hezz
Tentang Muhammadiyah, Ahmadiyah, Syiah, dan Salib
Komplek tempat saya tinggal mendadak anget, bukan
karena musim hujan yang mendadak pergi tentunya, karena sampe sekarang ternyata
hujan deras masih setia berkunjung tiap hari. Bukan pula efek pemanasan global,
yang konon telah berhasil mencairkan sedikit demi sedikit salju di kedua ujung
bumi. Bukan pula gesekan antar etnis atau antar agama yang berujung
bakar-bakaran (kalo ini sih panas, bukan anget lagi).
Lha trus apa?
Penyebabnya adalah pendatang baru yang ngontrak
bekas rumah Pak Gatho.
Kok?
Jadi ceritanya dulu ada tetangga saya namanya Pak
Gatho, ngontrak sebuah rumah di komplek saya. Setelah genap dua tahun si
pemilik rumah minta tarifnya naik, sekitar tiga atau empat juta lebih mahal
dari tarif semula, Pak Gatho nawar, ndak ketemu harga yang pas, akhirnya beliau
pindah. Dan beberapa hari yang lalu datanglah pengontrak baru yang katanya
menghangatkan suasana itu, paling ndak itulah yang diceritakan Kang Noyo sama
saya.
“Mosok kamu ndak liat Le, dia itu NGGANTENG!”
Cetus Kang Noyo sambil agak bersungut-sungut.
Saya garuk-garuk kepala, ngganteng, trus di mana
masalahnya? 
“Wogh! Nanti kalo istri kamu jadi betah
duduk-duduk di teras, trus sering bertegur sapa, trus kepincut, baru tau rasa
kamu!” Kang Noyo makin misuh-misuh saat saya kurang begitu antusias menanggapi
aduannya.
Hais! Mbuh! 
Ndak berapa lama kemudian warung Mbok Darmi makin
rame dengan masuknya Pak Dadap, yang rumahnya di sebelah mushola.
“Ati-ati lho kamu sama orang baru yang ngontrak
bekas rumahnya Pak Gatho.”
Welhah, apa saya yang kurang apdet berita ya?
Sudah dua orang yang mengingatkan saya untuk mewaspadai si orang baru.
“Yang katanya ngganteng itu Pak?” Tanya saya.
Pak Dadap memandang saya dengan tatapan yang,
menurut saya, bercampur antara judeg (bingung nyari padanan katanya dalam
Bahasa Indonesia) dan kasihan. Seperti sampeyan kalo melihat orang melakukan
hal yang sama persis berulang kali tapi mengharapkan hasil yang berbeda.
“Kamu itu homo opo piye? Kok ngomong masalah
ngganteng! Dia itu Muhammadiyah!”
Uhuk! Saya keselek. Untung kopinya ndak tumpah.
“Memang kenapa tho Pak?” Tanya saya, asli
bingung. Karena walaupun dari kecil dididik ala NU jekèk tapi saya ndak pernah
merasa bermasalah dengan orang-orang non-NU.
“Lho, piye tho? Nanti kalo dia bilang ke
orang-orang ndak boleh tahlilan piye? Trus ndak boleh sholawatan, nanti kalo
taraweh mintanya 11 rokaat, sholat id-nya ngajak ke lapangan. Bisa rusak nanti
kerukunan kampung kita!”
Haduh! Sudah cukup ini. Saya ini ke warung Mbok
Darmi cuma pengen ngopi, menyesapi nuansa kedamaian yang akhir-akhir ini makin
susah saya dapatkan. Mending saya pulang saja.
Di pos kamling deket rumah saya ketemu Lik Waru,
yang langsung memaksa saya berhenti dan duduk di sebelahnya.
“Le, kamu sudah tau, tetangga kita yang baru itu
katanya Ahmadiyah!”
Oalah, Gusti… 
Tetangga saya yang baru ini modelnya kayak apa
tho ya? Kang Noyo bilang ngganteng, Pak Dadap bilang Muhammadiyah, yang barusan
bilang Ahmadiyah.
“Kamu ati-ati Le, Ahmadiyah itu sesat lho! Nanti
kalo dia mulai nyebar ajaran di sini bisa repot kita semua!”
“Nggih Lik, nanti kalo ketemu bapak-bapak yang
lain saya omongkan.” Kata saya sambil pamitan, menghindari percakapan yang
lebih provokatif.
