminkannya dengan kosa kata yang sudah kita sumbangkan bagi kamus bahasa internasional itu (mungkin biar terlihat konsisten)

Dulu ketika jaman Presiden Gus Dur kita bisa bangga sebagai bangsa yang kalau boleh dibilang berhasil mengekspor ide demokrasi dan pluralisme ke dunia internasional.

Perjalanan Gus Dur keliling dunia secara jelas menyisipkan pesan itu di setiap pertemuannya dengan kepala negara atau wakil civil society disana. Bisa kita tanya saksi - saksi yang masih hidup dan ikut perjalanan Presiden Wahid. Bahwa pada masa itu kita bisa keluar negeri dengan kepala tegak karena kita bisa berkata bahwa: kami negara demokrasi, kebebasan agama warga negara dijamin secara penuh oleh pemerintah, keberagaman adalah kekuatan kami bukan justru jadi kelemahan, orang tidak perlu sembunyi2 untuk baca buku Marxisme karangan Romo Magnis, Orang Tiong Hoa bisa bebas mengekspresikan kebudayaannya tanpa harus ganti nama memakai nama yg sok Indonesia dll.

Memang Presiden Wahid tidak bisa menghentikan konflik horizontal seperti yg terjadi Aceh , Ambon dan Sampit secara cepat. Tapi ketika itu masyarakat mungkin bisa tenang karena percaya bahwa pemerintah yg berkuasa adalah pemerintah yg cinta akan pluralisme dan bersedia all out untuk merawat dan melindungi keberagaman Indonesia.

Gus Dur bukan Presiden yg hanya cuma bisa bilang prihatin ketika kekerasan atas nama agama sedang terjadi. Kita juga tidak akan menemukan seorang Menteri Agama yang dengan mudah menilai akidah warga negaranya dengan kata SESAT seperti yg dilakukan Surya Dharma Ali. Sekarang, Menteri Agama yg harusnya menjadi payung semua agama dan kepercayaan malah kerap membuat pernyataan provokasi yg dengan enteng mengatakan yg ini SESAT, yg itu KAFIR. Lain halnya dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) yg dari dulu memang diisi orang2 (maaf) sinting yang anti pluralisme. Bagi mereka selain daging babi, Pluralisme juga barang yang HARAM.

Sekarang orang mengamuk karena membela Tuhan. Bagi saya apa yg mereka lakukan justru bentuk penghinaan terhadap Tuhan itu sendiri. Tuhan itu kan sesuatu yg absolut dan sempurna. Memang siapa kita, mau berkorban untuk membela – bela Tuhan yg jelas-jelas semua percaya sebagai zat yg paling sempurna. Gus Dur dengan tegas pernah mengatakan bahwa Tuhan TIDAK perlu dibela, karena Dialah yang maha sempurna.

Huff, kita rindu Gus Dur.. Saya beruntung pernah berinteraksi dengannya secara dekat, meskipun jauh dari kata sering.

Gus, maafkan para pemimpin dan sebagian masyarakat kita yang tetap enggan menjalankan apa yang Gus cita – citakan dan perjuangkan selama ini. Mungkin mereka tidak tahu atau bahkan tidak mau.

Gus, kalau sempat tolong bujuk Tuhan agar mau terus memberikan berkat dan kasih bagi seluruh warga bangsa kita siapapun dia, apapun agamanya, kepercayaannya,status sosial ekonominya, bahasanya, dan warna kulitnya.

Semoga Gus tenang di alam sana. 

http://adiputro.wordpress.com/2011/02/13/surat-untuk-gus-dur-di-surga/

 

 

 

Print article only

3 Comments:

1.    From Arie on 27 September 2011 00:25:53 WIB

Surat balasan Gus Dur;