Tapi nasib saya memang ndak begitu bagus hari
ini, belum jauh meninggalkan pos kamling saya liat Pak Darmo, mantan RW,
melambaikan tangan memanggil saya.
“Mas, saya dengar-dengar, orang baru yang
ngontrak bekas rumahnya Pak Gatho itu Syiah ya?”
Masya Allah… 
Tobat tenan saya. Buru-buru saya pamitan dengan
alasan ditunggu istri, mau nganter ke pasar.
Dan penderitaan saya belum berakhir, sampe rumah
ternyata dikunci, istri saya sudah ke pasar. Dengan langkah gontai terpaksa
saya mbalik lagi ke warung Mbok Darmi, yang sudah makin ramai, dan, saya yakin,
topiknya masih belum berubah dari sejak saya pergi.
“Siapa yang bilang dia Muhammadiyah, dia itu
salib!” Saya mendengar suara Pak Yono yang biasa tugas jaga malam di komplek.
“Walah, tambah gawat kalo gitu, nanti kalo
nganu…” Suara bapak-bapak makin rame bersahutan.
“Nuwun sewu Pak…” Saya terpaksa ngomong agak
kenceng, dan semua mata menoleh ke saya.
“Kalo pun benar misalnya pendatang baru itu
Muhammadiyah, atau Ahmadiyah, atau Syiah, atau Kristen, kira-kira sampeyan akan
mengikuti keyakinan dia atau ndak?”
“Kalo aku yo ndak, tapi yang lain gimana?
Anak-anakku? Tetangga? Ndak lucu tho kalo nanti dia ternyata bagi-bagi sembako
buat narik simpati, trus ngajak orang-orang ikut keyakinan dia. Opo kamu ndak
panas?” Kang Noyo menanggapi dengan setengah emosi.
Saya mesem, “Sebenarnya malah lucu kalo sampe ada
gara-gara sembako seorang tetangga sampeyan bisa berganti keyakinan.”
“Lho!”
“Jangan emosi Kang, mari berpikir yang sedikit
jernih.”
Saya percaya bukan masalah intoleransi yang
terjadi di sini, hanya masalah kurangnya rasa percaya diri yang bercampur egois
tingkat tinggi.
Sampeyan takut anak-anak sampeyan akan goyah
keimanan karena sampeyan ndak yakin sudah membekalinya dengan dasar-dasar
akidah yang kuat. Sampeyan takut ada tetangga sampeyan yang bisa terbeli dengan
paket sembako karena kenyataannya memang sampeyan ndak pernah peduli ada
tetangga yang kurang makan.
Ada rasa egois berperan di sini, orang-orang di
sekeliling sampeyan adalah teritori sampeyan, terserah apakah sampeyan mau
menjaga mereka dengan sepenuh hati atau ndak. Tapi ndak ada, sekali lagi ndak
ada seorangpun yang boleh menjamah mereka. Gejala awal yang mirip dengan
cemburu buta, saat kurangnya rasa percaya diri membuat sampeyan merasa ndak
aman, merasa tiap lelaki di sekitar pasangan sampeyan adalah ancaman.
“Diamput! Kakehan cocot!”
Mendadak ada yang memukul saya, saya terjengkang,
gelap.
“Yah, bangun! Sudah siang! Buruan mandi, nanti
terlambat!” Terdengar suara istri saya.
“Lho Kang Noyo mana? Tetangga barunya?” Saya
masih sedikit gelagepan.
“Tetangga baru opo??”
Ealah, cuma mimpi tho?
Jiyan!
Waktu
menunjukkan pukul 9 pagi saat Kuliah Umum Sesi VII di Sekretariat Wakil
Presiden Indonesia dimulai. Dengan tema “Strategi Pemberantasan Korupsi di
Indonesia: Kini dan Masa Datang”, acara ini menghadirkan Busyro Muqoddas dari
Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dan Friedrik Galtung dari Making Integrity
Work (TIRI) sebagai pembicara.
Opening Speech dari Pejabat kantor Wakil Presiden mengingatkan, dalam membangun
integritas manusia, ada empat pilar yang harus : kejujuran, professionalisme, leadership, dan keteladanan. Membangun integritas manusia bisa dimulai dari
skala yang paling kecil, yaitu keluarga.