anakku Didiet, dari dulu saya iri lihat rumput tetangga, bukan hanya tampak lebih hijau tapi lebih berwarna-warni. Saya akhirnya berpikir untuk buat taman pluralisme karena pekarangan saya luas dan karena banyaknya material yang saya pikir beberapa sudah ada. Cuma saya kurang waktu untuk berbagi ilmu, bahwa ada tanaman2 yang perlu pemeliharaan khusus, ada yang tidak tahan bakteri & hama. Sering juga rumput2 liar bikin pekerjaan jadi lebih rumit karena akar mereka kadang2 tertanam dalam bersama dengan akar dengan tanaman hias, akhirnya tanaman hiasnya jadi mati. Akhirnya saya belajar bahwa kebun pluralisme itu sangat susah untuk dipelihara, dan sadar kalau pengganti saya tidak punya kecintaan, waktu, dana & pengetahuan yang super khusus untuk memlihara taman ini, terutama tahu sifat2 tanaman dan hama2nya, maka hal ini akan memberatkan mereka. Saya terlalu bermimpi indah karena melihat luas pekarangan saya, padahal mungkin lebih produktif kalo pekarangan ini saya jadikan apotek hidup, tidak terlalu indah tapi isinya tanaman2 yang bermanfaat dan tetap memperindah rumah. Kalau sekarang Didiet dan teman2 yang masih hidup kerepotan memelihara taman ini, kenapa ngga dirubah dan dialih fungsikan jadi apotik hidup. Tinggal Didiet pilih & tentukan mana tanaman2 yang baik, tidak berwarna warni pun tidak mengapa. dulu mimpi saya mengenai taman pluralisme hanya sebatas pada keindahan, tapi sekarang saya disurga, tahu sendiri pemiliknya siapa? penghuninya memang berbeda jenis tapi satu keyakinan, saya jadi tahu, Pluralisme Tuhan dengan saya berbeda, Pluralisme Tuhan itu berangkat dari satu cahaya lurus yang Satu, Tunggal, lalu terpantul & menjadi berbeda-beda biasnya, tapi saatnya bias itu di diproses terbalik, jika tidak kembali pada cahaya yang lurus dia ternoda dan tidak ada tempat di Surga. Maka anakku Didiet, untuk memelihara apotik hidup, ujilah bias2 warna (tanaman itu) apakah mereka lurus, bila lurus peliharalah di pekaranganmu, apotik hidup itu hanya untuk tanaman2 yang sudah nyata jelas manfaatnya, dan di Surga, teman2 saya adalah mereka yang menjadi obat bagi sesama mereka dan nyata2 bermanfaat.

Kamu tumben menyurati, ada bom lagi ya..., baru kena hama sekali saja sudah gelisah, saya dulu hamanya seabrek2 biasa saja tuh. Tapi ya kalau mau indah taman pluralisme, main saja ke tetangga, yang emang pada pinter & kebanyakan uang, jadi udah layak punya taman, tapi paling usia tamannya sebentar, ntar juga ga keurus lagi (katanya eropa amerika mulai kacau ya..), apalagi denger TEA party yang jelas2 KKK rasis itu. Untuk rumah saya, bikin saja apotik hidup, pilih2 bermanfaat & murah pemeliharaan, kalo ga bermanfaat buang saja.



salam,
Gus Dur.

2.    From Sunu Guanrto on 27 September 2011 20:23:59 WIB

Asyik ya, membaca dialog imajinatif. Bermanfaat untuk mawas diri / introspeksi.

3.    From Muhammad Ramdhan on 26 January 2012 22:17:11 WIB

Luar biasa... hanya orang2 yang di anugrahi kecerdasan yang bisa "ngobrol" dengan beliau... tapi kata2 " MUI (Majelis Ulama Indonesia) yg dari dulu memang diisi orang2 (maaf) sinting yang anti pluralisme" kayaknya bisa diperindah lagi, bagaimanapun tugas Ulama adalah menyampaikan kebenaran walaupun pahit, walaupun banyak yang ga nurut, walaupun anda ga setuju, tapi minimal para Ulama sudah menyampaikan tugasnya dan ga dituntut oleh Tuhan karna tidak menyampaikan kebenaran..... So far... lanjut gan.... tetap semangat...

 

 

 

 

hezz


Tentang Muhammadiyah, Ahmadiyah, Syiah, dan Salib

Komplek tempat saya tinggal mendadak anget, bukan karena musim hujan yang mendadak pergi tentunya, karena sampe sekarang ternyata hujan deras masih setia berkunjung tiap hari. Bukan pula efek pemanasan global, yang konon telah berhasil mencairkan sedikit demi sedikit salju di kedua ujung bumi. Bukan pula gesekan antar etnis atau antar agama yang berujung bakar-bakaran (kalo ini sih panas, bukan anget lagi).
Lha trus apa?
Penyebabnya adalah pendatang baru yang ngontrak bekas rumah Pak Gatho.
Kok?
Jadi ceritanya dulu ada tetangga saya namanya Pak Gatho, ngontrak sebuah rumah di komplek saya. Setelah genap dua tahun si pemilik rumah minta tarifnya naik, sekitar tiga atau empat juta lebih mahal dari tarif semula, Pak Gatho nawar, ndak ketemu harga yang pas, akhirnya beliau pindah. Dan beberapa hari yang lalu datanglah pengontrak baru yang katanya menghangatkan suasana itu, paling ndak itulah yang diceritakan Kang Noyo sama saya.
“Mosok kamu ndak liat Le, dia itu NGGANTENG!” Cetus Kang Noyo sambil agak bersungut-sungut.
Saya garuk-garuk kepala, ngganteng, trus di mana masalahnya? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/106.gif
“Wogh! Nanti kalo istri kamu jadi betah duduk-duduk di teras, trus sering bertegur sapa, trus kepincut, baru tau rasa kamu!” Kang Noyo makin misuh-misuh saat saya kurang begitu antusias menanggapi aduannya.
Hais! Mbuh! http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/76.gif
Ndak berapa lama kemudian warung Mbok Darmi makin rame dengan masuknya Pak Dadap, yang rumahnya di sebelah mushola.
“Ati-ati lho kamu sama orang baru yang ngontrak bekas rumahnya Pak Gatho.”
Welhah, apa saya yang kurang apdet berita ya? Sudah dua orang yang mengingatkan saya untuk mewaspadai si orang baru.
“Yang katanya ngganteng itu Pak?” Tanya saya.
Pak Dadap memandang saya dengan tatapan yang, menurut saya, bercampur antara judeg (bingung nyari padanan katanya dalam Bahasa Indonesia) dan kasihan. Seperti sampeyan kalo melihat orang melakukan hal yang sama persis berulang kali tapi mengharapkan hasil yang berbeda.
“Kamu itu homo opo piye? Kok ngomong masalah ngganteng! Dia itu Muhammadiyah!”
Uhuk! Saya keselek. Untung kopinya ndak tumpah.
“Memang kenapa tho Pak?” Tanya saya, asli bingung. Karena walaupun dari kecil dididik ala NU jekèk tapi saya ndak pernah merasa bermasalah dengan orang-orang non-NU.
“Lho, piye tho? Nanti kalo dia bilang ke orang-orang ndak boleh tahlilan piye? Trus ndak boleh sholawatan, nanti kalo taraweh mintanya 11 rokaat, sholat id-nya ngajak ke lapangan. Bisa rusak nanti kerukunan kampung kita!”
Haduh! Sudah cukup ini. Saya ini ke warung Mbok Darmi cuma pengen ngopi, menyesapi nuansa kedamaian yang akhir-akhir ini makin susah saya dapatkan. Mending saya pulang saja.
Di pos kamling deket rumah saya ketemu Lik Waru, yang langsung memaksa saya berhenti dan duduk di sebelahnya.
“Le, kamu sudah tau, tetangga kita yang baru itu katanya Ahmadiyah!”
Oalah, Gusti… http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/63.gif
Tetangga saya yang baru ini modelnya kayak apa tho ya? Kang Noyo bilang ngganteng, Pak Dadap bilang Muhammadiyah, yang barusan bilang Ahmadiyah.
“Kamu ati-ati Le, Ahmadiyah itu sesat lho! Nanti kalo dia mulai nyebar ajaran di sini bisa repot kita semua!”
“Nggih Lik, nanti kalo ketemu bapak-bapak yang lain saya omongkan.” Kata saya sambil pamitan, menghindari percakapan yang lebih provokatif.
Tapi nasib saya memang ndak begitu bagus hari ini, belum jauh meninggalkan pos kamling saya liat Pak Darmo, mantan RW, melambaikan tangan memanggil saya.
“Mas, saya dengar-dengar, orang baru yang ngontrak bekas rumahnya Pak Gatho itu Syiah ya?”
Masya Allah… http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/107.gif
Tobat tenan saya. Buru-buru saya pamitan dengan alasan ditunggu istri, mau nganter ke pasar.
Dan penderitaan saya belum berakhir, sampe rumah ternyata dikunci, istri saya sudah ke pasar. Dengan langkah gontai terpaksa saya mbalik lagi ke warung Mbok Darmi, yang sudah makin ramai, dan, saya yakin, topiknya masih belum berubah dari sejak saya pergi.
“Siapa yang bilang dia Muhammadiyah, dia itu salib!” Saya mendengar suara Pak Yono yang biasa tugas jaga malam di komplek.
“Walah, tambah gawat kalo gitu, nanti kalo nganu…” Suara bapak-bapak makin rame bersahutan.
“Nuwun sewu Pak…” Saya terpaksa ngomong agak kenceng, dan semua mata menoleh ke saya.
“Kalo pun benar misalnya pendatang baru itu Muhammadiyah, atau Ahmadiyah, atau Syiah, atau Kristen, kira-kira sampeyan akan mengikuti keyakinan dia atau ndak?”
“Kalo aku yo ndak, tapi yang lain gimana? Anak-anakku? Tetangga? Ndak lucu tho kalo nanti dia ternyata bagi-bagi sembako buat narik simpati, trus ngajak orang-orang ikut keyakinan dia. Opo kamu ndak panas?” Kang Noyo menanggapi dengan setengah emosi.
Saya mesem, “Sebenarnya malah lucu kalo sampe ada gara-gara sembako seorang tetangga sampeyan bisa berganti keyakinan.”
“Lho!”
“Jangan emosi Kang, mari berpikir yang sedikit jernih.”
Saya percaya bukan masalah intoleransi yang terjadi di sini, hanya masalah kurangnya rasa percaya diri yang bercampur egois tingkat tinggi.
Sampeyan takut anak-anak sampeyan akan goyah keimanan karena sampeyan ndak yakin sudah membekalinya dengan dasar-dasar akidah yang kuat. Sampeyan takut ada tetangga sampeyan yang bisa terbeli dengan paket sembako karena kenyataannya memang sampeyan ndak pernah peduli ada tetangga yang kurang makan.
Ada rasa egois berperan di sini, orang-orang di sekeliling sampeyan adalah teritori sampeyan, terserah apakah sampeyan mau menjaga mereka dengan sepenuh hati atau ndak. Tapi ndak ada, sekali lagi ndak ada seorangpun yang boleh menjamah mereka. Gejala awal yang mirip dengan cemburu buta, saat kurangnya rasa percaya diri membuat sampeyan merasa ndak aman, merasa tiap lelaki di sekitar pasangan sampeyan adalah ancaman.
“Diamput! Kakehan cocot!”
Mendadak ada yang memukul saya, saya terjengkang, gelap.
“Yah, bangun! Sudah siang! Buruan mandi, nanti terlambat!” Terdengar suara istri saya.
“Lho Kang Noyo mana? Tetangga barunya?” Saya masih sedikit gelagepan.
“Tetangga baru opo??”
Ealah, cuma mimpi tho?
Jiyan!