Menurut Busyro Muqoddas, korupsi belakangan ini lebih sistemik, mengerikan dan brutal. Selain
itu terlihat regenerasi melalui kaderisasi para koruptor . Koruptor menjadi makin
muda akibat regenerisasi ini. Sampai kapan kita harus menghadapi
kekecewaan akan banyaknya kasus korupsi? Dengan upaya sistematis, strategis,
dan kontinu seperti apa
Poin penting adalah tools atau alat. Tool terpenting untuk menghentikan korupsi adalah knowledge. Tanpa pengajaran yang jelas,
masyarakat hanya bisa mengeluh atas korupsi yang merajalelas, tanpa mengetahui
cara yang tepat untuk memberantas.
Korupsi
memiliki rumus layaknya telepon genggam, CDMA. Corruption = Discretion + Monopoly -
Accountability. Yang dijarah koruptor adalah sektor publik, sehingga korupsi pasti
sangat struktural.
KPK
Di
tengah maraknya kasus korupsi yang terjadi, Indonesia memiliki KPK atau Komisi
Pemberantas Korupsi sebagai lembaga
khusus dan sementara. Hingga saat ini, berkat KPK sudah 210 perkara yang
sudah sampai penuntutan. Semuanya
berhasil mencapai vonis penangkapan. Satu-satunya yang pernah ditolak
pengadilan adalah kasus Mochtar Muhammad yang kemudian dikoreksi oleh Mahkamah Agung sehingga akhirnya Mochtar
dihukum juga. Dalam sektor
minyak dan gas, KPK telah menemukan Rp 152 Trilyun
yang disalah gunakan. Hal ini menggambarkan hasil pemberantasan korupsi yang terintegrasi.
Dengan
staf 120 orang dan penyidik
96 orang, Indonesia sangat kekurangan tenaga untuk menyelidiki kasus korupsi
bila kita bandingkan dengan
negara-negara Asia Tenggara lain seperti Thailand, Singapura, dan Malaysia yang memiliki jauh
lebih banyak penyidik korupsi untuk negaranya.
KPK
menjalankan asas kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas,
kepentingan umum, dan proporsionalistas. Untuk menjaga lima asas tersebut, KPK memiliki tujuh nilai yaitu
integritas, profesionalisme, inovasi, religiusitas, transparansi, kepemimpinan,
dan produktivitas.
Bagaimana
KPK menyimpulkan cara tepat penanggulangan korupsi? Dikutip dari closing
remarks Busyro Muqoddas, korupsi merupakan pemiskinan teratur terhadap
rakyat. Oleh karena itu keluarga bersih, sederhana, dan sholeh
merupakan pilar utama pencegah korupsi itu sendiri.
Seiring
berjalannya kasus demi kasus yang diselesaikan oleh KPK, muncul anggapan
masyarakat bahwa KPK kurang mem-blow up usaha-usaha
preventif dalam menanggulangi korupsi. Kini KPK berusaha memberikan
pendidikan akan pentingnya menjauhi korupsi, tidak hanya memberantas, antara lain dengan memproduksi film ‘Kita vs Korupsi’ dengan produser Teten Masduki. KPK juga
terus memperbaiki birokrasinya yang terkesan kurang approachable,
agar masyarakat bisa lebih mudah melihat transparansi dari sistem
kerja KPK.
From Anti-Corruption to Integrity Building
Friedrik
Galtung menyatakan, pemberantasan
korupsi berkaitan erat dengan pembangunan integritas baik dari manusia maupun
organisasinya. Fase evolusi dari Anti Korupsi sendiri terdiri dari 4 fase,
yaitu Breaking the Taboo, the
Case for Reform, Setting International Standards, Enforcement and
Implementation, serta Pro-Integrity Citizen leadership.
Menurut
Friedrik Galtung, ada tiga hal yang harus dilakukan untuk membuat pemerintah
dan masyarakat bekerja sama memberantas korupsi. Pertama adalah Mission, Code, dan Values. Suatu organisasi harus
memiliki misi, kode, dan nilai-nilai yang jelas untuk membentuk sikap melawan
korupsi dalam organisasinya. Poin
kedua adalah leadership. Leadership, atau kepemimpinan, sangat penting untuk
membuat masyarakat dan pemerintah bekerja sama memberantas korupsi dengan cara
menaruh contoh yang tepat untuk berada di atas organisasi. Yang terakhir adalah
grievance mechanism, atau mekanisme pengeluhan. Grievance mechanism sangat
krusial karena mekanisme pengeluhan yang layak dan meyakinkan sangat dibutuhkan
untuk menampung keluhan serta saran dari masyarakat.