Waktu menunjukkan pukul 9 pagi saat Kuliah Umum Sesi VII di Sekretariat Wakil Presiden Indonesia dimulai. Dengan tema “Strategi Pemberantasan Korupsi di Indonesia: Kini dan Masa Datang”, acara ini menghadirkan Busyro Muqoddas dari Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dan Friedrik Galtung dari Making Integrity Work (TIRI) sebagai pembicara. Opening Speech dari Pejabat kantor Wakil Presiden mengingatkan, dalam membangun integritas manusia, ada empat pilar yang harus :  kejujuran, professionalisme, leadership, dan keteladanan. Membangun integritas manusia bisa dimulai dari skala yang paling kecil, yaitu keluarga.

http://farm8.staticflickr.com/7189/6988752603_eb4c337292.jpg

Menurut Busyro Muqoddas, korupsi belakangan ini  lebih sistemik, mengerikan dan brutal. Selain itu terlihat regenerasi melalui kaderisasi para koruptor . Koruptor menjadi makin muda akibat regenerisasi ini. Sampai kapan kita harus menghadapi kekecewaan akan banyaknya kasus korupsi? Dengan upaya sistematis, strategis, dan kontinu seperti apa 
Poin penting adalah tools atau alat. Tool terpenting untuk menghentikan korupsi adalah knowledge. Tanpa pengajaran yang jelas, masyarakat hanya bisa mengeluh atas korupsi yang merajalelas, tanpa mengetahui cara yang tepat untuk memberantas.
Korupsi memiliki rumus layaknya telepon genggam, CDMA. Corruption = Discretion + Monopoly -  Accountability. Yang dijarah koruptor adalah sektor publik, sehingga korupsi pasti sangat struktural.