Di
Amerika Serikat, ada tools penting
yang dapat dijadikan senjata memberantas korupsi, yaitu whistleblower. Ini membutuhkan
tradisi yang kuat untuk menyukseskannya. Whistleblower tidak
lain adalah orang yang melaporkan perlakuan dan ketetapan tidak layak dalam
suatu organisasi (dalam hal ini khsusunya korupsi) dengan harapan dapat
memberikan perubahan positif ke organisasi itu dan masyarakat luas.
Whistleblower sering kali dihukum
di berbagai negara, namun bagaimanapun hal itu sangat efektif untuk memberantas
korupsi dan harus dilakukan di luar pemerintahan. Dengan syarat, masyarakat
yang melakukannya harus dilindungi. Sebagai contoh, terdapat website di India
untuk melaporkan terjadinya penyuapan dengan perlindungan privacy nama pelapor
dan pelaku penyuapannya, yaitu www.ipaidabribe.com
Dari
sekian banyak cara mencegah dan menanggulangi korupsi, yang paling tidak efektif menurut TIRI adalah awareness raising atau peningkatan kesadaran di
masyarakat. Kenapa? Karena proses peningkatan kesadaran sangat kompleks apalagi
bila dimulai dari keluarga, kecuali mereka mengerti tools
yang dibutuhkan dalam memberikan kesadaran tersebut.
Dikutip
dari Mr. Friedrick Geltung, “when we want to approach integrity, it is not only
about the opposite of corruption.” Menurut TIRI, dalam menciptakan integritas dibutuhkan
akuntabilitas. Hal ini untuk memungkinkan para stakeholders
untuk mengecek apakah suatu organisasi, baik pemerintahan maupun
swasta, telah melakukan apa yang mereka janjikan untuk lakukan. Kompetensi juga
sangat dibutuhkan dalam mencipatkan integritas, dengan cara menempatkan
orang-orang yang tau apa yang mereka lakukan, dan terbaik di bidangnya. Etik
juga menjadi pilar penting, sehingga suatu organisasi dapat memiliki core values yang layak. Terakhir, corruption control. TIRI menanmkan
sikap anti korupsi dalam organisasinya untuk dijadikan contoh sebagai
organisasi yang bersungguh-sungguh ingin memberantas korupsi.
Pembangunan
integritas dapat menajdi solusi dari banyak persoalan, dengan cara melokalisasi
solusi untuk masalah-masalah lokal. Memerangi korupsi tidaklah cukup. Para
politisi perlu memiliki integritas untuk membasmi korupsi dari urutan paling
atas hingga ke akar-akarnya. Kita sebagi masyarakat harus mempunyai pandangan
jelas tentang apa kiat-kiat yang harus dilakukan serta bekerja sama dengan
pihak pemerintah maupun swasta agar tercipta negara bebas pemiskinan
terstruktur.
Pertanyaan tidak terjawab
Acara
berakhir dengan tanya jawab yang sebagian besar meliput hal-hal teknis. Tapi
ada satu pertanyaan yang tidak terjawab. ‘Bagaimana mengharapkan
politik? Menurut anda apa yang bisa dilakukan,
jika kita tahu bahwa koruptor utama di negeri ini adalah seorang
pemimpin partai politik besar, membangun hubungan ketergantungan dangan
kekuasaan negara, dan dilindungi oleh media miliknya yang menyiarkan berita
palsu?’
mencari sri
! Saya kerja ikut orang, sekali keluar gini
ditarget harus pulang mbawa duit 250 ribu!”
Welhah, saya ini orangnya males ribut, tapi saya
kan ndak punya duit mau diperas sama tukang pijet palsu ini. “Wis mbak,
kalo sampeyan ndak mau terima yo wis, kita ke polisi saja”. Dia nggertak ya
saya bales nggertak tho.
Si mbaknya ngomel-ngomel terus, “kalo sampeyan
ndak mau maen ya ndak papa, saya pijet biasa saja, ongkosnya 100 ribu”.
Akhirnya saya kasih 100 ribu, “wis, pulang sana, ndak usah pijet, cocotnya
sampeyan ndak enak didengar!” *sumpah, seumur-umur saya baru sekali ini
mengumpat orang dengan cocotnya*
Abis itu saya ke tempat resepsionis yang lebih
mirip sama meja penjaga toilet umum, penjaga hotelnya nanya, “kenapa ndak jadi
boss?”