KPK
Di tengah maraknya kasus korupsi yang terjadi, Indonesia memiliki KPK atau Komisi Pemberantas Korupsi sebagai lembaga khusus dan sementara. Hingga saat ini, berkat KPK sudah 210 perkara yang sudah sampai penuntutan. Semuanya berhasil mencapai vonis penangkapan. Satu-satunya yang pernah ditolak pengadilan adalah kasus Mochtar Muhammad yang kemudian dikoreksi oleh Mahkamah Agung sehingga akhirnya Mochtar dihukum juga. Dalam sektor minyak dan gas, KPK telah menemukan Rp 152 Trilyun yang disalah gunakan. Hal ini menggambarkan hasil pemberantasan korupsi yang terintegrasi.
Dengan staf 120 orang dan penyidik 96 orang, Indonesia sangat kekurangan tenaga untuk menyelidiki kasus korupsi bila kita bandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lain seperti Thailand, Singapura, dan Malaysia yang memiliki jauh lebih banyak penyidik korupsi untuk negaranya.   
KPK menjalankan asas kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, dan proporsionalistas. Untuk menjaga lima asas tersebut, KPK memiliki tujuh nilai yaitu integritas, profesionalisme, inovasi, religiusitas, transparansi, kepemimpinan, dan produktivitas.
Bagaimana KPK menyimpulkan cara tepat penanggulangan korupsi? Dikutip dari closing remarks Busyro Muqoddas, korupsi merupakan pemiskinan teratur terhadap rakyat. Oleh karena itu keluarga bersih, sederhana, dan sholeh merupakan pilar utama pencegah korupsi itu sendiri.
Seiring berjalannya kasus demi kasus yang diselesaikan oleh KPK, muncul anggapan masyarakat bahwa KPK kurang mem-blow up usaha-usaha preventif dalam menanggulangi korupsi.  Kini KPK berusaha memberikan pendidikan akan pentingnya menjauhi korupsi, tidak hanya memberantas, antara lain dengan memproduksi film ‘Kita vs Korupsi’ dengan produser Teten Masduki. KPK juga terus memperbaiki birokrasinya yang terkesan kurang approachable, agar masyarakat bisa lebih mudah melihat transparansi dari sistem kerja KPK.
From Anti-Corruption to Integrity Building
Friedrik Galtung menyatakan, pemberantasan korupsi berkaitan erat dengan pembangunan integritas baik dari manusia maupun organisasinya. Fase evolusi dari Anti Korupsi sendiri terdiri dari 4 fase, yaitu Breaking the Taboo, the Case for Reform, Setting International Standards, Enforcement and Implementation, serta Pro-Integrity Citizen leadership.
Menurut Friedrik Galtung, ada tiga hal yang harus dilakukan untuk membuat pemerintah dan masyarakat bekerja sama memberantas korupsi. Pertama adalah Mission, Code, dan Values. Suatu organisasi harus memiliki misi, kode, dan nilai-nilai yang jelas untuk membentuk sikap melawan korupsi dalam organisasinya. Poin kedua adalah leadership. Leadership, atau kepemimpinan, sangat penting untuk membuat masyarakat dan pemerintah bekerja sama memberantas korupsi dengan cara menaruh contoh yang tepat untuk berada di atas organisasi. Yang terakhir adalah grievance mechanism, atau mekanisme pengeluhan. Grievance mechanism sangat krusial karena mekanisme pengeluhan yang layak dan meyakinkan sangat dibutuhkan untuk menampung keluhan serta saran dari masyarakat.
Di Amerika Serikat, ada tools penting yang dapat dijadikan senjata memberantas korupsi, yaitu whistleblower. Ini membutuhkan tradisi yang kuat untuk menyukseskannya. Whistleblower tidak lain adalah orang yang melaporkan perlakuan dan ketetapan tidak layak dalam suatu organisasi (dalam hal ini khsusunya korupsi) dengan harapan dapat memberikan perubahan positif ke organisasi itu dan masyarakat luas.
Whistleblower sering kali dihukum di berbagai negara, namun bagaimanapun hal itu sangat efektif untuk memberantas korupsi dan harus dilakukan di luar pemerintahan. Dengan syarat, masyarakat yang melakukannya harus dilindungi. Sebagai contoh, terdapat website di India untuk melaporkan terjadinya penyuapan dengan perlindungan privacy nama pelapor dan pelaku penyuapannya, yaitu www.ipaidabribe.com
Dari sekian banyak cara mencegah dan menanggulangi korupsi, yang paling tidak efektif menurut TIRI adalah awareness raising atau peningkatan kesadaran di masyarakat. Kenapa? Karena proses peningkatan kesadaran sangat kompleks apalagi bila dimulai dari keluarga, kecuali mereka mengerti tools yang dibutuhkan dalam memberikan kesadaran tersebut.
Dikutip dari Mr. Friedrick Geltung, “when we want to approach integrity, it is not only about the opposite of corruption.” Menurut TIRI, dalam menciptakan integritas dibutuhkan akuntabilitas. Hal ini untuk memungkinkan para stakeholders untuk mengecek apakah suatu organisasi, baik pemerintahan maupun swasta, telah melakukan apa yang mereka janjikan untuk lakukan. Kompetensi juga sangat dibutuhkan dalam mencipatkan integritas, dengan cara menempatkan orang-orang yang tau apa yang mereka lakukan, dan terbaik di bidangnya. Etik juga menjadi pilar penting, sehingga suatu organisasi dapat memiliki core values yang layak. Terakhir, corruption control. TIRI menanmkan sikap anti korupsi dalam organisasinya untuk dijadikan contoh sebagai organisasi yang bersungguh-sungguh ingin memberantas korupsi.
Pembangunan integritas dapat menajdi solusi dari banyak persoalan, dengan cara melokalisasi solusi untuk masalah-masalah lokal. Memerangi korupsi tidaklah cukup. Para politisi perlu memiliki integritas untuk membasmi korupsi dari urutan paling atas hingga ke akar-akarnya. Kita sebagi masyarakat harus mempunyai pandangan jelas tentang apa kiat-kiat yang harus dilakukan serta bekerja sama dengan pihak pemerintah maupun swasta agar tercipta negara bebas pemiskinan terstruktur. 
Pertanyaan tidak terjawab
Acara berakhir dengan tanya jawab yang sebagian besar meliput hal-hal teknis. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak terjawab. ‘Bagaimana mengharapkan politik? Menurut anda apa yang bisa dilakukan,  jika kita tahu bahwa koruptor utama di negeri ini adalah seorang pemimpin partai politik besar, membangun hubungan ketergantungan dangan kekuasaan negara, dan dilindungi oleh media miliknya yang menyiarkan berita palsu?’

mencari sri


! Saya kerja ikut orang, sekali keluar gini ditarget harus pulang mbawa duit 250 ribu!”
Welhah, saya ini orangnya males ribut, tapi saya kan ndak punya duit mau diperas sama tukang pijet palsu ini. “Wis mbak, kalo sampeyan ndak mau terima yo wis, kita ke polisi saja”. Dia nggertak ya saya bales nggertak tho.
Si mbaknya ngomel-ngomel terus, “kalo sampeyan ndak mau maen ya ndak papa, saya pijet biasa saja, ongkosnya 100 ribu”. Akhirnya saya kasih 100 ribu, “wis, pulang sana, ndak usah pijet, cocotnya sampeyan ndak enak didengar!” *sumpah, seumur-umur saya baru sekali ini mengumpat orang dengan cocotnya*
Abis itu saya ke tempat resepsionis yang lebih mirip sama meja penjaga toilet umum, penjaga hotelnya nanya, “kenapa ndak jadi boss?”
Saya ngomel, “sampeyan ini ndak nggenah blas, tadi saya bilang apa? Saya nyari tukang pijet, bukan perek cewek yang omongannya ndak enak didengar ini!”
Setelah itu saya ngurung diri di kamar, keluar cuma sekali nanya arah kiblat, yang dijawab dengan muka heran penjaga hotelnya, “mau sholat boss…?”
Sampe akhirnya saya pamitan mau check out si penjaga masih ngomong, “sampeyan ini dicarikan gadis kok ndak mau tho boss”. Batin saya, “gundhulmu atos kuwi! harganya ndak cocok sama kualitasnya
Waktu di acara resepsi saya ceritakan peristiwa itu sama temen saya si Sugiman Partodikromo. Dia ngakak, “rasakno…


Saya seorang buruh pabrik, level jongos yang sampe sekarang cuma bisa nunut kerja sama orang. Status sudah menikah, dan sampe sekarang Alhamdulillah sudah dititipi sama Gusti Allah dua anak cowok yang cukup rusuh dan menggemaskan.
Blog ini saya gunakan sebagai pengabadian kilasan-kilasan ide, gagasan, wangsit, rasa anyel, mangkel, dan juga seneng, yang kadang mampir di kepala, supaya kilasan-kilasan itu ndak ilang percuma, walaupun saya juga sebenernya ragu, apakah kalo saya abadikan dalam bentuk tulisan akan jadi berguna.
Jangan berharap bakal ketemu tulisan tingkat tinggi di sini, harap maklum karena rata-rata cuma obrolan kelas warung kopi.
Karena tulisan di sini kebanyakan ndak mutu, sukur njeplak dan waton muni maka ndak tertutup kemungkinan ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dan ndak berkenan. Apabila itu yang terjadi harap sampeyan berbesar hati untuk menghubungi saya lewat alamat email kumparan[at]gmail[dot]com.
Sebagian tulisan saya juga ada di warung sebelah.

\

empur Beras

“Bulan ini Februari kan ya? Jadi cuma sampe tanggal 28?”
“Eh salah, ini kan tahun kabisat, jadi Februarinya sampe tanggal 29.”
“Yah, berarti cuma selisih sehari dari bulan biasa, gajian masih sepuluh hari lagi dong!” http://static.plurk.com/static/emoticons/platinum/startled.gif
Dialog imajiner yang berlarian kesana-kemari di otak saya menjelang tanggal tua begini. Padahal belum tanggal tua lho ya, baru menjelang.
“Yah, susu anaknya habis.” Kata istri saya.
Lho? Biasanya paling 4 kotak sebulan?
Wis tambah mumet saya, kok habisnya ndak pas awal bulan tho ya, kalo baru habis gajian kan duitnya masih banyak. *eh, piye tho iki?* http://static.plurk.com/static/emoticons/platinum/idiot.gif
“Berasnya juga habis.”
Mak! Modiyar tenan. Mbok habis itu jangan barengan. Dan lagi yang habis kok ya beras, mbok ya tinta pulpen atau pulsa gitu lho, yang bisa ditunda. http://static.plurk.com/static/emoticons/gold/doh.gif
Itung-itungan di kepala saya makin mbulet, inget kemaren sudah ngutang sama temen di pabrik buat ngisi amplop sumbangan. Jadi kira-kira berapa hari lagi saya bisa bertahan?
Dan ini adalah hari senin, hari di mana level kemalasan mencapai puncaknya. Hahaha! *ketawa stres* http://static.plurk.com/static/emoticons/platinum/silly_couple.gif
Sampe di terminal saya liat mbah-mbah pengemis langganan saya, di pintu keluar parkiran tempat saya tiap hari naruh motor sebelum melanjutkan perjalanan ke pabrik tempat mburuh yang ada di luar kota. Senyum sederhana dan ucapan assalamualaikum seperti biasanya.
Saya mbatin, “Waktu tanggal muda saja orang terbiasa ngasih sedekah sekedarnya, gimana kalo tanggal tua?”
Saya yang itungannya punya pekerjaan tetap dengan bayaran jelas saja merasa mumet di akhir bulan, gimana dengan si mbah?
Saya memang sedang membandingkan, tapi bukan untuk membuat saya merasa beruntung, karena saya masih tetap berpendapat bahwa bersyukur seharusnya tanpa pembanding. Saya hanya sedang berusaha berfikir logis, saat tanggal tua begini seharusnya sedekah kita lebih besar. Kita yang biasa cukup saja saat tanggal tua merasa kurang, gimana dengan yang sehari-harinya memang sudah kurang?
Saya merogoh saku, ada selembar duapuluhribu di antara lembar-lembar ribuan dan duit koinan.
“Alhamdulillah, bisa nempur beras.” Kata si mbah.
Ah, nempur beras, lama sekali saya ndak pernah dengar kata itu. Konon kata itu berangkat dari beratnya perjuangan hidup layaknya bertempur untuk bisa membeli beras.
Senyummu melegakan mbah, paling ndak untuk sementara, sampe saya teringat lagi bulan ini masih tersisa sepuluh hari. http://statics.plurk.com/13b15aa49358be8f47b58552401d7725.gif