Saya ngomel, “sampeyan ini ndak nggenah blas,
tadi saya bilang apa? Saya nyari tukang pijet, bukan perek cewek yang
omongannya ndak enak didengar ini!”
Setelah itu saya ngurung diri di kamar, keluar
cuma sekali nanya arah kiblat, yang dijawab dengan muka heran penjaga hotelnya,
“mau sholat boss…?”
Sampe akhirnya saya pamitan mau check out si
penjaga masih ngomong, “sampeyan ini dicarikan gadis kok ndak mau tho boss”.
Batin saya, “gundhulmu atos kuwi! harganya ndak cocok sama kualitasnya“
Waktu di acara resepsi saya ceritakan peristiwa
itu sama temen saya si Sugiman
Partodikromo. Dia ngakak, “rasakno…
Saya seorang buruh pabrik, level jongos yang
sampe sekarang cuma bisa nunut kerja sama orang. Status sudah menikah, dan
sampe sekarang Alhamdulillah sudah dititipi sama Gusti Allah dua anak cowok
yang cukup rusuh dan menggemaskan.
Blog ini saya gunakan sebagai pengabadian
kilasan-kilasan ide, gagasan, wangsit, rasa anyel, mangkel, dan juga seneng,
yang kadang mampir di kepala, supaya kilasan-kilasan itu ndak ilang percuma,
walaupun saya juga sebenernya ragu, apakah kalo saya abadikan dalam bentuk
tulisan akan jadi berguna.
Jangan berharap
bakal ketemu tulisan tingkat tinggi di sini, harap maklum karena rata-rata cuma
obrolan kelas warung kopi.
Karena tulisan di
sini kebanyakan ndak mutu, sukur njeplak dan waton muni maka
ndak tertutup kemungkinan ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dan ndak
berkenan. Apabila itu yang terjadi harap sampeyan berbesar hati untuk
menghubungi saya lewat alamat email kumparan[at]gmail[dot]com.
Sebagian tulisan
saya juga ada di warung sebelah.
\
empur Beras
“Bulan ini Februari kan ya? Jadi cuma sampe
tanggal 28?”
“Eh salah, ini kan tahun kabisat, jadi
Februarinya sampe tanggal 29.”
“Yah, berarti cuma selisih sehari dari bulan
biasa, gajian masih sepuluh hari lagi dong!” 
Dialog imajiner yang berlarian kesana-kemari di
otak saya menjelang tanggal tua begini. Padahal belum tanggal tua lho ya, baru
menjelang.
“Yah, susu anaknya habis.” Kata istri saya.
Lho? Biasanya paling 4 kotak sebulan?
Wis tambah mumet saya, kok habisnya ndak pas awal
bulan tho ya, kalo baru habis gajian kan duitnya masih banyak. *eh, piye
tho iki?* 
“Berasnya juga habis.”
Mak! Modiyar tenan. Mbok habis itu jangan
barengan. Dan lagi yang habis kok ya beras, mbok ya tinta pulpen atau pulsa
gitu lho, yang bisa ditunda. 
Itung-itungan di kepala saya makin mbulet, inget
kemaren sudah ngutang sama temen di pabrik buat ngisi amplop sumbangan. Jadi
kira-kira berapa hari lagi saya bisa bertahan?
Dan ini adalah hari senin, hari di mana level
kemalasan mencapai puncaknya. Hahaha! *ketawa stres* 
Sampe di terminal saya liat mbah-mbah pengemis
langganan saya, di pintu keluar parkiran tempat saya tiap hari naruh motor
sebelum melanjutkan perjalanan ke pabrik tempat mburuh yang ada di luar kota.
Senyum sederhana dan ucapan assalamualaikum seperti biasanya.
Saya mbatin, “Waktu tanggal muda saja orang
terbiasa ngasih sedekah sekedarnya, gimana kalo tanggal tua?”
Saya yang itungannya punya pekerjaan tetap dengan
bayaran jelas saja merasa mumet di akhir bulan, gimana dengan si mbah?
Saya memang sedang membandingkan, tapi bukan
untuk membuat saya merasa beruntung, karena saya masih tetap berpendapat bahwa bersyukur seharusnya tanpa pembanding. Saya
hanya sedang berusaha berfikir logis, saat tanggal tua begini seharusnya
sedekah kita lebih besar. Kita yang biasa cukup saja saat tanggal tua merasa
kurang, gimana dengan yang sehari-harinya memang sudah kurang?
Saya merogoh saku, ada selembar duapuluhribu di
antara lembar-lembar ribuan dan duit koinan.
“Alhamdulillah, bisa nempur beras.” Kata si mbah.
Ah, nempur beras, lama sekali saya ndak pernah
dengar kata itu. Konon kata itu berangkat dari beratnya perjuangan hidup
layaknya bertempur untuk bisa membeli beras.
Senyummu melegakan mbah, paling ndak untuk
sementara, sampe saya teringat lagi bulan ini masih tersisa sepuluh hari. 
dhe Dari Kampung Sebelah
Kang Noyo ngakak campur misuh-misuh waktu cerita
sama saya kemaren sore di warung Mbok Darmi. Makan gorengan anget di waktu
hujan lumayan deras, sambil ngopi bercampur ngrasani, sungguh pengisi waktu
yang jauh dari bermutu, tapi menyenangkan.
Jadi ceritanya ada mbok-mbok di kampung nun agak
jauh di sana, sebenarnya saya bingung antara nyebut beliau ini budhe-budhe atau
mbok-mbok, yang jelas beliau ini perempuan, pernah sebentar jadi kepala desa
menggantikan kepala desa sebelumnya yang dengan beberapa intrik berhasil
digulingkan. Beberapa orang bilang kepala desa sebelumnya terlalu jujur,
terlalu blak-blakan untuk jadi kepala desa. 
“Biarpun cuma desa, adat berpolitik juga ada Le,
harus pinter-pinter bermanis mulut kalopun mau nusuk dari belakang. Lha Pak
Lurah yang dulu itu ndak peduli tabrak kanan kiri depan belakang, katanya gitu
aja kok repot, akhirnya ndak lama tho jadi lurah.” Tutur Kang Noyo.
Seusai masa jabatan si mbokdhe ini mencoba
mencalonkan diri jadi lurah, tapi sayang beliau kalah sama bekas anak buahnya,
Pak Bambang, yang sebelumnya menjabat jadi jogoboyo, semacam petinggi hansip di
desa. Dan konon sejak saat itu beliau bersumpah ndak mau menginjak balai desa
lagi kecuali dia atau anak turunnya kembali menjadi lurah. 
Setelah ndak lagi menjabat lurah beliau kembali
ke kesibukan lamanya, menjadi ketua PMB, Persatuan Mbok-mbok Berdikari.
Walaupun namanya sedikit kurang komersil tapi organisasi ini lumayan
berpengaruh, salah satunya konon karena bapaknya si mbokdhe ini adalah seorang
sesepuh yang dulu ikut mbabat alas mbuka kampung itu. Sesepuh yang sakti
mandraguna, yang wibawanya ndak habis-habis, bahkan konon bisa diturunkan ke
anak dan cucunya.
Dengan bekal wibawa dari bapaknya tersebut PMB
berhasil merekrut banyak orang, bukan cuma ibu-ibu malah. Ada banyak lelaki
yang ikut dalam organisasi PMB, dan mereka juga bukan orang sembarangan, banyak
diantaranya orang pinter yang akhirnya masuk dalam kepengurusan BPD, Badan
Perwakilan Desa, semacam parlemen kecil-kecilan ala kampung. Walaupun kadang
saya juga heran, kok ya betah orang-orang itu, lha wong tiap ada acara si
mbokdhe ini ngomongnya ndak jauh dari soal bumbu dapur, arisan, kebaya, dan
semacamnya.
Yang mbikin Kang Noyo ngakak campur misuh-misuh
adalah saat kemaren dia ikut datang ke acara ulang tahun PMB, Persatuan
Mbok-mbok Berdikari. Tentu bukan karena Kang Noyo adalah seorang simpatisan,
seperti biasa Kang Noyo hanya mengincar makan dan rokok gratisan yang biasanya
ada di tiap acara kampung.
Di acara itu sebenarnya ada beberapa petinggi
desa yang diundang, misalnya Pak Jogoboyo, juga Pak Bayan, tapi mereka ndak
bisa hadir karena konon harus menemani Pak Lurah dalam acara dinas. Walaupun
informasi yang saya dengar mengatakan mereka ndak mau dateng karena takut bakal
ditanya berapa harga cabe kriting dan bawang bombay, yang sudah jelas berada di
luar tugas mereka. 
“Sebetulnya kenapa, ya, enggak bisa hadir? Yang
memilih Anda, kita juga. Pak Jogoboyo dan Pak Bayan, jangan lupa, Pak,” Kata si
mbokdhe dalam sambutannya.
“Yo lucu wae Le, wong si mbokdhe ini diundang
acara apapun di balai desa ndak pernah mau dateng kok, walaupun acara rakyat.
Begitu ada yang dia undang ndak mau dateng kok ngambek.” Kata Kang Noyo.
Sedikit di luar dugaan, mbokdhe ndak hanya
membahas bumbu dapur saja waktu ngasih sambutan, tapi juga menyinggung soal
banyaknya politisi kita yang masuk penjara gara-gara korupsi.
“Paling gede sepanjang saya tahu, korupsi yang
dilakukan biasanya kurang dari Rp 4 miliar. Bukannya mengecilkan, tapi kok
murah banget sampai orang-orang mau masuk penjara,” ujar mbokdhe.
“Lha kok 4 miliar, wong cuma urusan duit ratusan
ribu saja orang bisa sampe mbunuh kok.” Tutur Kang Noyo sengit.
Konon suaminya mbokdhe ini punya buanyak sekali
kios bensin, yang jumlahnya makin banyak saat beliau menjabat sebagai lurah.
Jadi mungkin urusan duit memang beliau kurang peka, lha wong ndak biasa kurang
duit. Tapi ini cuma katanya lho ya… 
Dan mungkin untuk meninggikan posisi Persatuan
Mbok-mbok Berdikari yang sejatinya ditujukan untuk kaum perempuan, beliau
menunjukkan sebuah fakta, paling ndak menurut beliau ini fakta.
“Berdasarkan hasil survei, yang biasanya
melakukan korupsi itu bapak-bapak,” kata mbokdhe. Hal ini konon berdasarkan
riset yang dilakukan di Amerika Serikat.
“Laki-laki mencari dan perempuan menyimpan.”
Tutur si mbokdhe.
Saya ndak begitu konsen sama ceritanya Kang Noyo
yang makin lama makin ngelantur. Saya cuma berpikir pastilah bapaknya si
mbokdhe ini orang yang sangat hebat, wong hanya dengan menjadi keturunannya
saja bisa menarik begitu banyak pengikut, konon setelah mbokdhe ndak mau nyalon
jadi lurah lagi anaknya yang akan meneruskan trah kepemimpinan.
“Mbah saya dulu lurah, Simbok saya pun lurah,
tentunya saya juga bisa jadi lurah.” Kata anaknya yang kebetulan juga
perempuan. 
“Trus sampeyan kok anyel banget sama mbokdhe
kenapa tho Kang? Wong kenal juga ndak.” Tanya saya.
“Lha mau ndak anyel piye, dia itu ngomongnya ndak
cerdas, ndak konsisten.” Kang Noyo bersungut-sungut.
“Ndak cerdas? Ndak konsisten…?”
Kalo melihat cara sampeyan dengan nggragasnya
ngambil rokok saya kesimpulannya cuma satu : sampeyan anyel karena waktu itu
sampeyan ndak dapet rokok.
Didirikan oleh sejumlah tokoh profesional dan intelektual pada tahun 2011 lalu, Partai SRI memfokuskan programnya pada upaya pemberantasan kemiskinan melalui program penghematan nasional. Politik yang bersih adalah target final Partai SRI. Dengan misi ini Partai SRI berikhtiar menyebarluaskan ide integritas ke seluruh negeri.
Dalam rangka memenuhi ketentuan KPU, Partai SRI sedang mendata anggota Partai di seluruh kabupaten se-Indonesia. Proses itu sudah mencapai tahap verifikasi internal partai, dan siap untuk diajukan ke KPU.
Sebagai Partai baru, Partai SRI mengajak masyarakat untuk terus percaya pada masa depan Indonesia yang lebih bermutu. Harapan itulah yang juga terus diucapkan Sri Mulyani Indrawati: “Jangan pernah berhenti mencintai Indonesia”.
Jakarta, 29 Maret 2012
D.Taufan Yoshi Erlina
Ketua Umum Sekretaris Nasional
Print article only