dhe Dari Kampung Sebelah

Kang Noyo ngakak campur misuh-misuh waktu cerita sama saya kemaren sore di warung Mbok Darmi. Makan gorengan anget di waktu hujan lumayan deras, sambil ngopi bercampur ngrasani, sungguh pengisi waktu yang jauh dari bermutu, tapi menyenangkan.
Jadi ceritanya ada mbok-mbok di kampung nun agak jauh di sana, sebenarnya saya bingung antara nyebut beliau ini budhe-budhe atau mbok-mbok, yang jelas beliau ini perempuan, pernah sebentar jadi kepala desa menggantikan kepala desa sebelumnya yang dengan beberapa intrik berhasil digulingkan. Beberapa orang bilang kepala desa sebelumnya terlalu jujur, terlalu blak-blakan untuk jadi kepala desa. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/32.gif
“Biarpun cuma desa, adat berpolitik juga ada Le, harus pinter-pinter bermanis mulut kalopun mau nusuk dari belakang. Lha Pak Lurah yang dulu itu ndak peduli tabrak kanan kiri depan belakang, katanya gitu aja kok repot, akhirnya ndak lama tho jadi lurah.” Tutur Kang Noyo.
Seusai masa jabatan si mbokdhe ini mencoba mencalonkan diri jadi lurah, tapi sayang beliau kalah sama bekas anak buahnya, Pak Bambang, yang sebelumnya menjabat jadi jogoboyo, semacam petinggi hansip di desa. Dan konon sejak saat itu beliau bersumpah ndak mau menginjak balai desa lagi kecuali dia atau anak turunnya kembali menjadi lurah. http://statics.plurk.com/57c69f50e40a283dcd2e7b56fc191abe.gif
Setelah ndak lagi menjabat lurah beliau kembali ke kesibukan lamanya, menjadi ketua PMB, Persatuan Mbok-mbok Berdikari. Walaupun namanya sedikit kurang komersil tapi organisasi ini lumayan berpengaruh, salah satunya konon karena bapaknya si mbokdhe ini adalah seorang sesepuh yang dulu ikut mbabat alas mbuka kampung itu. Sesepuh yang sakti mandraguna, yang wibawanya ndak habis-habis, bahkan konon bisa diturunkan ke anak dan cucunya.http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/77.gif
Dengan bekal wibawa dari bapaknya tersebut PMB berhasil merekrut banyak orang, bukan cuma ibu-ibu malah. Ada banyak lelaki yang ikut dalam organisasi PMB, dan mereka juga bukan orang sembarangan, banyak diantaranya orang pinter yang akhirnya masuk dalam kepengurusan BPD, Badan Perwakilan Desa, semacam parlemen kecil-kecilan ala kampung. Walaupun kadang saya juga heran, kok ya betah orang-orang itu, lha wong tiap ada acara si mbokdhe ini ngomongnya ndak jauh dari soal bumbu dapur, arisan, kebaya, dan semacamnya.
Yang mbikin Kang Noyo ngakak campur misuh-misuh adalah saat kemaren dia ikut datang ke acara ulang tahun PMB, Persatuan Mbok-mbok Berdikari. Tentu bukan karena Kang Noyo adalah seorang simpatisan, seperti biasa Kang Noyo hanya mengincar makan dan rokok gratisan yang biasanya ada di tiap acara kampung.
Di acara itu sebenarnya ada beberapa petinggi desa yang diundang, misalnya Pak Jogoboyo, juga Pak Bayan, tapi mereka ndak bisa hadir karena konon harus menemani Pak Lurah dalam acara dinas. Walaupun informasi yang saya dengar mengatakan mereka ndak mau dateng karena takut bakal ditanya berapa harga cabe kriting dan bawang bombay, yang sudah jelas berada di luar tugas mereka. http://statics.plurk.com/13b15aa49358be8f47b58552401d7725.gif
“Sebetulnya kenapa, ya, enggak bisa hadir? Yang memilih Anda, kita juga. Pak Jogoboyo dan Pak Bayan, jangan lupa, Pak,” Kata si mbokdhe dalam sambutannya.
“Yo lucu wae Le, wong si mbokdhe ini diundang acara apapun di balai desa ndak pernah mau dateng kok, walaupun acara rakyat. Begitu ada yang dia undang ndak mau dateng kok ngambek.” Kata Kang Noyo.
Sedikit di luar dugaan, mbokdhe ndak hanya membahas bumbu dapur saja waktu ngasih sambutan, tapi juga menyinggung soal banyaknya politisi kita yang masuk penjara gara-gara korupsi.
“Paling gede sepanjang saya tahu, korupsi yang dilakukan biasanya kurang dari Rp 4 miliar. Bukannya mengecilkan, tapi kok murah banget sampai orang-orang mau masuk penjara,” ujar mbokdhe.
“Lha kok 4 miliar, wong cuma urusan duit ratusan ribu saja orang bisa sampe mbunuh kok.” Tutur Kang Noyo sengit.
Konon suaminya mbokdhe ini punya buanyak sekali kios bensin, yang jumlahnya makin banyak saat beliau menjabat sebagai lurah. Jadi mungkin urusan duit memang beliau kurang peka, lha wong ndak biasa kurang duit. Tapi ini cuma katanya lho ya… http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/114.gif
Dan mungkin untuk meninggikan posisi Persatuan Mbok-mbok Berdikari yang sejatinya ditujukan untuk kaum perempuan, beliau menunjukkan sebuah fakta, paling ndak menurut beliau ini fakta.
“Berdasarkan hasil survei, yang biasanya melakukan korupsi itu bapak-bapak,” kata mbokdhe. Hal ini konon berdasarkan riset yang dilakukan di Amerika Serikat.
“Laki-laki mencari dan perempuan menyimpan.” Tutur si mbokdhe.
Saya ndak begitu konsen sama ceritanya Kang Noyo yang makin lama makin ngelantur. Saya cuma berpikir pastilah bapaknya si mbokdhe ini orang yang sangat hebat, wong hanya dengan menjadi keturunannya saja bisa menarik begitu banyak pengikut, konon setelah mbokdhe ndak mau nyalon jadi lurah lagi anaknya yang akan meneruskan trah kepemimpinan.
“Mbah saya dulu lurah, Simbok saya pun lurah, tentunya saya juga bisa jadi lurah.” Kata anaknya yang kebetulan juga perempuan. http://statics.plurk.com/70722ab5756c3b89c86d85feab91725d.gif
“Trus sampeyan kok anyel banget sama mbokdhe kenapa tho Kang? Wong kenal juga ndak.” Tanya saya.
“Lha mau ndak anyel piye, dia itu ngomongnya ndak cerdas, ndak konsisten.” Kang Noyo bersungut-sungut.
“Ndak cerdas? Ndak konsisten…?”http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/106.gif
Kalo melihat cara sampeyan dengan nggragasnya ngambil rokok saya kesimpulannya cuma satu : sampeyan anyel karena waktu itu sampeyan ndak dapet rokok.


Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) resmi berbadan hukum. Keputusan itu tertuang dalam SK Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (SK: M.HH-09.AH.11.01 Tahun 2012), tertanggal 27 Maret 2012. Partai pendukung Sri Mulyani Indrawati sebagai calon presiden Indonesia 2014 ini siap untuk mengikuti proses verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi partai peserta pemilu. Saat ini, Partai SRI sudah memiliki kepengurusan di 33 provinsi, lengkap dengan kepengurusan sampai ke tingkat kecamatan.

Didirikan oleh sejumlah tokoh profesional dan intelektual pada tahun 2011 lalu, Partai SRI memfokuskan programnya pada upaya pemberantasan kemiskinan melalui program penghematan nasional. Politik yang bersih adalah target final Partai SRI. Dengan misi ini Partai SRI berikhtiar menyebarluaskan ide integritas ke seluruh negeri.

Dalam rangka memenuhi ketentuan KPU, Partai SRI sedang mendata anggota Partai di seluruh kabupaten se-Indonesia. Proses itu sudah mencapai tahap verifikasi internal partai, dan siap untuk diajukan ke KPU.

Sebagai Partai baru, Partai SRI mengajak masyarakat untuk terus percaya pada masa depan Indonesia yang lebih bermutu. Harapan itulah yang juga terus diucapkan Sri Mulyani Indrawati: “Jangan pernah berhenti mencintai Indonesia”.

Jakarta, 29 Maret 2012

   D.Taufan                                                                                            Yoshi Erlina
Ketua Umum                                                                                    Sekretaris Nasional
Print article only
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PANDAWA LIMA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger